Ahok dan Pasar Kambing Tanah Abang

0
333
Pada sekitar 1890 keramaian pasar kambing Tanah Abang menorehkan sejarah baru yang memperlihatkan tempat itu sebagai pusat berkembangnya kebudayaan maen pukulan atau pencak silat Betawi.

Idul Adha boleh berlalu di Jakarta, tetapi persoalan Ahok dan pedagang kambing Tanah Abang terus hadir. Meninggalkan hawa panas yang bukan tidak mungkin menuju titik api.

Apalagi di sekitar persoalan Ahok dan pedagang kambing itu berhembus desas-desus, seperti mengaitkan mereka dengan Front Pembela Islam (FPI) yang menolak Ahok sebagai Gubernur Jakarta. Adalah benar FPI bermarkas di Petamburan, Tanah Abang, tetapi bukan berarti pedagang kambing sepaham dengan mereka. Meskipun tengah sama jengkel dengan Ahok antara FPI dan pedagang kambing Tanah Abang berangkat kejengkelan yang berlainan.

FPI berangkat dari sentimen agama. Sedangkan pedagang kambing masalah tidak adanya pengertian kultural historis dari Ahok terhadap mereka yang sudah ratusan tahun turun temurun berdagang kambing Tanah Abang. Arsip masa Kompeni memerikan para pedagang kambing itu paling tidak sudah ada sejak Kapiten Cina Phoa Bingam mendapat hak sewa Tanah Abang dan membangun kanal Molenvliet pada 1648 yang menghubungkan daerah itu dengan kota Batavia.

Baca Juga:

  1. Persaudaraan dalam Makanan Natal, Imlek, dan Lebaran
  2. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang
  3. Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi

Pasar kambing semakin berkembang manakala Justinus Vinck penyewa baru Tanah Abang pada 30 Agustus 1735 mendirikan pasar yang tidak hanya memberi ruang bagi perdagangan kambing, tetapi juga bahan tekstil. Mayoritas pedagang tekstil di pasar Tanah Abang adalah orang-orang Arab. Pada 1920 jumlah mereka sampai 13.000. Kedoyanan mereka menyantap daging kambing bukan saja bikin kian ramai pasar kambing, tetapi juga pertemuan budaya kuliner. Sop kambing yang kaya rempah dan memakai susu adalah salah satu contohnya. Jangan lupa di dalam sop kambing ini juga berperan para Cina pedagang kain. Ini terlihat dari asinan sebagai teman makan sop kambing yang sekaligus berfungsi menetralisir bahaya daging kambing.

Pada sekitar 1890 keramaian pasar kambing Tanah Abang menorehkan sejarah baru yang memperlihatkan tempat itu sebagai pusat berkembangnya kebudayaan maen pukulan atau pencak silat Betawi. Ini ditandai dengan kemunculan tokoh legendaris Si Pitung yang berlaga dengan sejumlah begal sepulang dari pasar kambing Tanah Abang. Mereka merampas uang hasil jual kambing Si Pitung. Demikianlah pasar kambing Tanah Abang menjadi tempat maen pukulan Betawi aliran Cingkrik memperkenalkan kehebatannya via Pitung dan kemudian sohor sampai sekarang.

Si Pitung menambah pamor pasar kambing sebagai tempatnya jago yang sebelumnya sudah dikenalkan oleh Gepeng jago Tanah Abang andalan tuan tanah Tan Hu Teng dari Kebon Dalem. Termasuk dalam hal ini Sabeni dan Rachmat jago pasar kambing Tanah Abang yang hampir sezaman dengan Pitung. Keduanya sohor dengan maen pukulan yang kelak jadi kebanggaan orang Tanah Abang dan sampai kini terus dipelajari, salah satunya oleh jago Tanah Abang, M. Yusuf Muhi alias Bang Ucu. Nama Sabeni kemudian bukan saja dihormati dengan menyematkan namanya sebagai aliran maen pukulan Tanah Abang, juga nama jalan di sana.

Waktu berlalu dan Pasar Tanah Abang yang dimulai sebagai pasar kambing kemudian pasar tekstil pelan-pelan berubah. Pasar tekstil berkembang dan menaik menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Sementara pasar kambing layu dan menyurut. Pasar kambing dirangsek oleh pasar tekstil. Keluarga yang turun temurun berdagang kambing pun mengecil. Bahkan ada yang bilang kini jumlahnya tak lebih dari 1% orang Tanah Abang.

Kemerosotan itu dimulai pada 1973, ketika Pasar Tanah Abang diremajakan. Niat Ali Sadikin membangun tempat khusus untuk pedagang kambing di belakang pasar tekstil sekitar Kali Krukut tak terwujud. Pedagang kambing pun terlunta-lunta. Pasar Kambing berpindah-pindah dari Kebon Dalem ke Gang Tike (Belakang Blok G) dan Blok F. Sedangkan keberadaan pejagalan kambing yang menjadi bagian dari pasar kambing di belakang Blok G pada akhir Agustus 2013 digusur demi program quick wins Jokowi-Ahok yang salah satunya adalah menata Tanah Abang. Kini sisa pedagang kambing bertahan di lahan 300 meter di Jalan Sabeni, sedangkan relokasi pejagalan kambing di lahan hampir 1000 meter sampai kini tak jelas pelaksanaannya.

Demikianlah Pasar Tanah Abang sebagai mental map yang terkait dengan identitas suatu tempat sebagai pasar kambing sedang dalam proses pelupaan. Cilakanya sadar atau tidak pelupaan itu turut dilakukan oleh Ahok beretorika Instruksi Gubernur nomor 67 Tahun 2014 tentang pelarangan menjual hewan qurban.

Setelah dalam hari-hari biasa mereka digencet, lantas dalam masa yang sangat penting dan sudah mentradisi sebagai salah satu rites de passages atau ritus kehidupan orang Betawi yang disebut Lebaran Haji—saatpedagang kambing Tanah Abang menjadi bagian dari ritual Islam Betawi itu—mereka malahan terang-terangan digebah. Dalam situasi ini muncul pertanyaan soal keberpihakan. Mengapa pedagang kambing di anaktirikan, ditelantarkan dan malah yang tinggal secuil mau dihabisi dengan alasan mengganggu ketertiban, sementara pedagang tekstilnya didukung, diberi fasilitas agar tumbuh jadi raksasa?

Kasus pedagang kambing Tanah Abang adalah gambaran cara pandang dan kebijakan Ahok yang bukan saja gagal paham sejarah, juga kurang berperspektif budaya serta lebih menunjukkan keberpihakan kepada kaum modal. Mentang-mentang kontribusi pedagang kambing tidak seberapa ketimbang pedagang tekstil. Alhasil sejarah panjang identitas unik Jakarta yang harusnya dapat diunggulkan sebagai diferensiasi sekaligus keunggulan komparatif kultural historis yang penting untuk city branding malah didorong ke ujung jurang kepunahan.


Pernah dimuat sebagai kolom Koran Tempo, 18 Oktober 2014.