Ibu Tien Soeharto, Anggrek Bulan, dan Imperium Kolonialis

0
545
Anggrek bulan (phalaenopsis amabilis) yang mendapat nama dari ibu Tien Suharto. Anggrek spesies dan endemik yang ditemukan di Tele, daerah atas Danau Toba, Sumatra Utara ini disebut “cymbidium hartinahianum”. Foto: Yoshi Fajar Kresno Murti.

Pada 20 April 1993, Presiden Republik Indonesia, HM Soeharto, meresmikan Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Sebagaimana TMII, begitu pula TAIP adalah ide Ibu Negara Tien Soeharto. Dalam sebuah brosur TAIP disebutkan idenya untuk menghargai dan mengharumkan kaum perempuan Indonesia. Tetapi, betulkah demikian?

TAIP bermula dari sebuah tanaman yang “dipaksa” merepresentasikan identitas sebuah bangsa, yaitu anggrek bulan (phalaenopsis amabilis). Bunga ini dipilih dan ditetapkan langsung oleh Presiden Suharto melalui Keputusan Presiden Nomor 4/1993 menjadi salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia yang disebut “puspa pesona”.

Bersama ditetapkannya anggrek bulan sebagai bunga nasional, maka Indonesia masa Orde Baru memasuki pergaulan dunia negara-negara yg telah lebih dahulu mempunyai bunga nasionalnya masing-masing. Indonesia berdiri gagah bersama Vietnam yang punya bunga nasional bunga Lotus. Malaysia yang punya bunga nasional bunga Sepatu (bunga Raya).

Baca Juga:

  1. Ancaman bahaya Binatang Buas di Batavia
  2. Senggawangan Sang Bulus Raksasa Ciliwung
  3. Inspirasi Seabad “Garden of The East”

Anggrek bulan hidup menyebar di Nusantara hingga Australia. Sejak dikenali oleh botanis dan dinamai pertama kali (baca: “ditemukan”) pada pertengahan abad ke-17 di Maluku, anggrek bulan mempunyai sejarah penamaan yang panjang. Sampai akhirnya disepakati masuk marga phalaenopsis yg dipakai sampai sekarang sebagaimana dipublikasikan oleh botani Belanda, C. L. Blume.

Anggrek bulan menjadi indukan dasar berbagai bunga hibrida yg beraneka warna dan jenis dan banyak diproduksi oleh Singapura. Negara yg berbeda dengan negara lain karena tidak punya hutan yg luas, sehingga khazanah bunga nasionalnya bukan berasal dari alam, tetapi dari laboratorium. Bunga nasional Singapura adalah jenis hibrida (silangan) yang disebut anggrek “miss joaquim”, tetapi lebih dulu ditetapkan, yaitu dua tahun sebelum Indonesia mengumumkan anggrek bulan sebagai bunga nasional.

Anggrek bulan juga menjadi salah satu imajinasi yang mendorong dibangunnya TAIP oleh Ibu Tien Suharto atas nama Yayasan Harapan Kita. TAIP jarang dibicarakan secara politik sebagai salah satu monumen Orde Baru, satu paket dengan TMII yang terkenal.

Atas jasanya membangun TAIP tersebut, Ibu Tien Suharto diabadikan namanya menjadi nama anggrek spesies dan endemik yang ditemukan di Tele, daerah atas Danau Toba, Sumatra Utara. Anggrek ini disebut “cymbidium hartinahianum”. Siti Hartinah alias Ibu Tien Suharto resmi menjadi nama bunga jenis cymbidium.

Demikianlah, kebiasaan memberi nama ini telah mencantol diri nyonya presiden dalam tradisi negara-negara imperium-kolonialis yang sering memberi nama pada tanaman yang “ditemukan” dengan nama-nama elite kerajaan, bangsawan, atau orang kaya.

Rupanya tradisi imperium-kolonialis ini dimanfaatkan dengan baik oleh “politik laboratorium silangan” di Singapura. Mereka mengeluarkan hasil silangannya seraya memberikan nama-nama istri kepala negara.

Sebab itu jangan kaget jika ada nama bunga hasil silangan laboratoriumnya diberikan kepada ibu Ani Yudhoyono maupun istri presiden sekarang: ibu Iriana Jokowi. Ketiklah di google nama tanaman: “dendrobium Ani Yudhoyono” ataupun “dendrobium Iriana Jokowi”. Tradisi imperium-kolonialis itu akan terlihat di situ dengan indahnya.