Sukarno Suka Banyak Anak, Tak Suka KB

0
1741
Sukarno, Fatmawati dan kelima anaknya
Sukarno, Fatmawati dan kelima anaknya

Bung Karno kurang mendukung program KB. Ia ingin Indonesia berpenduduk besar karena luas tanahnya. Tetapi, pada 1957, sahabat-sahabatnya justru membentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam Kongres Wanita di Yogyakarta.


Seingat saya penduduk Jakarta pada 1950-an diwarnai dengan banyaknya anak-anak dan remaja yang kelihatan di mana-mana, baik di pekarangan rumah, jalan, maupun lapangan. Waktu itu, para keluarga umumnya mempunyai jumlah anak yang relatif banyak. Di zaman itu belum dikenal program keluarga berencana (KB). Jadi biasa kalau keluarga mempunyai anak lima sampai sepuluh orang—seperti bait nyanyian Lilis Suryani berjudul Gang Kelinci yang berbunyi, “….karena banyak anak-anak, seperti negeri kelinci…” Termasuk keluarga-keluarga tetangga saya.

Rekomendasi Buku Yang Terkait

Saya teringat keluarga tetangga saya yang anaknya banyak sekali dan perbedaan usia mereka sangat berdekatan sehingga kami sering menyebut mereka kalau sedang berjalan bersama-sama sebagai “bererot-rerot”.

Baca Juga:

  1. Awal Batavia Kota Markas Dagang
  2. Abdul Chaer Ahli Linguistik Asli Betawi, Raih Penghargaan Seni dan Budaya
  3. Jakarta 1970-an Kenangan Menjadi Dosen

Banyak anak sudah dianggap sebagai takdir pada zaman itu. Sehingga ada anggapan atau pepatah sejak dulu yang mengatakan “banyak anak banyak rezeki”. Entah benar entah tidak, itulah yang dipercayai orang waktu itu. Saya kira pepatah itu sebagai ungkapan untuk pembenaran atau penghibur dari keadaan hidup yang harus mereka terima, yaitu banyak anak, suka atau tidak suka.

Saya kira tidak ada ibu-ibu yang senang kalau hampir setiap tahun harus hamil dan melahirkan. Dari banyak penelitian, kebanyakan wanita sebenarnya menginginkan mempunyai anak sekitar 2-3 orang saja.

Anak-anak berlatih senam pagi di kota Jakarta pada 1950-an

Dari data yang saya ketahui, tingkat kesuburan atau fertilitas pasangan usia subur di Indonesia pada 1950-an sekitar 5,7. Artinya rata-rata setiap ibu di Indonesia mempunyai 5,7 anak. Tidak heran kalau banyak keluarga mempunyai anak sekitar 5-6 orang. Sesudah 1990-an tingkat kesuburan ini turun menjadi 2,7 yang disebabkan terutama karena adanya program nasional KB sejak 1970-an dan perbaikan taraf sosial ekonomi masyarakat.

Pada 1950-an sedikit sekali ibu-ibu yang bekerja mencari nafkah. Menurut data sensus 1961, hanya 16 persen perempuan yang bekerja dan umumnya sebagai buruh, dan kebanyakan atau 60 persen hanya sebagai ibu rumah tangga. Selebihnya mereka bekerja di sektor informal atau tidak jelas.

Ibu saya pun hanya ibu rumah tangga biasa, begitu juga kebanyakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggal saya. Mereka tidak terlalu repot mengurus banyak anak. Selain itu, jarang sekali pada zaman itu perempuan yang melanjutkan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi.

Kebanyakan mereka hanya sampai SD dan SMP saja sehingga usia menikah perempuan pertama kali waktu itu juga relatif rendah, mungkin di Jakarta rata-rata sekitar 16 tahun. Untuk kelompok menengah ke atas mungkin sekitar 18-19 tahun. Ibu saya sendiri menikah pada usia 20 tahun. Faktor ini pula yang menyebabkan fertilitas ibu-ibu di masa itu tinggi.

Artikel dikutip dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970, hlm. 29-31.

Keadaan ini semua menyebabkan pemandangan di Indonesia termasuk di Jakarta waktu itu diwarnai dengan banyaknya anak-anak yang terlihat di mana-mana. Selain memang jumlah anak banyak, juga umumnya karena anak-anak sering bermain di luar, di jalanan, atau di tanah lapang. Selain itu pula karena orang-orang lanjut usia (lansia) tidak banyak karena umur harapan hidup rata-rata orang Indonesia waktu itu mungkin sekitar 57 tahun.

Dari data yang saya peroleh, angka kematian di Jakarta waktu itu cukup tinggi, yaitu sekitar 16 perseribu—setelah 1970-an turun menjadi separuhnya, yaitu sekitar 8 perseribu. Jadi, banyak yang sudah mati lebih dahulu sebelum mencapai lansia. Lagi pula, kebiasaan waktu itu bagi orang-orang lansia tinggal diam di rumah. Mungkin karena kesulitan transportasi untuk bepergian atau minimnya tempat-tempat rekreasi yang dapat dikunjunginya dengan mudah dan nyaman sehingga tidak banyak orang-orang tua yang terlihat di luar rumah.

Pada waktu itu, jarang sekali pasangan yang membatasi jumlah anak. Orang belum mengenal cara ber-KB. Belum ada penyuluhan atau pembicaraan tentang KB dalam wacana publik sehingga sedikit sekali keluarga yang hanya mempunyai anak satu atau dua orang saja. Kalaupun ada, kemungkinan bukan karena ber-KB atau disengaja, tetapi karena sebab lain.

Sebenarnya sesudah pertengahan 1950-an ada upaya mengatur jumlah anak, tetapi belum populer dan terbuka, masih sporadis sekali. Istilah KB belum dikenal. Dari buku sejarah KB di Indonesia, sebenarnya ada beberapa dokter atau spesialis kandungan di Jakarta pada 1950-an yang memberikan penerangan dan pelayanan untuk mencegah kehamilan, tetapi jumlah mereka sangat sedikit.

Caranya pun masih menggunakan cara-cara KB yang sederhana. Waktu itu Bung Karno kurang mendukung program KB, terutama bila dikaitkan dengan pembatasan jumlah penduduk. Bung Karno justru menginginkan agar penduduk Indonesia yang waktu itu sekitar 100 juta orang dapat ditambah hingga mencapai 250 juta orang.

Walaupun Bung Karno mengakui ibu-ibu Indonesia melahirkan layaknya seperti kelinci—dalam percakapannya dengan Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones seperti ditulis dalam bukunya Indonesia, the Possible Dream, menurut Bung Karno, luas tanah Indonesia masih sanggup menampung dan menghidupi sebanyak 250 juta penduduk. Selain itu, Bung Karno menganggap penduduk yang besar sebagai suatu kekuatan.

Namun, pada 1957 terbentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam Kongres Wanita di Yogyakarta. Perkumpulan ini justru dipelopori oleh beberapa tokoh yang dekat dengan Bung Karno, seperti dr. Suharto, dokter pribadi Bung Karno, dan dr. Hurustiati Subandrio. Tujuannya terutama untuk kesehatan ibu, bukan untuk pembatasan jumlah penduduk, sehingga Bung Karno tidak melarangnya.

Rekomendasi Buku Yang Terkait



Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970, hlm. 29-31. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak,Shopee atau kontak langsung ke 081385430505