Bung Karno di Kampung Akuarium

0
2004
Desain pembangunan Kampung Akuarium

SEBERAPA bersungguh-sungguh Jakarta dengan sejarah? Mungkin bisa dimulai jawabannya dengan arti Kampung Akuarium bagi Bang Ali yang disebut Susan Blackburn, penulis Jakarta: A History, “kado terakhir Soekarno yang terbaik bagi Jakarta”.

Sebagai gubernur, Bang Ali ingin memenuhi panggilan tugas yang oleh Bung Karno “disuplant” ke dalam dirinya. Salah satunya tentang konsep Jakarta yang melaut dan membawa kemegahan Jakarat tidak hanya di gedung-gedung pencakar langitnya, jalan-jalan, dan monumen-monumennya, tetapi juga megah dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil para rakyat kecil di kota Jakarta ada kemegahan.

Laut adalah aspek yang mengutuhkan Jakarta karena memberi unsur air dari konsep Bung Karno bahwa ibu kota harus menjadi wajah muka Indonesia yang disebut tanah air. Inilah alasan mengapa Bang Ali mengarahkan pandangan ke Teluk Jakarta. Ia menstimulus dengan membentuk Otorita Pembangunan Samudra Jaya Ancol sebagai wajah bahari modern. Bersamaan ia memberi keseimbangan ke masa lalu Jakarta sebagai kota bandar dengan merevitalisasi kawasan kota tua Jakarta, Oud Batavia maupun Sunda Kelapa.

Selain bekas Stadhuis atau Balaikota Kompeni dijadikan Museum Fatahillah, Raad van Justitie atau Dewan Pengadilan Kompeni pun dipugar untuk Museum Seni Rupa. Di pengujung masanya sebagai gubernur, ia memugar bekas gudang rempah kompeni untuk Museum Bahari. Sekaligus direhabnya pelelangan Pasar Ikan dan Kampung Akuarium. Semua ini penting untuk wajah muka Jakarta sebagai kota bandar yang mewakili suatu ibu kota negara laut utama. Apalagi di kawasan Sunda Kelapa itu pula letak titik nol kilometer kota Jakarta. Tak pelak lagi kawasan Teluk Jakarta seharusnya menjadi titik awal pembangunan Jakarta.

Baca Juga:

  1. Kampung Orang Bugis di Jakarta
  2. Perseteruan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok
  3. Jasa Kuli Sindang Cirebon di Kanal Batavia

Pemugaran yang diikuti penerbitan banyak perda perlindungan bangunan tua di Teluk Jakarta dan di tengah kotanya seraya membuat Jakarta menjadi pemilik museum terbanyak di Asia Tenggara. Terlebih penting lagi dengan proyek itu Bang Ali memutus sikap mendua masyarakat terhadap arsitektur warisan kolonial: “menerima dan merawat atau menghancurkan?” Ia mewariskan contoh membangun Jakarta di atas ibu kota kolonial tanpa dibebani sentimen nasionalisme sempit yang memusuhi ingatan tentang masa kolonial yang maujud di ruang kota.

Bang Ali memilih mengambil alih arsitektural dan ruang warisan kolonial seraya ia “suplant” dengan cita-cita kota republik Bung Karno. Bukan hanya dalam artian bangunan, bahkan fungsi kelembagaan yang diperankan di masa kolonial pun dilanjutkan. Kampung Akuarium contohnya. Ia pulihkan cita-cita Dr. Sunier yang ditunjuk Departemen van Landbouw, Nijverheid en Handel, sebagai direktur pertama Laboratorium voor Onderzoek der Zee atau Lembaga Penelitian Laut Pemerintah Hindia Belanda. Tetapi, tidak lagi tertutup. Publik dapat mengunjungi. Sebab itu di Kampung Akuarium selain berseliweran para siswa sekolah kelautan dan peneliti mancanegara. Terlihat juga para pengunjung yang terkagum-kagum melihat koleksi kekayaan laut.

Para peneliti tinggal di kamar-kamar yang menghadap pelabuhan Sunda Kelapa. Atmosfer pengetahuan marine biology terasa lebih kuat dengan adanya perpustakaan kelautan yang menjadi “pintu gerbang” aneka buku dan jurnal sebagai medium dialog para penelitinya dengan komunitas ilmiah laut dunia.

Saking bangga dengan Kampung Akuarium dalam Gita Jaya, memoar serah-terima jabatannya yang terbit pada 1977, Bang Ali menyebutnya sebagai salah satu tanda keberhasilan pembangunan sektor pariwisata rakyat Jakarta (public recreation). Kebanggaan itu sebenarnya sudah diperlihatkan dalam Jakarta Membangun yang terbit 1972 dengan menyebut Kampung Akuarium sebagai “tujuan pariwisata kebun binatang laut satu-satunya di Indonesia”.

Kualitas kebun binatang laut itu memang bukan isapan jempol. Kronikus Jakarta, Firman Lubis, mencatat, “Terutama hari Minggu, banyak yang berkunjung ke Kampung Akuarium yang mempertontonkan berbagai macam ikan hias laut dengan terumbu karang yang indah. Bagus dan artistik sehingga senang melihatnya. Pada akhir 1970-an, akuarium ini ditutup. Entah kenapa, mungkin sudah tidak terurus lagi.”

