Awal Batavia Kota Markas Dagang

0
1841
Awal Batavia zKota Markas Dagang
Awal Batavia Kota Markas Dagang

Batavia dibangun untuk memenuhi mimpi-mimpi  elitenya yang ingin markas dagang sama seperti kota di negerinya, Belanda. Warganya tak punya hak-hak sipil. Pegawai VOC jika mau kembali ke Eropa tergantung pada dorongan hati gubernur jenderal. Bahkan, menikah pun sulit jika ia tidak menyetujuinya.


Di tengah-tengah hutan kawasan dunia timur, orang Belanda membangun jalan-jalan dan kanal-kanal yang sama seperti di negerinya, tidak gentar meskipun kadang kala buaya-buaya menelusuri kanal hingga ke tengah kota. Struktur pertama yang mereka dirikan adalah benteng yang pada mulanya dibangun menjorok ke laut di muara Ciliwung, tapi tidak lama kemudian dikelilingi daratan karena garis pantai bertambah jauh ke utara. Pada tahun-tahun awal Batavia, benteng tersebut adalah VOC karena semua bangunan VOC berada di dalam benteng, seperti kediaman gubernur jenderal, bengkel, perbendaharaan, garnisun, gudang senjata, gedung administrasi dan akuntansi, penjara, gereja pertama dan ruang pertemuan Dewan Hindia (Raad van Indië) yang merupakan badan pemerintah.

Baca Juga:

  1. Sukarno Suka Banyak Anak, Tak Suka KB
  2. Abdul Chaer, Ahli Linguistik Asli Betawi Raih Penghargaan Seni dan Budaya
  3. Jakarta 1970-an Kenangan Menjadi Dosen

Para pengunjung menulis dengan penuh penghormatan mengenai kemegahan dan formalitas penanganan urusan VOC di dalam benteng, dan ruang pertemuan Dewan Hindia pun menjadi saksi peristiwa-peristiwa bersejarah seperti penandatanganan kontrak dengan Sultan Makasar pada 1669. Namun, benteng tersebut sangat kecil dan penuh bangunan. Kondisi ini pasti sangat mengekang para juru tulis yang harus duduk di kantor administrasi selama berjam-jam di siang hari dan terperangkap di loteng pada malam hari.

Sejumlah aktivitas yang dilakukan di dalam benteng berkembang pesat dan menyebar ke kota yang dikelilingi dinding dan berkembang semakin jauh ke selatan. Pada 1645, upaya memperkuat benteng pada dua bagian kota di sisi timur dan barat Ciliwung telah selesai. Bengkel-bengkel VOC yang mayoritas pekerjanya adalah budak, dipindahkan ke sudut tenggara kota. Pada sisi seberang kali, di benteng bagian baratdaya, berdiri bangunan-bangunan dermaga utama yang masih ada hingga kini dalam kondisi terbengkalai. Di tempat inilah barang dagangan VOC dibongkar muat.

Tidak jauh dari sana dibangun gudang-gudang bergaya barat yang sangat besar, kini menjadi Museum Bahari. Dinding tebal gudang-gudang ini membentuk dinding utara kota, seperti yang dapat dilihat dari tempat berjalannya para penjaga di sepanjang bagian atas dinding. Ruangan-ruangan besar dan loteng-loteng kayu gudang pada mulanya menjadi tempat menyimpan pala dari Indonesia bagian timur, lalu nantinya menjadi tempat menyimpan teh dan sutra Cina serta kopi lokal yang menunggu diekspor ke Belanda.

Tidak ada barang dari Eropa yang diimpor dan disimpan di gudang tersebut karena Belanda tidak memiliki sesuatu yang diinginkan Asia selain koin perak. Dari jendela loteng, orang dapat melihat kali yang berada dekat gudang, di sanalah selama beratus-ratus tahun kapal-kapal antarpulau yang bagus berlabuh.

Artikel dikutip dari buku Susan Blackburn, Sejarah 400 Tahun Jakarta, hlm. 20-27.

Dari kali, VOC membangun kanal-kanal yang mengelilingi dan melewati kota, serta memberikan penampilan khas Belanda. Kali pun diluruskan sehingga menjadi kanal terbesar. Semua ini dilakukan bukan demi nostalgia, tapi demi kegunaan yang sama seperti kanal di kota-kota Belanda. Karena dataran Batavia terlalu rendah, maka tanah tempat gedung-gedung dibangun harus ditinggikan agar permukiman tidak dilanda banjir. Selain itu, seperti di kota-kota Belanda, kanal-kanal tersebut digunakan untuk transportasi.

