Saksi Bisu Penyebaran Islam di Condet

0
554
Makam Ki Tua oleh Ades-Tim Betawi Kita

Condet salah satu perkampungan Betawi di Jakarta Timur memiliki sejarah yang cukup panjang, meski dalam catatan sejarah Belanda catatan Abraham Van Riebeeck baru disebut pada 1709 dengan nama Ci Ondet. Namun dari hasil penelitian para arkeolog telah meberi gambaran bahwa Condet merupakan salah satu daerah di Jakarta yang telah terbentuk pemukiman pra sejarah sekitar 1000SM–500SM.

Di samping situs-situs prasejarah, di Condet juga ditemukan artefak berupa makam-makam tua. Salah satu makam tua yang masih diselimuti kabut tentang jenazah di dalamnya adalah makam yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai makam Ki Tua Balungtunggal, sayangnya informasi tentang siapa Ki Tua Balungtunggal sangatlah sedikit.

Latar belakang sosok yang masih diselimuti kabut membuat kondisi makam menjadi tidak terurus.  Lokasi makam terletak di luar area pemakaman Kober Balekambang dan hanya ditandai dengan tumpukan batu kali. Santer berita makam tua ini terancam untuk dihilangkan.

Baca Juga:

  1. Bleguran
  2. Kemelekeran
  3. Puasa Separo Ari

Dari hasil penelusuran lapangan didapat informasi berupa tuturan lisan tentang makam tua ini. Sebagian besar masyarakat Condet meyakini bahwa Ki Tua Balungtunggal merupakan tokoh awal penyebar Islam sekaligus tokoh sentral yang menurunkan para Datuk di Tanah Condet.

Hasil informasi tuturan lisan sesepuh masyarakat Condet juga memberi sedikit gambaran mengenai sosok dan latar belakangnya. Posisi makam yang menghadap kiblat dan bentuk batu nisan berukir yang disebut Batu Aceh (kini hilang dicuri) mengindikasikan bahwa makam tersebut merupakan peninggalan zaman Islam.

Nama asli Ki Tua Balungtunggal yang bernama Sa’ban juga mendukung akan penafsiran itu. Dalam khazanah Sufistik Jawa, Balungtunggal diidentikkan sebagai nama julukan seseorang yang memiliki dasar Ketuhanan (Tauhid) yang kuat, hingga telah merasuk dalam tulang ekor (Balungtunggal).

Dalam catatan Sejarah Banten (1953), nama Sa’ban yang terkait dengan Kampung Condet terdapat dua nama yaitu Sa’ban Kusumaningrat dan Abdullah Sa’ban. Dari dua nama tersebut berdasar tafsiran data sejarah yang ditemukan, nama Sa’ban Kusumaningrat yang berasal dari Banten lebih mendekati dibanding nama Abdullah Sa’ban yang berasal dari Sulawesi Selatan (Data Belanda menyebutnya juga sebagai Komandan Etnis Nusantara yang berasal dari Sumbawa).

Seperti diketahui bahwa etnis Banten, Mataram dan Makassar memiliki peran dalam kesejarahan orang Condet. Ketiga etnis itu merupakan bagian dari leluhur orang Condet. Keberadaan Pangeran Purbaya yang dalam cerita legenda disamarkan dengan nama Pangeran Geger adalah titik awal kesejarahan etnis Banten di Condet.

Pangeran Purbaya adalah putra keempat dari Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memimpin perlawanan terhadap Sultan Haji yang bekerja sama dengan VOC Belanda. Saat dalam pelariannya ia menjadikan Condet sebagai salah satu daerah persembunyian dan basis perlawanan. Di Condet, ia berkeluarga hingga meninggalkan surat wasiat berupa lahan dan hewan ternak yang diwariskan kepada anak dan isterinya. Surat waris itu disahkan oleh notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716 sebelum pembuangannya ke Nagapatnam, Srilanka.

Keberadaan Condet sebagai basis perlawanan dan persembunyian Laskar Banten terus berlanjut pada masa Kesultanan Banten dipegang Sultan Zainul Arifin (Sultan Banten ke X: 1733-1749) dimana yang menjadi penguasa sesungguhnya adalah Ratu Syarifah Fatimah yang bersekongkol dengan VOC Belanda untuk menggerogoti wibawa Kesultanan Banten dari dalam dan memicu konflik internal kesultanan.

Adalah Ratu Siti, puteri mahkota Sultan Banten ke IX yang pada bulan Oktober 1750 mulai turut dalam perlawanan yang dilakukan Ratu Bagus Mustafa (Kyai Tapa) dan Ratu Bagus Burhan (Kyai Buang) terhadap kekuasaan Ratu Syarifah Fatimah. Dalam melakukan perlawanan, Ratu Siti dibantu oleh suaminya yang bernama Raden Sa’ban Kusumaningrat (Kyai Sa’ban). Mereka menjadikan Ommelanden atau luar kota benteng Batavia, seperti Gunung Munara, Parung dan sebagian wilayah Bogor, Kalideres serta Condet.

Untuk mempersempit ruang gerak perlawanan Kyai Tapa dan Kyai Buang di wilayah selatan, Ratu Syarifah Fatimah menjalin hubungan dengan Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff yang waktu itu sedang menggalakkan pembukaan area perkebunan di wilayah selatan Batavia hingga Bogor.

Pertemuan keduanya pernah dilangsungkan di Gedung Groeneveld, Tandjong Oost pada 1750 dan hingga kini surat cinta mereka masih tersimpan di gedung Arsipnas. Hubungan “gelap” keduanya kandas ketika Baron Van Imhoff wafat pada bulan November di tahun yang sama.

Pada 1753, perlawanan Kyai Tapa dkk dapat ditumpas. Kyai Buang gugur dalam pertempuran di Selat Sunda dan Ratu Siti tertangkap lalu dibuang ke Pulau Banda. Sementara itu Kyai Tapa dan Kyai Sa’ban terus mengadakan perlawanan secara sporadis di wilayah selatan Batavia, termasuk Condet yang dijadikan tempat persembunyian.

Kyai Tapa menggalang kekuatan ke arah timur hingga tidak terdengar lagi kabar beritanya. Begitu pula Kyai Sa’ban yang ceritanya terputus hanya sampai tempat persembunyiannya di Condet. Bila dilihat dari nama belakang Kusumaningrat, Kyai Sa’ban Kusumaningrat kemungkinan berlatar belakang bangsawan Bogor.


Lebih jauh lihat buku:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY