Si Biang Kerok Benyamin S

0
2907
Benyamin S bersama Ida Royani dalam film "Biang Kerok" tahun 1973

Benyamin memang bukan sekadar nama, dia adalah sebuah pengertian. Sosok yang merupakan representasi dari tradisi-kebudayaan orang Betawi.


Dia dijuluki biang kerok dan kata itu bercerita banyak tentang dirinya. Julukan yang berarti “penyebab keributan” itu tidak cuma menunjukkan kenakalannya: menggerakkan pemberontakan atas pakem umum dan formalistis. Biang kerok juga terkait erat dengan yang sohor di Betawi disebut setiar (ikhtiar) dalam memupuk rasa percaya diri yang mendorong terbentuknya pandangan hidup orang Betawi yang “engga hero” alias tidak menghiraukan.

Inilah salah satu kunci membaca Benyamin. Benyamin memang bukan sekadar nama, dia adalah sebuah pengertian. Sosok yang merupakan representasi dari tradisi-kebudayaan orang Betawi. Suksesnya, daya pukaunya, maupun kenakalannya yang genial. Semua itu adalah buah dari apa yang disebut oleh penulis biografi terkemuka, Rudolf Mrazek, sebagai “struktur pengalaman” atau apa yang telah membudaya dalam diri seseorang, melalui mana ia mengonsepkan dirinya dan masyarakat.

Dalam hal ini struktur pengalaman Benyamin adalah corak khas masyarakat Betawi yang mempunyai “egaliterianisme” dan “anti-formalisme”. Benyamin adalah cermin dari yang disebut pengamat kebudayaan Betawi, Mona Lohanda, sebagai ciri utama budaya Betawi yang jauh dari pakem-pakem kaku, tetapi sangat menampakkan sifat “kelenturan”.

Mungkin dengan menempatkan Benyamin dalam “struktur pengalaman” itulah sebuah karya biografi tentang diri seniman Betawi ini—sebagaimana dinyatakan oleh sejarawan Taufik Abdullah dalam esainya yang menantang, Mengapa Biografi—tidak akan menjadi sekadar sebuah karya latihan akademis atau pemenuhan kontrak kerja yang telah ditandatangani, tetapi juga biografi sungguh-sungguh yang kreatif, subur, merangsang, dan menantang. Ia mampu merekam dan memperlihatkan hubungan antara tindakan dan nilai atau makna (struktur pengalaman) yang dilakukan oleh pelakunya dan bagaimana perbuatan itu dimengerti oleh lingkungan sosialnya.

Sayang hal tersebut tidak dapat dirasakan dalam biografi Benyamin S  yang pernah terbit saampai hari ini. Tidak terlihat adanya suatu usaha untuk menghadapkan diri si penulis biografi pada sasarannya. Karena itu, dapat dimengerti mengapa biografi tersebut hanyalah berdimensi satu; Benyamin berbuat dan perbuatannya kelihatan. Itu saja. Satu perbuatan diikuti oleh yang lain, seperti slide yang dipertunjukkan terpecah-pecah.

Inilah gaya penceritaan yang pernah disebut seorang ahli kritik sastra sebagai paratactic; kalimat menciptakan imaji-imaji tanpa pendalaman dan keterangan. Dengan demikian, keinginan untuk menguak makna atas fakta-fakta kehidupan Benyamin, si seniman Betawi legendaris kelahiran Kemayoran itu tidak terpenuhi.

Baca Juga:

  1. Awal Batavia Kota Markas Dagang
  2. Abdul Chaer Ahli Linguistik Asli Betawi, Raih Penghargaan Seni dan Budaya
  3. Jakarta 1970-an Kenangan Menjadi Dosen

Di sana adalah benar bahwa Benyamin sosok seniman yang lincah dalam banyak lapangan seni. Salah satu yang terutama membuat nama Benyamin terkenal adalah kepiawaiannya di dalam mencipta dan membawakan lagu-lagu irama Betawi. Tetapi, ihwal bagaimana proses ia dapat begitu rupa menghadapkan tradisi musik Betawi dengan pelbagai arus musik modern Barat (blues, rock, jazz, pop, disko, rap, dan bahkan seriosa) tanpa kehilangan identitas kebetawiannya tidaklah terkuakkan.

Padahal, ini penting jika ingin menunjukkan ketokohan Benyamin sebagaimana dikatakan oleh penulis biografi Masao Maruyama, bahwa salah satu ketokohan seseorang itu ditentukan oleh caranya berjuang agar tidak kehilangan identitas dirinya terhadap homogenisasi dan standardisasi kemauan umum.

