Home Blog Page 22

Sukarno Suka Banyak Anak, Tak Suka KB

0

Bung Karno kurang mendukung program KB. Ia ingin Indonesia berpenduduk besar karena luas tanahnya. Tetapi, pada 1957, sahabat-sahabatnya justru membentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam Kongres Wanita di Yogyakarta.


Seingat saya penduduk Jakarta pada 1950-an diwarnai dengan banyaknya anak-anak dan remaja yang kelihatan di mana-mana, baik di pekarangan rumah, jalan, maupun lapangan. Waktu itu, para keluarga umumnya mempunyai jumlah anak yang relatif banyak. Di zaman itu belum dikenal program keluarga berencana (KB). Jadi biasa kalau keluarga mempunyai anak lima sampai sepuluh orang—seperti bait nyanyian Lilis Suryani berjudul Gang Kelinci yang berbunyi, “….karena banyak anak-anak, seperti negeri kelinci…” Termasuk keluarga-keluarga tetangga saya.

[slideshow_deploy id=’1387′]

Rekomendasi Buku Yang Terkait

Saya teringat keluarga tetangga saya yang anaknya banyak sekali dan perbedaan usia mereka sangat berdekatan sehingga kami sering menyebut mereka kalau sedang berjalan bersama-sama sebagai “bererot-rerot”.

Baca Juga:

  1. Awal Batavia Kota Markas Dagang
  2. Abdul Chaer Ahli Linguistik Asli Betawi, Raih Penghargaan Seni dan Budaya
  3. Jakarta 1970-an Kenangan Menjadi Dosen

Banyak anak sudah dianggap sebagai takdir pada zaman itu. Sehingga ada anggapan atau pepatah sejak dulu yang mengatakan “banyak anak banyak rezeki”. Entah benar entah tidak, itulah yang dipercayai orang waktu itu. Saya kira pepatah itu sebagai ungkapan untuk pembenaran atau penghibur dari keadaan hidup yang harus mereka terima, yaitu banyak anak, suka atau tidak suka.

Saya kira tidak ada ibu-ibu yang senang kalau hampir setiap tahun harus hamil dan melahirkan. Dari banyak penelitian, kebanyakan wanita sebenarnya menginginkan mempunyai anak sekitar 2-3 orang saja.

Anak-anak berlatih senam pagi di kota Jakarta pada 1950-an

Dari data yang saya ketahui, tingkat kesuburan atau fertilitas pasangan usia subur di Indonesia pada 1950-an sekitar 5,7. Artinya rata-rata setiap ibu di Indonesia mempunyai 5,7 anak. Tidak heran kalau banyak keluarga mempunyai anak sekitar 5-6 orang. Sesudah 1990-an tingkat kesuburan ini turun menjadi 2,7 yang disebabkan terutama karena adanya program nasional KB sejak 1970-an dan perbaikan taraf sosial ekonomi masyarakat.

Pada 1950-an sedikit sekali ibu-ibu yang bekerja mencari nafkah. Menurut data sensus 1961, hanya 16 persen perempuan yang bekerja dan umumnya sebagai buruh, dan kebanyakan atau 60 persen hanya sebagai ibu rumah tangga. Selebihnya mereka bekerja di sektor informal atau tidak jelas.

Ibu saya pun hanya ibu rumah tangga biasa, begitu juga kebanyakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggal saya. Mereka tidak terlalu repot mengurus banyak anak. Selain itu, jarang sekali pada zaman itu perempuan yang melanjutkan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi.

Kebanyakan mereka hanya sampai SD dan SMP saja sehingga usia menikah perempuan pertama kali waktu itu juga relatif rendah, mungkin di Jakarta rata-rata sekitar 16 tahun. Untuk kelompok menengah ke atas mungkin sekitar 18-19 tahun. Ibu saya sendiri menikah pada usia 20 tahun. Faktor ini pula yang menyebabkan fertilitas ibu-ibu di masa itu tinggi.

Artikel dikutip dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970, hlm. 29-31.

Keadaan ini semua menyebabkan pemandangan di Indonesia termasuk di Jakarta waktu itu diwarnai dengan banyaknya anak-anak yang terlihat di mana-mana. Selain memang jumlah anak banyak, juga umumnya karena anak-anak sering bermain di luar, di jalanan, atau di tanah lapang. Selain itu pula karena orang-orang lanjut usia (lansia) tidak banyak karena umur harapan hidup rata-rata orang Indonesia waktu itu mungkin sekitar 57 tahun.

