Mode Rambut dan Pakaian Jakarta 1950-an

0
178
Gaya berpakaian para ibu di Jakarta dengan kerudung pada 1950-an

Kehidupan remaja di Jakarta pada 1950-an tentu juga banyak dipengaruhi oleh layaknya kehidupan di kota besar zaman itu, termasuk dalam mode berpakaian dan penampilan. Waktu itu banyak laki-laki remaja yang memakai celana pendek atau celana panjang yang ketat sekali. Selain ketat, celana pendek juga sering pendek sekali.

Ujung bawah celana pendek hanya sedikit di bawah pangkal paha. Saya ingat, kepala sekolah dan guru-guru di SMP 1 mengharuskan kami untuk tidak memakai celana pendek yang terlalu pendek dan ketat ini ke sekolah. Minimal harus sejengkal dari pangkal paha dan cukup longgar. Celana pendek yang longgar dan hampir sampai ke lutut model yang biasa, waktu itu mendapat julukan sebagai celana nabi.

Celana panjang model blue jeans yang sekarang umum dipakai anak muda, waktu itu disebut sebagai celana jengki (dari kata yankee). Pada 1950-an sudah populer di antara remaja Jakarta, tetapi jarang yang memakainya karena sulit memperolehnya dan harganya mahal.

Baca Juga:

  1. Kisah Setangan Kain Tutup Kepala Khas Betawi
  2. Kerudung
  3. Sekelumit Kisah Baju Tikim dan Celana Pangsi

Berbicara mengenai celana blue jeans dan celana ketat ini, ada kenangan yang cukup menarik bagi saya dan mungkin juga bagi beberapa pembaca. Celana blue jeans dan celana ketat ternyata sangat tidak disenangi oleh beberapa kalangan terutama aparat waktu itu. Mereka menganggap bahwa celana seperti ini bukan budaya Indonesia tetapi budaya barat. Biasanya kalangan atau aparat seperti ini adalah orang–orang yang konservatif atau berhaluan kiri. Atau bisa juga karena kecemburuan sosial, karena remaja yang memakai celana seperti ini umumnya datang dari kalangan menengah ke atas.

Oleh sebab itu, kadang-kadang dilakukan razia celana blue jeans dan celana ketat di jalanan dan bioskop oleh polisi atau tentara, bahkan di sekolah oleh guru-guru. Ukuran menentukan ketat tidaknya ialah dengan menggunakan botol. Celana dianggap ketat kalau botol tidak dapat dimasukkan ke dalam kaki celana yang dikenakan. Jika dianggap ketat, maka celana akan digunting.

Kalau celana jeans, otomatis akan digunting. Alasannya karena dianggap sebagai budaya barat. Saya menduga ini lebih karena rasa iri hati atau kecemburuan sosial dari para aparat itu. Dengan kata lain, akibat adanya perbedaan kelas sosial ekonomi, juga ditambah karena adanya semangat nasionalisme dan ketimuran yang tinggi yang kurang menyenangi segala sesuatu yang dianggap budaya barat waktu itu.

Kemeja remaja di Jakarta pada 1950-an umumnya lengan pendek. Biasanya polos, tetapi lebih digemari yang bermotif corak berwarna-warni. Kemeja yang agak longgar biasanya digemari. Jadi berbeda dengan celana yang umumnya ketat. Baju model t-shirt yang sekarang banyak dipakai remaja, waktu itu belum banyak dipakai.

Baju model batik juga belum dikenal. Bahan pakaian yang umum dipakai ialah katun. Bahan kain sintetis belum ada waktu itu. Bahan seperti wol hampir tidak ada yang memakai karena selain panas harganya juga mahal sekali.

Pakaian perempuan remaja waktu itu kebanyakan rok biasa dan kemeja atau yang disebut blus. Rok umumnya sampai lutut atau sedikit di atas lutut. Rok sampai kaki hampir tidak ada pada 1950-an. Kemudian muncul rok yang disebut model can-can, yaitu rok pendek dengan bagian bawah yang mekar seperti payung.