Tentu saja beberapa faktor dapat disebutkan untuk menguak Benyamin yang melihat konsep jati diri sebagai nilai penting (mungkin yang terpenting) dari struktur pengalamannya. Benyamin dilahirkan di Kampung Utan Panjang, Kemayoran (Jakarta Utara), pada 5 Maret 1939. Keluarga yang melahirkan Benyamin adalah keluarga khas produk dari Kemayoran, yang sejak awal abad ke-20 menunjukkan sikap penyesuaian diri pada perkembangan kemodernan, yang jauh lebih kompleks dengan pola multiras dan etnik yang luas dalam komposisi kemasyarakatannya.

Benyamin adalah salah satu dari generasi Betawi asli penghuni Kemayoran yang telah bersilang budaya dan berkawin campur dengan penduduk luar daerah yang didatangkan ke kampung tersebut. Ibu Benyamin, Siti Aisyah, putri seorang jago Betawi terkemuka dan kaya, Rodiun atau sohor sebagai Haji Ung. Ayah Benyamin adalah Sueb alias Sukirman yang berayah Kromojoyo, serdadu Belanda asal Purworejo.

Perkembangan yang memukau pada masa kelahiran Benyamin adalah citra Kemayoran yang memesona dalam peta perkembangan sandiwara-musik Indonesia. Pada masa itu Kemayoran bukan saja ramai oleh aktivitas seniman gambang keromong, wayang kulit, der muluk atau tonil yang menjadi nenek moyang lenong dines dan lain-lain. Tetapi juga telah menjadi kancah seniman-seniman yang disponsori oleh orang Belanda, indo, dan pribumi dalam memodernkan musik keroncong asal Tugu dengan irama musik jazz band yang melahirkan genre popular keroncong kemayoran.

Sekali lagi mengutip Mona Lohanda bahwa sifat kelenturan akibat persandingan, perkutatan, dan hubungan timbal balik yang terus-menerus antara tradisi dan kemodernan (pengaruh luar dan dalam) sebagaimana yang terjadi dalam perkembangan kesenian Betawi di Kemayoran itu pulalah yang kemudian terus hidup dan mempribadi pada diri Benyamin.

Benyamin sendiri dalam berbagai kesempatan sering mengungkapkan bahwa ia lebih kerap menyerap elemen-elemen Barat sejak kecil sampai sekolah menengah atas. Ia menjadi penyanyi fasih nada-nada irama cha-cha dan calypso yang populer di tahun 1950-an di kelab-kelab malam, seperti Sindang Laut, Wisma Nusantara, dan Hotel des Indes. Ia pun mendalami musik jazz dengan bermain bersama Jack Lesmana dan Bill Saragih.

Namun, setelah begitu jauh dan dalam menekuni musik Barat, pada tahun 1960-an, ketika politik Demokrasi Terpimpin yang dalam orientasi politik-budayanya menekankan pada upaya pencarian keaslian dan menentang musik Barat yang dianggap sebagai musik yang merusak moral dan jauh dari kepribadian Indonesia, Benyamin sama sekali tidak merasakan hal ini sebagai tekanan. Ia dengan sigap membanting setir menekuni irama dan lagu tanah kelahirannya.

Di sinilah Benyamin menunjukkan sifat kultural orang Betawi yang “lentur”. Ia membawa unsur musik Barat pada tradisi musik Betawi, terutama gambang keromong dan sebaliknya. Publik tergetar. Tergelitik oleh spontanitas yang kaya humor dan dinamisme yang unik dalam musiknya, serta penampilannya yang menyegarkan saat membawakan lagu-lagu yang diciptakan sendiri, seperti Si Jampang, Hujan Gerimis, Tukang Solder.

Sambutan di tingkat massa yang hebat ini bukan sekadar karena lagu-lagunya dapat memuaskan kebutuhan ideologis masa itu dengan sifatnya yang merakyat dan menawarkan alternatif untuk musik Barat. Tetapi juga lantaran Benyamin dengan segala bakat dan kekayaan penguasaannya atas berbagai aliran musik modern dan tradisional Betawi telah benar-benar hadir dengan wujud yang tersendiri dan istimewa.

Selain itu, juga yang membuat Benyamin teramat menarik adalah kelihaiannya di dalam genre yang paling sulit dalam musik, yakni humor. Dalam karya musik, orang kecil biasanya tidak segera disejajarkan dengan humor, tetapi lebih sering dikaitkan dengan kesusahan, penindasan, ketidakadilan, dan sebangsanya. Namun, lagu-lagunya tidaklah menampilkan tokoh-tokoh yang terbebas dari kesulitan hidup. Tokoh-tokohnya adalah orang-orang kecil yang terbelit kehidupan yang sulit, seperti orang kecil mana pun, tetapi boleh dikatakan keseluruhan lagunya menumbuhkan suasana humor.

