Delapan Jagal dari Tambun

0
4547
Delapan Jagal Dari Tambun. Sumber: KITLV

Tambun merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi yang pada tahun 1868 merupakan kawasan tanah particulere landerijen (perkebunan swasta) yang cukup luas, dengan jumlah penduduk diperkirakan 73.000 jiwa terbagi atas 68.000 pribumi , 4.601 orang Cina, 25 orang Arab dan 11 orang Belanda.

Sebagaimana daerah perkebunan swasta lainnya, para petani di Tambun pun mengalami tindakan sewenang-wenangan para tuan tanah. Perampasan harta para petani yang dianggap sebagai pengganti pajak yang tak sanggup dibayar, demikian pula praktek contingenten yang selalu melebihi ketentuan hingga melebihi dari 50% dari hasil panen.

Kemudian muncul gagasan dari seorang petani bernama Bapak Rama yang berasal dari Cirebon dan bertempat tinggal di Leuwicatang, Bogor. Gagasan yang mengemukakan bahwa tanah-tanah partikelir yang terletak di antara Citarum dan Cisadane sesungguhnya adalah milik para penduduk pribumi dan bukan milik para tuan tanah.

Untuk melegitimasi gagasan itu Bapak Rama dan para petani pendukungnya pada 1868 pergi menuju Solo dan bertemu dengan salah seorang raja disana yang dianggap mengetahui seluk beluk status kepemilikan tanah tersebut. Sekembalinya dari Solo, Bapak Rama meyakinkan kepada para petani di sekitar Depok, Bekasi dan Bogor akan kebenaran gagasannya. Kemudian mulai membagi-bagikan lahan tanah kepada para petani pengikutnya.

Baca Juga:

  1. Kisah Pangeran Afrika di Bogor
  2. Hilangnya Komunitas Rusia, Hongaria, Inggris dan Prancis di Jakarta
  3. Sejarah Listrik dan Cerita Hantu di Depok

Kharisma yang dimiliki Bapak Rama membuat dirinya diangkat menjadi pemimpin dengan gelar Pangeran Alibashah, lalu dengan gelar kepemimpinannya itu pada saat pesta perkawinan di rumah Bapak Rama di Ratujaya pada tanggal 16 Maret dan memutuskan untuk mengadakan sebuah perlawanan dan perebutan tanah-tanah partikelir.

Keputusan perlawanan dijatuhkan pada tanggal 20 bulan Haji atau tanggal 3 April 1869, karena pada tanggal itu menurutnya bertepatan dengan terjadinya gerhana bulan. Bapak Rama beranggapan bahwa dengan terjadinya gerhana bulan Belanda tidak akan dapat melihat pergerakan mereka.

Namun rencana itu keburu ketahuan Belanda dan Bapak Rama serta para pengikutnya berhasil ditangkap sehari setelah pesta perkawinan. Satu hari setelah penangkapan, Bapak Rama berhasi lolos untuk kemudian menyusun kembali perlawanan yang diputuskan jatuh pada 5 April dan difokuskan pada daerah Tambun saja.

Maka pada 5 April 1869 terjadilah perlawanan yang dipelopori oleh para petani dari beberapa latar belakang etnis yang telah lama bermukim dan menjadi petani di Bekasi, di antaranya Bapak Rama, Arpan, Jungkat Bapak Nata, Bapak Selan, Dris, Adiarsa, Bapak Delang, Raden Mustafa, Manan Bapak Basirun, Bapak Tunda, Raden Sipat alias Arsain, Piun, Bungsu, Bapak Basirun, Bapak Djiba, Bapak Kollet, Aleng, Budin dan Simin. Perlawanan itu menewaskan asisten residen Meester Cornelis C.E. Kuijper, seorang dokter Jawa, dan tujuh orang lainnya pada 5 April 1869.

Para petani Bekasi yang dipimpin Bapak Rama itu akhirnya berhasil ditangkap pada 17 Juni, dan pada 29 September 1869 disidangkan dengan hasil 29 orang dijatuhi hukuman mati dan 19 orang dijatuhi hukuman kerja paksa selama 15 tahun. Delapan orang yang dianggap sebagai pembunuh asisten residen, dokter dan tujuh orang lainnya di hukum gantung terlebih dahulu.

Bapak Rama tidak sempat disidangkan, karena meninggal dalam tahanan dua hari menjelang persidangan digelar. Hampir setahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1870, di Alun-Alun Bekasi dilangsungkan pelaksanaan hukuman mati para jago yang terlibat perlawanan di Tambun.

Eksekusi hukuman gantung terhadap delapan orang itu mengisi halaman utama harian Bintang Barat edisi Sabtu, 3 September 1870. Pemerintah kolonial Belanda menyebut delapan orang terhukum itu Achts Tamboenmoerdenaars atau Delapan Jagal dari Tambun.


Lebih jauh baca:

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku terkait dengan artikel.