Dari data yang saya peroleh, angka kematian di Jakarta waktu itu cukup tinggi, yaitu sekitar 16 perseribu—setelah 1970-an turun menjadi separuhnya, yaitu sekitar 8 perseribu. Jadi, banyak yang sudah mati lebih dahulu sebelum mencapai lansia. Lagi pula, kebiasaan waktu itu bagi orang-orang lansia tinggal diam di rumah. Mungkin karena kesulitan transportasi untuk bepergian atau minimnya tempat-tempat rekreasi yang dapat dikunjunginya dengan mudah dan nyaman sehingga tidak banyak orang-orang tua yang terlihat di luar rumah.

Pada waktu itu, jarang sekali pasangan yang membatasi jumlah anak. Orang belum mengenal cara ber-KB. Belum ada penyuluhan atau pembicaraan tentang KB dalam wacana publik sehingga sedikit sekali keluarga yang hanya mempunyai anak satu atau dua orang saja. Kalaupun ada, kemungkinan bukan karena ber-KB atau disengaja, tetapi karena sebab lain.

Sebenarnya sesudah pertengahan 1950-an ada upaya mengatur jumlah anak, tetapi belum populer dan terbuka, masih sporadis sekali. Istilah KB belum dikenal. Dari buku sejarah KB di Indonesia, sebenarnya ada beberapa dokter atau spesialis kandungan di Jakarta pada 1950-an yang memberikan penerangan dan pelayanan untuk mencegah kehamilan, tetapi jumlah mereka sangat sedikit.

Caranya pun masih menggunakan cara-cara KB yang sederhana. Waktu itu Bung Karno kurang mendukung program KB, terutama bila dikaitkan dengan pembatasan jumlah penduduk. Bung Karno justru menginginkan agar penduduk Indonesia yang waktu itu sekitar 100 juta orang dapat ditambah hingga mencapai 250 juta orang.

Walaupun Bung Karno mengakui ibu-ibu Indonesia melahirkan layaknya seperti kelinci—dalam percakapannya dengan Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones seperti ditulis dalam bukunya Indonesia, the Possible Dream, menurut Bung Karno, luas tanah Indonesia masih sanggup menampung dan menghidupi sebanyak 250 juta penduduk. Selain itu, Bung Karno menganggap penduduk yang besar sebagai suatu kekuatan.

Namun, pada 1957 terbentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam Kongres Wanita di Yogyakarta. Perkumpulan ini justru dipelopori oleh beberapa tokoh yang dekat dengan Bung Karno, seperti dr. Suharto, dokter pribadi Bung Karno, dan dr. Hurustiati Subandrio. Tujuannya terutama untuk kesehatan ibu, bukan untuk pembatasan jumlah penduduk, sehingga Bung Karno tidak melarangnya.

[slideshow_deploy id=’1387′]

Rekomendasi Buku Yang Terkait



Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970, hlm. 29-31. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak,Shopee atau kontak langsung ke 081385430505  

Abdul Chaer, Ahli Linguistik Asli Betawi Raih Penghargaan Seni dan Budaya

0

Belum lama ini tokoh budayawan Betawi Abdul Chaer mendapatkan penghargaan dari Bentara Budaya Jakarta, sebagai salah satu pengabdi seni budaya Betawi. Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan Milad ke-35 tahun Bentara Budaya (26/9).

Ketujuh orang yang telah mendapatkan penghargaan tersebut adalah: Rudolf Puspa (penggerak teater), Abdul Chaer (penelaah sastra Betawi), Ni Luh Menek (tokoh penari), Samadi (pelestari topeng), Pardiman Djoyonegoro (penggiat akapela mataraman), Toni Harsono (penghidup wayang Potehi), dan Cak Kirun (tokoh Ludruk serta ketoprak).

Sosok Abdul Chaer atau yang akrab disapa Babe Chaer, lahir di Karet Kubur, Tenabang, Jakarta. Dia adalah pensiunan Lektor Kepala (gol.IVD) dalam mata kuliah Linguistik di Universitas Negeri Jakarat (dulu IKIP Jakarta).

