Tempat-Tempat Populer di Jakarta Utara Dulu

0
1661
Kramat Tunggak, tempat yang terkenal sebagai daerah lokalisasi pelacuran

Jika bicara Jakarta Utara maka tempat-tempat ini dianggap identik dengan kawasan itu. Semacam penanda bahwa kalau ke Jakarta Utara merasakan pengalaman menjelajahinya.

Di kawasan Jakarta Utara dalam perkembangan yang panjang telah terbentuk berbagai tempat khusus, yang kemudian menjadi populer. Beberapa tempat itu secara tidak langsung telah membentuk identitas dan asosiasi kepada masyarakatnya sampai dengan sekarang. Ada sebagian tempat yang masih bertahan dengan indentitasnya, tetapi banyak pula yang telah pudar dan hanya tinggal kenangan saja.

Berikut akan diungkapkan secara singkat tempat-tempat yang menjadi penanda zaman dan langsung berasosiasi kepada masyarakat yang pernah mendengar dan melihatnya. Tempat-tempat tersebut tersebar di berbagai wilayah Jakarta Utara.

Pasar Uler, entah siapa yang memberikan nama dan kapan berdirinya tidak diketahui. Awalnya pasar tersebut terkenal sebagai pasar yang menyediakan berbagai barang bawaan dari anak kapal yang singgah di Tanjung Priok.

Di pasar tersebut dulu dijual jam tangan, korek api gas, dompet kulit bermerek, ikat pinggang bermerek, sepatu, baju, jaket dan umumnya kebutuhan pria, yang pada 1970-an masih sulit didapat di toko. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan berbagai barang elektronik dan rumah tangga. Walaupun jauh letaknya, tetapi banyak orang yang memburu ke sana untuk mendapatkan barang yang unik.

Akan tetapi dalam perkembangan kemudian barang yang dijual juga banyak didapatkan di berbagai toko, bahkan dijajakan juga di emperan dan kaki lima. Setelah itu, Pasar Uler menjadi berkurang pamornya. Ketika tulisan ini dibuat, Pasar tersebut sedang direnovasi dan para pedagangnya sedang direlokasi.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia
  2. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  3. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran

Kramat Tunggak, terkenal sebagai lokalisasi pelacuran. Dulunya memang ada tunggak atau batas dari zaman Kerajaan Pajajaran. Tunggak itu kemudian dianggap dan dijadikan kramat oleh masyarakat setempat. Lokalisasi pelacuran ini dibangun pada zaman Bang Ali.

Tujuannya agar para pelacur tidak berkeliaran sembarangan dan menyebarkan penyakit kepada para hidung belang. Pada 1996, lokalisasi ini ditutup dan di tempatnya dibangun mesjid besar dan pesantren.

Ancol mempunyai asosiasi dengan Bina Ria. Asosiasi tambahan dari Bina Ria adalah tempat indehoy atau bersedap syahwat. Bina Ria dulu pernah dijadikan judul lagu yang dinyanyikan oleh Roma Irama. Lagu itu kemudian menjadi terkenal. Sekarang terkenal karena ada Taman Impian Jaya Ancol yang menyediakan berbagai hiburan permainan.

Sampur, tempat pelesiran sejak zaman normal yang terletak di daerah Cilincing. Setelah dibangunnya Taman Impian Jaya Ancol dengan berbagai fasilitas hiburannya, Sampur kemudian meredup. Ada juga Plumpang, wilayah yang dijadikan terminal penyimpanan bahan bakar dengan segala jenisnya oleh Pertamina.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 47-48

Tugu, suatu wilayah yang dihuni oleh beberapa komunitas keturunan Portugis. Nama Tugu juga mempunyai asosiasi dengan musik keroncong. Sebab sebagian komunitas itu memainkan musik keroncong dengan langgam irama yang khas mereka.

Pasar Ikan. Dulu selain ke Sampur, orang Jakarta pergi tamasya ke Pasar Ikan. Di sana selain membeli ikan, orang akan melihat akuarium besar yang berisi berbagai ikan laut. Di Pasar Ikan juga ada tempat yang populer, yakni Masjid Luar Batang dan makam seorang habib.

Volker, tempat yang berada di sepanjang jalan Ancol dari ujung Pelabuhan Tanjung Priok sampai pertigaan Jalan ke Pademangan. Wilayah Volker adalah sepanjang rel kereta api dari mulai stasiun Tanjung Priok sampai wilayah Pademangan.

Di sepanjang rel itu dulu banyak gerbong kereta barang PJKA yang nongkrong. Karena lama tidak dijalankan, akhirnya gerbong itu dimanfaatkan oleh pengemis, pelacur dan warga lainnya, termasuk pencoleng. Di sepanjang jalan itu juga dulu ditumbuhi pohon.

Konon sebelum ada pembangunan Ancol, di pinggir jalan itu sering muncul monyet, lalu monyet itu dikenal dengan sebutan monyet ancol.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 47-48. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505