Menyaksikan Acara Televisi 1970-an

0
229
The GIBS saat mengiringi penyanyi pop Henny Poerwonegoro di TVRI

Hiburan penduduk Jakarta di 1970-an mulai berubah. Kalau sebelum 1970-an hiburan masyarakat di rumah terutama banyak mendengarkan radio, mulai bergeser dengan menyaksikan televisi.

Hal ini disebabkan kepemilikan pesawat TV yang tadinya masih cukup terbatas mulai meningkat karena banyaknya pesawat TV yang ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau. Pesawat-pesawat TV mulai banyak dijual di toko-toko elektronik karena investasi pabrik-pabrik asembling pesawat TV buatan Jepang yang dibangun di sekitar Jakarta.

Selain itu juga karena siaran TV yang disiarkan stasiun TVRI mulai membaik dibandingkan zaman Orla. Di 1970-an TVRI masih memonopoli satu-satunya stasiun penyiaran tv di Indonesia di bawah Departemen Penerangan RI.

Televisi—era Orba—dianggap sebagai media yang strategis sehingga banyak dikembangkan menjadi TV nasional corong pemerintah. Berbagai relay stasiun TV dibangun di daerah-daerah agar jangkauan siaran TVRI lebih meluas lagi. Pengembangan siaran pertelevisian banyak dibantu oleh Jepang karena banyak menggunakan produk teknologi mereka.

Acara-acara TV juga terus ditingkatkan dan mulai banyak ditayangkan acara siaran yang bersifat hiburan untuk lebih menarik penonton. Misalnya acara hiburan lagu-lagu diiringi orkes atau band dengan para penyanyinya. Bermunculanlah penyanyi-penyanyi yang populer di 1970-an seperti Henny Purwonegoro, Lilis Suryani (dengan lagunya yang terkenal Gang Kelinci), Tetty Kadi (kemudian di tahun 2000-an menjadi anggota DPRD Jawa Barat), Grace Simon, Aida Mustafa, Benyamin Suaeb si penyanyi dan pelawak Betawi yang sering berduet dengan Ida Royani, Ernie Johan (di 1960-an masih sebagai penyanyi remaja), kelompok band perempuan The Singers yang pemain musik dan penyanyinya antara lain Henny Purwonegoro dan Neneng Salmiah, kelompok Koes Plus yang pernah dijuluki sebagai “Bitel Jawa”, band keras atau metal seperi God Bless dengan Achmad Albar yang rambutnya kribo, dan kelompok AKA dengan Ucok Harahap yang sangat nyentrik.

Baca Juga:

  1. Kebun Binatang Pernah di Tengah Pusat Kota Jakarta
  2. Riwayat Komik Silat 
  3. Ada Palang Pintu Ada Berebut Dandang

Ada juga penyanyi anak-anak, seperti Chicha dan Sari Koeswoyo serta banyak lagi lainnya. Selain musik dan lagu pop, juga hiburan orkes Hawaiian Senior pimpinan Mas Yos (Suyoso, pemilik perusahaan rekaman piringan hitam Elshinta pada 1950-an dan 1960-an serta pendiri radio Elshinta) dengan penyanyinya antara lain Hoegeng Iman Santoso yang menjadi kepala polisi di permulaan 1970-an. Selain itu juga musik dangdut yang mulai populer di 1970-an dan musik keroncong yang sudah lama ada.