Jakarta 1970-an Kenangan Sebagai Dosen

0

Pada 1970-an, Jakarta mengalami pembangunan besar-besaran. Terjadi perubahan wajah kota dengan dibangunnya Taman Ismail Marzuki, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Fair, Taman Impian Jaya Ancol, hotel-hotel internasional, jalan tol Jagorawi, lokalisasi perjudian dan pelacuran, serta berbagai tempat hiburan malam seperti nightclub, bar dan diskotek. Tetapi ada ketimpangan dalam pembangunan social politiknya. Dan berbagai peristiwa pun terjadi dalam masa 1970-an, seperti Peristiwa Malari, Aneksasi Timor-Timur, Penertiban NKK/BKK, Skandal Pertamina, munculnya Golput, Kasus Sawito serta Operasi Tertib dapat dianggap sebagai ekses pemerintahan Orba yang akhirnya memicu gerakan perlawanan kaum intelektual.
Buku ini bukan saja membahas pergulatan sosial-politik yang terjadi di Jakarta pada 1970-an, tetapi juga bagaimana pembangunan awal Orde Baru sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat ibukota.

Kunjungi Jakarta 1970-An: Kenangan Sebagai Dosen

Jakarta 1960-an Kenangan Semasa Mahasiswa

0

Setelah sukses dengan Jakarta 1950-an , melalui buku ini Firman Lubis kembali mengisahkan kesaksiannya ihwal Jakarta 1960-an. Ia menyajikan kondisi dan komposisi penduduk yang semakin beragam dengan rasisme yang muncul juga oleh penduduk miskin ras kulit putih. Termasuk suasana lalulintas Dan alat Transportasi lama maupun Yang baru, perubahan Fisik kota Oleh masifnya pembangunan jalan, gedung Dan monumen Serta perubahan gaya Hidup remaja also Orang Tua kota gede Jakarta. Ia juga membeberkan kisah-kisah revolusi dan antineokolonialis serta intrik-aksi politik Demokrasi Terpisahkan yang berakhir dengan G30S 1965.

Testimoni

Sebagai sebuah buku nostalgia, karangan Prof Firman Lubis; guru, senior, sekaligus kawan saya, ini sangat menarik. Firman menyampaikannya dengan lugas dan mengalir sesuai ingatannya di masa itu. Tidak ada kecenderungan untuk buku-buku sejarah, sampai saat ini diproduksi. Firman bercerita tentang istilah orde lama dan orde baru, pergolakan Irian Barat hingga Malaysia, juga tentang FKUI; almamaternya, mulai dari masa perpeloncoan sampai gaya hidup mahasiswa.

Gambar-gambar yang masuk membuat pembaca sedikit banyak menggunakan berimajinasi tentang apa yang diceritakan di dalam buku ini. Jika harus menyebutkan kekurangannya, itu pasti terletak pada fakta-fakta yang tidak mampu mengungkapkan detilnya secara mendalam. Isi isi buku ini adalah ingatan Firman-yang oleh individu, lebih cocok disebut sebagai buku nostalgia dibandingkan buku sejarah.

Hebat, Prof! Kawan-kawan saya bilang, saya harus bisa seperti Anda. – Ahmad, goodreads.com

 

kunjungi Jakarta 1960-An: Kenangan Semasa Mahasiswa

Jakarta 1950 Kenangan Semasa Remaja

0

Jakarta menyimpan banyak cerita dan ragam baik bagi para pendatang maupun penduduknya. Namun, cerita dan kenangan itu akan lenyap saat orang yang memiliki cerita dan kenangan itu telah tiada. Ditambahkan lagi, orang-orang yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menulis kenangannya.
Generasi berikut ini sangat menguntungkan jika cerita dan kenangan itu dapat disajikan, misalnya dalam bentuk tulisan atau gambar (foto). Memang tidak semua kenangan bisa terkunci. Namun, sudah potongan usia bisa diakses oleh generasi berikut.

Salah satu upaya itu diwujudkan dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja , tulisan Firman Lubis. Tahun 50-an merupakan masa peralihan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda ke pemerintah Indonesia yang kompilasi itu masih balita. Banyak cerita menarik seputar tahun 50-an yang tak kalah dengan gegap gempitenang masa revolusi. Oleh karena itu, kami berharap banyak kisah unik dan menarik dalam buku ini. Apalagi jika melalui kaca mata seorang remaja yang penuh gejolak dan semangat petualangan.

Harapan itu hampir menjadi fakta. Lubis membagikan cerita unik khas remaja, Misalnya “becak komplit”, transportasi umum untuk rakyat yang juga bekerja sebagai tempat bermesraan (hlm. 127), bermain layang-layang di atap rumah tanpa khawatir terkena setrum listrik (hlm. 243), mode celana pendek ketat yang ujungnya hanya sedikit di bawah pangkal paha (hlm. 251), razia celana ketat dan blue jeans yang mencampurnya disebut celana jengki (dari kata yankee ) oleh polisi dan tentara. Cara menentukan celana itu sempit atau tidak dengan menggunakan botol. Celana menghargai jika botol tidak dapat dimasukkan ke dalam kaki celana. Jika diperhatikan maka celana akan digunting. Begitu celana blue jeans tanpa ampun langsung digunting (hlm. 252).