Dalam buku Kunjungan ke Jakarta Ibukota-RI yang terbit 1983 karya SW Siswoyo yang berisi informasi kawasan wisata kota Jakarta dan diberi pengantar Gubernur R Soeprapto tidak ada lagi Kampung Akuarium. Muncul pembahasan panjang Samudra Jaya Ancol yang memiliki dua jenis akuarium air tawar dan air laut. Dipaparkan juga di sana juga para peneliti bekerja, salah satunya membuat pesut bisa beranak dalam kolam buatan manusia, sehingga menjadi bagian dari “pertunjukan pesut di dalam akuarium besar”.

Ada masa Kampung Akuarium pernah mengalami bencana yang hampir melenyapkan keberadaannya saat kaca-kaca setebal 2 cm yang panjang dan lebar diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok pada 1921 ternyata sudah menjadi bubuk. Begitu juga ketika kaca-kaca yang dipesan lagi tiba pada 1923 setahun kemudian pecah berantakan. Tetapi bencana berturut-turut itu tidak membuat Kampung Akuarium lenyap.

Lain halnya dengan bencana yang datang setelah Bang Ali purnatugas. Kampung Akuarium sebagai penanda aspek melaut Jakarta yang merepresentasikan tanah air pudar dengan cepat. Dalam gambar besar Jakarta, memudarnya Kampung Akuarium dapat dibaca sebagai bagian dari gelombang “commersial thinking” antara kaum modal dan pemerintah yang setelah Bang Ali selesai menjabat tak terkendali.

Kejatuhan Kampung Akuarium disusul dengan lenyapnya pantai publik di Jakarta. Laut, pantai yang semula dalam konsep kota Soekarno bagian dari modernisme sosialis, bergeser ke modernisme pasar di bawah asuhan bisnis dan property market. Dalam konteks modernisme pasar itulah, kampung-kampung di tengah kota dan di pesisir Jakarta distigmatisasi sebagai “sarang keburukan”. Tak terkecuali Kampung Akuarium. Penggusuran kampung itu yang dramatis pada 11 April 2016 dapat dilihat dalam konteks itu.

Sejarahnya semakin terkubur, sedang stigmatisasinya kian meninggi. Dikatakan bahwa alasan penggusuran untuk menata kawasan sejarah bahari Jakarta, tetapi suara Gubernur Ahok yang santer justru soal kampung itu sarang penyakit TBC dan maling tanah negara. Bukan sejarawan atau arkeolog, melainkan polisi dan tentara yang pertama diajaknya bicara dan direstui membuka posko di Kampung Akuarium.

Selang setahun kemudian—saat Kampung Akuarium mengenang peristiwa penggusuran yang merendahkan martabat kemanusiaan mereka—sejarah tak juga dapat kesempatan bicara menyusul kekalahan Ahok untuk menjabat lagi sebagai gubernur. Ahok dalam sisa masanya sebagai gubernur menyatakan akan menggusur warga yang masih bertahan di reruntuhannya. Tak ada perubahan sampai kemudian Ahok masuk bui dan menulis surat pengunduran dirinya.

Gubernur baru, Anies Baswedan, membawa tanda cerah. Ia memberi kemungkinan Kampung Akuarium dari atas reruntuhannya mengungkapkan sejarah. Tantangannya adalah bagaimana dapat kembali menaruh pembangunan Kampung Akuarium dalam satu kawasan wisata terpadu Teluk Jakarta dan revitalisasi kawasan sejarah, tanpa melupakan aspirasi serta inspirasi Bung Karno sekaligus Bang Ali tentang betapa pentingnya ibu kota memiliki wajah maritim yang menjadi penanda aspek laut mengingat bentuknya Indonesia sebagai archipelagic state atau negara laut yang utama.

Tetapi, terutama yang tak kalah menantang adalah bagaimana di dalam konsep itu pun tidak melupakan tempat bagi orang-orang kecil yang menjadi nelayan dan pekerja produk akuatik di sekitar Teluk Jakarta. Sebab hanya dengan begitu pengembangan kawasan teluk Jakarat bukan melulu urusan pelestarian dan ekonomi belaka, tetapi juga kemanusiaan. Lagi pula jika ide open air museum menjadi gagasan yang paling ideal untuk kawasan Teluk Jakarta, bukankah selain perlu menyelamatkan warisan sejarah kolonial dan pra kolonial di Teluk Jakarta, tak kalah perlu menyelamatkan orang laut, orang pulau, serta masyarakat pesisirnya agar budaya laut dengan pelayarannya berkesinambungan.

Selain itu tentu saja dengan memberi ruang bagi masyarakat di sekitar Teluk Jakarta akan menjadi suatu titian ke masa lalu, saat para penghuni awal kawasan sekitar Kampung Akuarium dan Luar Batang didatangkan Kompeni di awal abad ke-18 dari kawasan Pantai Utara Jawa dan Jawa bagian timur yang disebut sebagai Wetanger sebagaimana tercatat dalam Oud Batavia karya klasik F. de Haan.

Akhirnya jika ditemukan jalan, maka dari Akuarium dapat ditunaikan amanat Sukarno dan visinya atas Jakarta: “Marilah saudara-saudara, hai saudara-saudara di Jakarta, kita bangun Jakarta ini dengan cara semegah-megahnya. Megah bukan saja materiil, megah bukan saja karena gedung-gedungnya pencakar langit, megah bukan saja ia punya boulevard-boulevard, lorong-lorongnya indah, megah bukan saja ia punya monumen-monumen indah, megah dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil daripada marhaen di kota Jakarta harus ada kemegahan.”


Pernah dimuat di Koran Sindo, 6 Juni 2017