Perahu-perahu yang membawa barang-barang dari pedalaman datang dari hulu kali menelusuri kanal hingga tempat tujuan, sedangkan kapal-kapal dari luar negeri yang terlalu besar untuk memasuki kali berlabuh di teluk dan membongkar muatannya ke tongkang yang biasa menelusuri jalur air dalam kota. Sementara itu kapal jung Cina dapat berlayar ke dalam kali hingga ke kanal untuk membongkar muatannya.

Di tempat yang sekarang bernama Jalan Blandongan Selatan—dulunya merupakan jalan kanal yang dikenal dengan nama Bacharachtsgracht—masih berdiri sebuat klenteng kecil Cina yang dibangun pada abad ke-18 bernama Klenteng Dewi Samudera yang dipersembahkan kepada dewi penguasa lautan. Para pelaut Cina dapat melompat dari kapal jung di depan kuil untuk membakar dupa sebagai tanda terimakasih atas kesuksesan perjalanan mereka.

Di depan serambi dengan pilar-pilar merah yang dililit hiasan naga dan diapit patung singa dari batu, kemungkinan sering digelar pertunjukan wayang Cina sebagaimana dijelaskan pada 1720-an: “Ketika orang Cina selamat tiba di tempat setelah berlayar dengan kapal jung atau wangkang, mereka biasa menyelenggarakan pertunjukan wayang, yaitu teater Cina dengan kisah lucu atau tragis seperti yang sering dipentaskan di Batavia …. Para aktornya adalah pemuda-pemudi miskin yang dikontrak untuk tujuan tersebut ….Pertunjukan tersebut, baik komedi maupun tragedi, dimulai pada Senin jam tiga atau empat sore dan berlangsung hingga jam enam, setelah itu mereka istirahat untuk makan lalu memulai pertunjukan lagi dari jam sembilan malam hingga jam tiga atau empat pagi.

Orang-orang Cina yang baru datang membayar biaya pementasan ini secara patungan antara tiga atau empat orang. Siapa pun yang ingin dapat datang dan menyaksikan pertunjukkan tanpa membayar. Bila ada tokoh terkemuka, mereka dijamu di dalam kuil dengan teh, manisan dan sampsoe, arak Cina yang keras.”

Seperti di Belanda, orang ingin tinggal di tepi kanal karena daerah tersebut lebih nyaman dan lebih bergengsi. Perumahannya sangat menyerupai Belanda, bangunannya berlantai satu atau dua dengan dinding samping yang menempel dengan bangunan sebelahnya. Peraturan bangunan mewajibkan penggunaan bata untuk bangunan di dalam kota karena bahaya kebakaran. Peraturan yang sama juga mencegah menjamurnya kios yang sangat disukai orang Asia.

Dalam pandangan Belanda, kios-kios tersebut ini membuat jalan menjadi kumuh. Orang Eropa menyukai area terbuka di depan setiap rumah, karena tidak ada halaman depan, rumah-rumah memiliki semacam serambi di depannya yang dipisahkan dari trotoar dengan pagar hingga sekitar tahun 1700, tempat para penduduk dapat duduk di pagi atau sore hari yang sejuk untuk merokok dengan cangklong atau meminum anggur.

Pada pandangan sekilas, rumah-rumah tersebut terlihat persis seperti rumah-rumah di Belanda, dan perbedaannya memang sangat kecil. Nuansa kota Batavia kuno masih dapat dirasakan melalui berjalan kaki di banyak jalan di Kota, bagian utara Jakarta modern, terutama di sepanjang bagian selatan Kali Besar, yaitu kali yang dijadikan kanal. Setelah melewati jembatan jungkit terakhir buatan Belanda yang masih berdiri di Jakarta dan terlihat seperti sebuah lukisan Rembrandt, terdapat deretan gedung tua dan elok tak jauh dari tepi kali serta beberapa gedung paling mengagumkan.

Gedung-gedung ini merupakan contoh arsitektur Belanda lama. Satu-satunya kompromi arsitektur terhadap iklim tropis adalah atap dengan kemiringan tajam yang menjorok keluar dari lantai atas seperti serambi. Tampilannya sederhana, dinding polos diselingi jendela-jendala tinggi berbentuk persegi dan ornamen utamanya berada di pintu masuk. Pintu bangunan merah tersebut dipahat secara elegan dari batu yang diimpor sebagai penyeimbang kapal dari pantai India, sedangkan pada bagian atas kosen pintu bank terdapat panel kayu yang diukir gaya barok dan bersepuh emas.