Inilah yang membedakan dan membuat Benyamin dapat meraih sukses yang lebih hebat dan dapat terus bertahan dalam memasyarakatkan lagu-lagu Betawi dari pendahulu-pendahulunya, seperti pasangan Suhairi Mukti dan Lilis Suryani (Sayur Asem dan lain-lain).

Bahkan, setelah iklim politik budaya yang mencari keaslian dan sifat kerakyatan Soekarno digulung seiring meletus peristiwa G30S 1965, Benyamin tetap berkibar di jagat musik nasional. Ia tetap dapat unjuk gigi ketika politik budaya Orde Baru Soeharto membuka lebar-lebar pintu untuk musik rock, country, serta pop Inggris dan Amerika untuk mengisi kekosongan yang tercipta akibat larangan pemerintah terhadap musik impor sebelumnya.

Segi lain yang tidak mendapat perhatian dalam biografinya ini adalah perkaitan Benyamin dengan perkembangan bahasa Betawi-Jakarta yang menasional. Ketika Benyamin hadir, ia bukanlah orang pertama yang secara sadar memakai base atau bahasa Betawi sebagai alat ungkap segala ekspresinya.

Namun, tak bisa disangkal bahwa kehadiran Benyamin telah membuat daya dobrak base Betawi semakin kuat untuk diterima sebagai lingua franca oleh masyarakat Indonesia. Ini lantaran Benyamin melengkapi penetrasi base Betawi yang sebelumnya telah menggebrak dan mewabah di media massa ke lingkup media elektronik.

Akibatnya, pengaruh base Betawi tak terbendung lagi dan membuat masyarakat Indonesia lebih dapat berbahasa Betawi-Jakarta ketimbang bahasa Indonesia. Sebab itulah jika indonesianis Ben Anderson dalam “Languange of Indonesia Politics” (1976) menggambarkan perkembangan bahasa Indonesia, yang bersumber pada bahasa Melayu, itu dua arah: perkembangan ke arah “kromonisasi” dan “ngokonisasi”. Maka, bolehlah dikatakan bahwa Benyamin, di samping SM Ardan dan Firman Muntaco, punya artikulasi yang sangat besar dalam perkembangan bahasa Betawi sebagai ngoko-nya. Bahkan perlu juga ditengok betapa syair lagu Benyamin juga memiliki nilai sastera. Pendek kata, lagu bernilai sastra sekaligus sejarah sosial Betawi-Jakarta selama 1960 sampai 1990-an.

Benyamin memang seniman yang gape alias ahli dalam banyak lapangan, tetapi kalau neraca sejarah mesti menimbangnya, dua hal di atas telah membuatnya hadir dan kukuh bukan saja, pertama, sebagai tokoh lokal sebab bersamanya masyarakat Betawi pada paruh kedua tahun 1970-an mendapat kekuatan untuk bangkit setelah bertahun-tahun sejak MH Thamrin meninggal seperti tenggelam dan tidak memiliki kebanggaan identitas sebagai orang Betawi.

Namun, Benyamin juga sebagai tokoh nasional sebab dengan dua hal di atas ia telah menanamkan pengaruhnya yang dalam dengan basis pengikutnya yang amat luas di kalangan masyarakat kelas bawah. Setelah kematiannya pada 5 September 1995 sampai sekarang, sosoknya tetap mampu merangsang masyarakat umum, bahkan anak-anak dan kalangan remaja, untuk menjadikannya sebagai salah satu kiblat hati sanubari dalam mengetengahkan caleur local (warna lokal) dan mengekspresikan pemberontakan terhadap tabu-tabu.

Akhirnya, kalau Norman Miller, filsuf pemikir Amerika, pernah mengungkapkan bahwa “biografi adalah perjalanan sejati dari dasar hati sanubari seseorang ke dasar hati sanubari orang lain”, kita masih harus menanti biografi Benyamin ini yang tak hanya mampu mampu membawa pembacanya melakukan perjalanan sebatas kulit ari, sehingga kurang bisa memaknai warisan yang ditinggalkan yang istimewa dan bisa menjadi perbendaharaan aspirasi serta inspirasi dalam arti luas.


Makalah untuk diskusi “500 Tahun Betawi-Jakarta Dalam Sastra” Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, 6 Juni 2015. Dikembangkan dari tulisannya di Kompas, 15 April 2006: “Melongok Benyamin Si Biang Kerok”.