Kemudian muncul rok model pleated skirt, yaitu rok dari bahan bercorak kotak-kotak ala kain Scotland, biasanya campuran wol dan mempunyai lipatan-lipatan kecil vertikal. Rok mini, saya ingat belum menjadi mode remaja pada 1950-an, walaupun menggunakan celana model short sudah ada. Pemakaian celana panjang apalagi jeans oleh perempuan remaja yang semarak digunakan sesudah 1980-an waktu itu hampir tidak ada.

Model rambut laki-laki remaja adalah sisiran ke samping, umumnya dengan belahan di samping atau di tengah. Biasanya dengan jambul di tengah yang agak ditarik ke depan. Rambut panjang atau model kribo belum dikenal waktu itu.

Kemudian pada pertengahan 1950-an terkenal model rambut ala Tony Curtis—bintang film Hollywood yang cukup terkenal pada 1950-an dan ayah dari aktris Jamie Lee Curtis. Mode rambut yang dimakasud adalah tanpa belahan dengan jambul tinggi di bagian tengah yang ditarik ke depan dan di kiri kanan disisir lurus ke belakang. Supaya bisa bagus dan tidak rusak tertiup angin, harus memakai minyak rambut yang cukup.

Minyak rambut yang banyak dipakai ialah minyak rambut dengan bahan dasar vaseline pekat yang diberi minyak wangi menyengat. Biasanya dikemas di botol gelas atau kaleng kecil, diberi label merek yang menarik, misalnya Lavender. Harganya relatif cukup murah waktu itu. Banyak dijual di para pedagang kaki lima, di tepi jalan, selain di warung atau toko.

Saya sendiri membelinya di pedagang kaki lima Pasar Rumput. Waktu itu hairspray, minyak rambut, atau gel merek yang berkelas belum ada, paling-paling minyak rambut merek Bryll Cream warna putih buatan RRC. Tetapi itu lebih banyak dipakai oleh orang-orang tua, termasuk ayah saya.

Kemudian lagi muncul model rambut crew cut, model rambut tentara GI Amerika, yaitu model rambut dipotong pendek setinggi 2-3 cm dan rata horizontal di bagian atasnya.

Sedangkan model rambut anak perempuan biasanya lurus dibelah dan panjangnya sedang hingga leher atau bahu. Ada juga model rambut buntut kuda, diikat di bagian belakang kepala. Rambut model dikepang zaman baheula tidak banyak dipakai lagi di pada 1950-an, walaupun masih ada terutama permulaan zaman itu.

Ada juga model rambut pendek seperti rambut anak laki-laki yang disebut model jongenskop (kepala anak laki-laki dalam bahasa Belanda), dipopulerkan waktu itu oleh bintang film Audrey Hepburn (seperti model rambut pendek yang dipopulerkan aktris Demi Moore permulaan 1990-an). Kemudian pada akhir 1950-an mulai model rambut disasak. Mode rambut dicat warna-warni, atau rambut-rambut palsu belum dikenal remaja waktu itu.

Sepanjang ingatan saya, belum ada anak perempuan di Jakarta pada 1950-an yang memakai jilbab. Selama saya bersekolah di SD, SMP, dan SMA tidak ada anak perempuan yang memakai jilbab, juga waktu menjadi mahasiswa pada 1960-an. Entah mungkin beberapa orang di kampung-kampung pinggiran Jakarta, tetapi biasanya hanya memakai kerudung tipis saja. Kerudung ini dipakai oleh ibu-ibu atau empok-empok.


Dikutip dengan seizin penerbit dari buku Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis, halaman 155-157. Bukunya bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau ke www.komunitasbambu.id dan telpon ke 081385430505

Lebih jauh lihat buku:

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee .

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee atau ke www.komunitasbambu.id dan telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY