Betulkah Betawi dari Mambet Tai atau Bau Tai?

0
1626
Benteng Hollandia

Menurut laporan tentara Belanda dari bastion atau kubu pertahanan selatan yang bernama Hollandia di Batavia yang bernama David Pieters De Vries, butuh 30 kali tembakan untuk menumbangkan seorang prajurit Mataram. Kekuatan supranatural yang dimiliki prajurit-prajurit Mataram konon menjadikan mereka memiliki tubuh yang kebal peluru. Hal ini membuat segelintir tentara Belanda yang bertahan di Bastion Hollandia kehabisan amunisi, hingga melahirkan ide dari seorang sersan Belanda berdarah Jerman bernama Hans Madelijn untuk menjadikan tinja sebagai pengganti amunisi.

Baca Juga:

  1. Pal Merah dari Tonggak Kayu Merah
  2. Kampung Melayu Tanah Wan Abdul Bagus
  3. Tempat-Tempat yang Diingat di Jakarta Pusat Dulu

Kisah epik dari perjuangan tentara Belanda mempertahankan Bastion Hollandia dicatat oleh seorang pelancong Belanda berdarah Jerman bernama Joan Nieuhoff (1618-1672) dalam buku berbahasa Jerman yang diterjemahkan dari bahasa Belanda berjudul Die Gesantschaft Der Ost Indischen Geselschaft in Den Vereinighten Niederlandern An Tartarischen Cham. Sebuah buku yang kalimatnya ditulis dengan kata-kata Melayu yang telah menjadi lingua franca saat itu:

“O seytang Orang Hollanda de bakkalay sammatay” // “O setan orang Belanda berkelahi sama tahi” (hal. 36).

Dari kisah ini memunculkan asal usul nama Betawi yang konon berasal dari kata “mbetai” penyebutan singkat untuk kata “mambet tai”, yang dalam bahasa Jawa berarti bau tahi. Meski cerita ini juga dicatat dalam sumber sejarah lokal seperti Babad Tanah Jawa dan Babad Dipanegara dan juga pernah ada di peta hingga abad 19 sebuah nama Kampung atau Gang Tahi di bekas berdirinya Bastion Hollandia (Peta Nieuhoff), namun asal usul nama Betawi ini kalau meminjam istilah bahasa Jawa disebut sebagai jarwa dhosok (kirata basa) yang jauh dari logika sejarah, atau dalam ungkapan Belanda dikenal dengan “Iets uit zijn duim zuigen” (isapan jempol belaka).

Sebelum peristiwa epik Bastion Hollandia, Betawi sebagai nama sebuah tempat sudah disebut dalam tradisi lisan Cirebon berupa tembang syair perang. Menurut Mukhtar Zaidin, filolog naskah kuno Cirebon, syair perang ini mulai muncul dan dilantunkan saat prajurit-prajurit Kesultanan Cirebon yang tergabung dalam pasukan Mataram saat akan berangkat ke medan perang di Batavia pada penyerbuan di tahun 1628. Syair perang ini diciptakan untuk memompa semangat perang para prajurit, diilhami dari naskah Carub Kandha yang menceritakan kiprah Ki Gedeng Bungko, Panglima Sarwajala (Angkatan Laut Cirebon) dalam pertempuran Sunda Kalapa di satu abad sebelumnya hingga tembang syair perang ini menjadi bagian dari kesenian Angklung Bungko, sebuah kesenian berusia lebih dari tiga abad yang masih lestari hingga saat ini.

Syair perang itu berbunyi:

Pring ketupruk-tupruk // batang bambu ketupruk-tupruk (bunyi bambu yang saling berbenturan)

Bubung isi merang // bubung (tabung bambu) isi merang

Cilik diepuk-epuk // kecil diempok-empok

Barang gede maju perang // beranjak besar pergi maju berperang

Prang ning Batawi // perang di Betawi

Durung aman durung balik // sebelum aman tidak akan kembali

Balik metu ngalor // kembali pulang melalui jalur utara

Nyangking bedil isi pelor // menyandang bedil isi pelor

Dor…dor…dor…

Dari syair perang Cirebon inipun dapat diketahui bahwa nama Betawi sebagai asal mula nama sebuah tempat sudah ada saat penyerbuan Mataram ke Batavia di tahun 1628, jauh melebihi kata yang ditemukan pada Gulingin Betawi (cassia glauca L) sebagai nama tumbuhan ketepeng yang disusun pakar botani Belanda bernama G.J. Fillet dalam bukunya yang berjudul Plaantkundig Woordenboek van Nederlansch-Indie yang terbit pada tahun 1888 atau bahkan Testament Nyi Inqua di tahun 1644 sebagai inkripsi tertua yang menyebut Betawi sebagai nama sebuah tempat.


Buku referensi terkait 400 Tahun Jakarta karya Susan Blackburn buku bisa di dapatkan di TokopediaBukaLapakShopee dan Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer buku bisa didapatkan TokopediaBukaLapakShopee atau kontak langsung ke 081385430505