Lalu cerita tentang gaya rambut ala Tony Curtis, gaya rambut tanpa belahan dengan jambul tinggi di tengah yang ditarik ke depan. Bagian kiri dan kanan rambut disisir ke belakang. Supaya tatanan rambut tidak cepat rusak karena angin dan tahan lama. Minyak rambut yang dipakai berbahan dasar vaselin pekat diberi minyak wangi menyengat. Salah satu merek terkenal adalah Lavender yang bisa dibeli di kaki lima (hlm. 253).

Kenangan yang tidak kalah menariknya adalah cerita tentang buku dan video porno yang ternyata sudah di masa itu. Menurut Lubis, buku-buku yang berbau porno itu sangat saku dan kualitas cetakannya kurang bagus. Harganya pun lumayan mahal untuk kantong remaja. Tidak ada buku berisi gambar yang dituliskan dalam bentuk cerita. Contoh buku seri Amerika 128 yang membahas suatu organisasi rahasia yang membongkar dan melawan kejahatan. Cerita kriminal itu sering diselingi dengan cerita adegan porno yang birahi remaja (hlm. 274).

Demikian pula dengan kisah si Ja’im, tukang catut (calo) karcis layar Metropole atau Menteng. Anak kampung Pedurenan ini marah jika memanggil si Ja’im. Pria besar yang juga jagoan ini hanya mau dipanggil Eddy (hlm. 262).

Namun, cerita-cerita itu tidak bisa langsung dibaca. Pada bab-bab awal kami disuguhi dengan biografi penulisnya dan juga cerita-cerita yang berputar pada masa-masa penting menjelang 1950-an seperti pendudukan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan dan perang revolusi. Firman Lubis menjelaskan alasannya untuk menemukan orang-orang yang paling baik bukan orang di bagian penutup. Bagi yang ingin mengetahui secara langsung cerita-cerita unik khas remaja tahun 1950-an tentu kisah memutar-balik yang penting itu membosankan.

Ditulisnya kenangan tahun 1950-an pada masa yang berbeda (tahun 2000-an) tentu memiliki konsekuensi. Seperti yang terjadi pada buku ini. Lingkar penulis pada masa kini yang telah memiliki pengalaman berbeda jika kenangan itu dituliskan, misalnya pada tahun 1960-an. Pandangan polos remaja tentu berbeda dengan orang dewasa yang telah makan asam garam. Misalnya, kritik penulis untuk dunia pendidikan (hlm. 228-229), lingkungan (Bab VI), status sosial (hlm. 113).

Firman Lubis, si anak Menteng buang seorang sejarawan. Ia adalah guru besar FKUI bidang kedokteran komunitas dan memfokuskan yang memiliki hobi pada sejarah. Hal itu terlihat dalam bacaannya yang luas tentang sejarah yang besar jadikan referensi untuk beberapa pemutaran penting. _____ _____ _____ bagi bagi dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat dapat disarankan disarankan disarankan disarankan

Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi foto-kadang cukup mana yang mengumpulkan pribadi dan mana yang tidak-cukup tanpa indeks cukup menarik untuk dibaca. Bagi mereka yang seusia dengan Firman Lubis dapat mengenang masa lalu sementara untuk generasi setelahnya dapat berlalu.

Bagi sejarawan, buku ini juga layak dijadikan “sumber” data sejarah sosial Jakarta masa 50-an. Namun tentu saja harus didukung dengan data lain dan lebih lanjut. Mengingat kalimat-Kalimat meragukan yang penulisnya seperti “kalau tidak salah …”, “seingat saya …”, “dari yang pernah saya dengar …”.

Satu hal yang bisa dilakukan Pelajaran dari buku ini adalah setiap orang yang dapat menulis sejarahnya (baca: kenangannya) yang mungkin saja kelak dapat bermanfaat bagi orang lain. Tidak perlu menunggu masa depan seperti yang dikhayalkan oleh Firman Lubis: jika bisa hidup kembali ke masa 1950-an hal yang pertama yang dilakukan adalah memotret berbagai keadaan dan kehidupan di Jakarta dan masa itu.


Achmad Sunjayadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sumber