Bagian dalam bangunan-bangunan ini sangat sempit dan pengap, udara panas terperangkap di dalam halaman kecil dan tertutup di bagian belakang gedung. Kebanggaan kota Batavia adalah jalan kanalnya, dan kanal terbaik kota adalah Kanal Harimau, tempat yang dipilih orang-orang Batavia terkaya sebagai tempat tinggal.

Sisi jalan yang diisi deretan rumah sederhana dan teratur pada mulanya dinaungi banyak pohon kelapa, pada akhir abad ke-17 diganti pohon asam jawa, kenari dan tanjung yang lebih besar. Pemandangan tersebut membuat kagum para pengunjung awal Batavia. Jan de Marre—penyair yang ditunjuk pemerintah pada masa Batavia Lama—memuji daerah ini melalui syair panjang yang berlebihan dan bertele-tele,12 para pengunjung lain yang tidak bias pendapat pun memberikan sanjungan.

Seorang Jerman bernama Christopher Fryke yang mengunjungi Batavia pada 1680-an menganggap tempat tersebut lebih indah daripada Amsterdam.  Pada 1718, seorang Portugis bernama Innigo de Biervillas menuliskan tentang keelokan kota, makanan yang berlimpah dan lingkungan Batavia yang sehat—hal yang terakhir disebutkan terdengar mengagumkan mengingat reputasi buruk kota ini di kemudian hari.

Pada 1720-an, Francois Valentijn meningkatkan antusiasme orang-orang terhadap  kanal indah Batavia dengan pohon-pohon asam jawa dan pohon berbunga lainnya yang membuat suasana terasa menyenangkan sepanjang hari.

Meskipun tidak banyak bangunan di Batavia yang dapat dibandingkan dengan bangunan terbaik di Belanda, ada sebuah bangunan yang tidak akan membuat malu Batavia dan masih berdiri hingga kini, yaitu Balai Kota. Bangunan megah berlantai dua yang diselesaikan pada 1710 ini dihiasi sebuah menara beratap kubah.

Balai Kota dapat dilihat sebagai cabang sipil pemerintahan dibandingkan dengan VOC yang bernaung di benteng dan terletak berhadapan secara langsung di ujung sebuah jalan pendek. Di Balai Kota dapat ditemukan sebagian besar kelengkapan pemerintahan kota Belanda: dewan kota, wali amanah panti asuhan, pengadilan sipil dan penjara, serta badan pendaftaran perkawinan.

Namun, dualisme tersebut hanyalah ilusi karena kota ini dikuasai sepenuhnya oleh VOC yang menunjuk sebagian besar dewan kota. Perusahaan ini juga menunjuk para pendeta gereja Reformasi yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya gereja yang diperbolehkan di Batavia. Keputusan dewan harus disetujui gubernur jenderal yang juga mengendalikan keuangan kota.

Dengan lama perjalanan rata-rata tujuh bulan dari Belanda, penduduk Batavia berada dibawah kuasa VOC dan sistem keadilannya yang berwujud sejumlah sayap penjara yang menempel dengan Balai Kota dan penjara bawah tanah yang berada di bawah gedung.

Populasinya tidak memiliki hak-hak sipil. Bagi para pegawai VOC, disetujui atau tidaknya izin untuk kembali ke Eropa tergantung pada dorongan hati gubernur jenderal. Bahkan, menikah pun sulit jika ia tidak menyetujuinya. Batavia Lama, seperti kebanyakan kota pada abad ke-17 dan ke-18, merupakan tempat sering terjadinya hukuman yang keras.

Orang-orang dipasung di lapangan berlantai batu di depan Balai Kota merupakan pemandangan yang biasa terlihat pada masa itu. Suatu hari pada 1676, seorang Eropa yang sedang berkunjung menyaksikan 4 orang dipenggal, 6 orang disiksa di atas roda, 1 orang digantung serta 8 orang dicambuk dan dicap besi panas.



Dikutip dengan se-izin penerbit Masup Jakarta dari buku Susan Blackburn, Sejarah 400 Tahun Jakarta, hlm. 20-27. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee atau kontak langsung ke 081385430505