Selain musik dan lagu, ada juga hiburan lawakan dengan pelawak-pelawaknya yang terkenal di 1970-an, misalnya Bing Slamet (sudah melawak sejak 1950-an), Edi Soed; Ateng; Iskak; Bagyo; Us Us (mulai melawak akhir 1950-an meniru pelawak Jerry Lewis dari Amerika, kemudian 1970-an membentuk grup lawak D’bodor); Alwi dan Oslan Husein (sejak 1960-an); lawakan grup reog BKAK (Badan Kesenian Angkatan Kepolisian juga sejak 1960-an); grup lawak Pelita (pelawak ibukota), antara lain Kholik dan Darmin; grup lawak Tom Tam (Tokoh Muda Tambora karena mereka tinggal di Tambora) dengan Komar (kemudian jadi anggota DPR), Ogut, Kimung, dan Kirman; kemudian grup lawak Srimulat yang mulai muncul di TV akhir 1970-an setelah mereka hijrah dari Surabaya dengan pelawak-pelawaknya Asmuni, Sumiati, Djudju, Timbul, Tarzan, Gepeng, Paul, Basuki, Kadir, dan lain-lain.

Selanjutnya juga ada grup pelawak Warkop: Dono, Indro, Kasino, dan Nano (senang berlogat Batak, kemudian meninggal lebih dulu) yang mulai melejit akhir 1970-an. Sebagai catatan dari saya, tampaknya buat profesi pelawak, sejak dulu bangsa Indonesia tidak pernah kekurangan. Cerita klasik Hindu Mahabarata saja ditambahi dengan punakawan Semar dan anak-anaknya Petruk-Gareng, yang di cerita aslinya tidak ada, ini kreativitas bangsa Indonesia menambahkan unsur lawakan ke dalam cerita sakral itu. Entah kenapa, apakah kita memang berbakat bangsa pelawak atau sebagai kompensasi dari kehidupan yang selalu susah dan tertekan, saya kurang tahu.

Kemudian ada juga berbagai pertunjukan kesenian daerah seperti musik tradisional dan tari-tarian. Sedangkan film-film sinetron Indonesia model soap opera yang populer setelah 1980-an belum begitu dikenal di 1970-an, yang ada baru soap opera dari luar negeri, seperti cerita serial Peyton Place dan Bonanza yang diputar TVRI di 1970-an. Saya juga ingat ada drama serial kepolisian terkenal, yakni Hawaii Five O.

Dengan mulainya zaman pembangunan yang serba komersial, para artis di 1970-an mulai menikmati bayaran dan royalti yang lumayan dari kegiatan mereka sehingga kehidupan artis pun mulai kelihatan glamor dan menggiurkan bagi banyak anak muda. Budaya komersial artis pun mulai meningkat di 1970-an walaupun masih belum melejit sehebat seperti sesudah 1990-an dengan maraknya stasiun-stasiun televisi swasta dan ramainya iklan-iklan komersial yang menggunakan para artis ini.

Karena siaran TV dimonopoli pemerintah, satu-satunya saluran TV yang bisa diakses masyarakat hanyalah TVRI. TV swasta belum dibolehkan pada 1970-an. Antene televisi parabola belum dikenal di 1970-an jadi belum bisa menonton siaran TV dari luar negeri. Apalagi TV kabel, belum bisa dibayangkan di 1970-an. Satelit komersial internasional baru saja dimulai pada akhir 1970-an. Indonesia kemudian menyewa satelit komersial ini yang diberi nama Palapa, antara lain untuk menyiarkan siaran TV agar bisa menjangkau seluruh Indonesia.

Hiburan bioskop masih mendapat cukup banyak pengunjung di 1970-an. Hal ini film-film buatan Hollywood mulai diimpor lagi setelah berdirinya Orba. Film-film itu lebih disenangi kebanyakan penduduk Jakarta terutama kelas menengah ke atas. Saya pun masih sering pergi menonton bioskop selama 1970-an.

Tentunya hanya film-film yang saya sukai, terutama film buatan Hollywood yang sudah saya senangi sejak masih remaja 1950-an karena terus terang cocok dengan selera saya. Beberapa film Hollywood yang saya tonton dan masih saya ingat di 1970-an, misalnya The Graduate yang dibintangi Dustin Hoffman, The Deer Hunter tentang drama Perang Vietnam, Coming Home yang dibintangi Jane Fonda, juga beberapa lainnya lagi.


Dikutip atas izin penerbit Masup Jakarta dari buku Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY