Ribuan Tahun Banjir Jakarta

0
5345
Banjir di sebuah kampung, sekitar 1930-an. H.J. Graff, 1970, Batavia in Oude Ansichten, Zaltbommel: Europese Bibliotheek. Dari buku 400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn.

Nyai Roro Kidul santer disebut-sebut penduduk seantero kampung di Batavia ketika banjir besar melanda pada awal Januari 1932. Hujan berhari-hari diikuti banjir besar yang merendam mayoritas daerah Batavia—bahkan Istana Gubernur Jenderal di Koningsplein—dianggap amarah sekaligus peringatan agar penduduk menjaga Sukarno dan pemerintah kolonial jangan lagi berani menyakiti kekasihnya yang sohor sebagai Raja Jawa berpeci itu.

Pada 31 Desember 1931, Sukarno memang baru dibebaskan dari penjara Sukamiskin. MH Thamrin mengerti kisah itu dapat dimanfaatkan secara politik, tetapi baginya yang sejak jadi anggota Dewan Kota Batavia pada 1919 merintis usaha penanggulangan banjir bersama Herman van Breen justru penyebarannya yang luas sangat tidak produktif apalagi menguntungkan. Sebab bisa membuat ikhtiar mereka selama satu dasawarsa membangun kesadaran banjir bukan takdir bagi Kota Batavia terancam sia-sia. Masyarakat akhirnya kembali melihat banjir bukan sekadar gejala alam yang bisa dicarikan solusi. Sebab itu sikap terbaik pasrah menerima banjir sebagai kewajaran, seraya merasionalisasi dengan aneka mitos peneguh.

Tetapi, kisah Nyai Roro Kidul itu juga dianggap Thamrin sebagai peringatan untuk mengevaluasi cara-cara penanganan banjir yang telah dipikirkan van Breen. Terutama jika dikaitkan dengan pernyataan van Breen pada 1923, “dalam menyikapi banjir, pemerintah Batavia belum memperlihatkan satu kemajuan, bahkan lebih banyak kemunduran.” Ini bisa berarti kegagalan sistem kanal banjir van Breen disebabkan oleh banyak hal yang sama dengan kegagalan menanggulangi banjir masa sebelumnya. Celakanya cara penyelesaian banjir Jakarta setelah Indonesia merdeka sampai hari ini kebanyakan mengadopsi cara-cara kolonial yang lebih bertumpu pada pembangunan infrastruktur banjir itu. Adakah cara lain mengatasi ribuan tahun banjir Jakarta?

Baca Juga:

  1. Ancaman bahaya Binatang Buas di Batavia
  2. Inspirasi Seabad Garden of The East
  3. Sejarah Ide Pencerahan dan Perpustakaan di Jakarta

Selang setahun sebelum van Breen mengeluarkan pernyataannya, untuk menyambut 300 tahun kota Batavia, arsiparis De Haan menerbitan buku Oud Batavia. Banjir di kota lama Batavia yang disebabkan ekploitasi alam di ommelanden atau luar kota benteng untuk perkebunan tebu sekaligus industri gula sehingga Ciliwung dangkal berlumpur yang didekati dengan penyelesaian infrastruktur berupa pembuatan kanal, dinyatakan De Haan hanya memperparah keadaaan intramuros alias kota benteng Batavia dan mengakhiri kejayaannya.

Susan Blackburn dalam Jakarta: A History mengungkapkan bahwa tidak seperti di Oud Batavia, maka di Nieuw Batavia semangat menanggulangi banjir kendor. Banjir yang sering tidak berhasil membangunkan pemerintah dari kelambanan merancang usaha sistematik menanggulanginya. Meski lamban, Bob Hering meriwayatkan ide Thamrin yang dibawa Daan van der Zee soal pembangunan kanal besar yang menghubungkan Kali Krukut dengan Ciliwung telah jadi pembicaraan di Dewan Kota. Mulai 1911 sampai 1921, pemerintah kota meminta van Breen mencari solusi banjir di dalam kota dan sekitarnya. Tugas ini dipenuhi, bahkan dia berhasil bikin rencana jauh lebih maju ketimbang rencana kota saat itu yang hanya terkonsentrasi di Menteng dan Weltevreden dengan 430.000 jiwa penduduk.

Namun, menurut van Breen, banyak terjadi salah orientasi seolah-olah kanal banjir adalah penyelamat dan pengendali banjir di kota Batavia. Padahal ia meminta diperhatikan dengan serius peranan unsur non infrastruktur dalam menanggulangi banjir. Pada 1923, di dalam peninjauan masalah banjir van Breen mengungkapkan harus ada seperangkat aturan non infrastruktur agar kerja infrastruktur banjir berjalan, yaitu menjaga profil semua sungai, menghentikan penggundulan hutan dan reboisasi di selatan Batavia, memelihara resapan serta penampungan air buatan maupun alami—waduk maupun situ—sebab masalah air di Batavia bukan menyangkut kelebihan air di musim hujan tetapi juga kekurangan di musim panas.

Kalau kanal banjir van Breen akhirnya gagal ada dua penyebabnya. Pertama, pemerintah pusat atau gouvernement dan pemerintah kota alias gemeente menghadapi rencananya dengan sifat kruidener atau tukang kelontong yang pelit, sehingga hanya terlaksana sepotong-sepotong, seperti kanal banjir dari Matraman sampai Muara Angke. Alhasil semua rencana terlambat dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan pembangunan serta jumlah penduduk. Kedua, penggundulan hutan di pegunungan Jawa Barat utara bagian tengah untuk perkebunan teh sejak 1877 karena permintaan ekspor yang tinggi telah membuat erosi hebat. Setelah 200 tahun, aliran dan alur Ciliwung kembali mengalami perubahan dan gangguan. Sungai-sungai jadi dangkal dan sedimentasi di saluran air Batavia bikin mahal perawatan. Sejarawan AB Lapian bilang bahwa Thamrin pernah mengajukan pembuatan aturan bagi perusahaan perkebunan teh membayar kompensasi besar untuk digunakan mengongkosi ide van Breen.

Ide-ide van Breen pada 1949 diperluas WJ van Bloemenstein. Tapi, meski Sukarno seorang arsitek dan mimpinya bangkit untuk mengkonstruksi Jakarta pasca kemerdekaan, tapi ide-ide hidrologi kurang diperhatikannya. Walikota Sudiro yang memimpin Jakarta 1953–1958 melaporkan, “tiada biaya menanggulangi banjir”. Saat itulah Firman Muntaco via cerpen “Banjir” mengejek bahwa tiada yang dapat dilakukan saat banjir selain menunggu surut. Sukarno baru bertindak setelah banjir hebat di awal 1960 dan 1963. Pada 22 Juni 1965, dikeluarkan keputusan Komando Proyek Pencegahan Banjir (Kopro Banjir). Lantas, Pemkot Jakarta mengeluarkan Rencana Induk Pengendalian Banjir 1965–1985.

Sekali lagi, rencana induk 1965–1985 memilih cara mengendalikan banjir sistem makro (structural measures) dengan prioritas pembangunan kanal dan sistem polder serta waduk penampungan. Seperti ide van Breen, rencana induk banjir ini pun bernasib sama, tidak dapat pendanaan sehingga banyak rencana ditunda. Dari Rp 80 milyar yang diperlukan sampai 1984 hanya tersedia Rp 59,3 milyar. Alhasil tak terealisasilah ide dari kerjasama dengan Sogreah Prancis pada 1978 yang menyarankan pembangunan sembilan waduk  rakasasa di sekitar Jakarta guna sebagai retensi air dari sungai-sungai sebelum masuk Jakarta, sehingga mendukung kerja lima waduk yang sudah dibangun di sekitar banjir kanal.

Sekaligus itu semua akan menambahkan warisan Belanda sebanyak 800 waduk dan dam yang sudah banyak mengalami kerusakan, pendangkalan atau diubah jadi perumahan. Waduk terbesar akan dibangun di Depok seluas 300 hektar untuk menampung air yang disodet dari Ciliwung. Dibayangkan dengan begini kelak Depok menjadi bukan hanya kota situ—karena punya 31 situ—tetapi juga kota waduk. Tetapi, rencana membangun lima waduk itu kandas dan begitu juga rencana waduk Depok karena UI dipindahkan dari Salemba. Sedang rencana hasil kerjasama dengan konsultan banjir Belanda, Nedeco, pada 1973 yang menyarankan Kanal Banjir Barat (421 km) dan Kanal Banjir Timur (207 km) baru terealisasi 2012.

Banyak studi meyakini jika rencana induk 1965–1985 ditunaikan semua, bisa jadi banjir sudah dikendalikan. Apalagi dengan rencana membuat “ruang biru” yang meliputi kawasan sekitar Jakarta sebagai satu kesatuan penanganan banjir. Termasuk di dalamnya menetapkan besaran ruang hijau yang sangat ideal, yaitu 37,2 atau 241,8 km2. Tapi, bagaimana pun pembangunan infrastruktur banjir selalu keteteran dan ketinggalan dengan perkembangan penduduk serta pengunaan lahan. Ketika rencana induk banjir 1965–1985 dibuat Jakarta sudah berpenduduk 3,8 juta jiwa. Selama 1966–1976 naik jadi 5,7 juta. Bersama proyek metropolitan Sukarno agar Jakarta setara Paris dan New York struktur fisik kota meluas serta berobah. Pembagian wilayah Jakarta jadi lima oleh Ali Sadikin memicu pesatnya pemekaran mega urban hingga ke Tanggerang, Bogor, dan Bekasi.

Ruang kota semakin gegap sebab Ali Sadikin mengajak pengembang dalam bentuk otorita pembangunan daerah Pluit, Cempaka Putih, Setiabudi, Sunter dll. Sementara itu proyek raksasa Taman Mini Indonesia Indah Tien Soeharto yang dibuka 1975 menyulap daerah selatan Jakarta dari daerah resapan jadi kota satelit baru. Secara cepat dan dramatis Jakarta berkembang tanpa kendali, acak-acakan ke segala arah. Kawasan peruntukan hutan kota Senayan pada 1974 mulai berubah dengan dibangunnya Ratu Plaza, 1976 dibangun lagi Jakarta Hilton International Hotel (kemudian ganti Hotel Sultan), dan seterusnya sampai Depdikbud dan Plaza Senayan. Hal yang sama terjadi dengan hutan kota Tomang, Kapuk, kawasan resapan kelapa Gading, dan Sunter.

Ketika membahas master plan 1985–2005 tentang rencana banjir, Gubernur Suprapto yang memimpin 1982–1987 menyatakan, “sungguh berat menangani banjir dengan penduduk Jakarta 6,5 dan perkembangan wilayahnya yang kacau”. Selanjutnya, Wiyogo Atmodarminto  yang menjabat 1987–1992 bilang kepadatan penduduk yang malam 8,2 juta dan siang 10 juta serta pertumbuhannya yang tak terkendali jadi akar gagalnya Jakarta menangani banjir. Situasi tambah runyam karena 1980-an adalah masa dimana para konglomert properti merajalela. Mereka terus naik sehingga posisinya begitu kuat. Saking kuat konglomerat properti inilah sejatinya sutradara perubahan kota, bukan gubernur atau bahkan presiden. Kondominium, apartemen, mal, dan aneka bentuk infrastruktur raksasa ngepot sana sini asal serobot mereka bangun. Tata ruang telah berubah menjadi tata uang. Mulai dari rawa-rawa di utara Jakarta sampai dengan lembah pegunungan di selatan Jakarta dirambah. Kata orang Betawi “kampung pohon” dan “kampung air” telah diambil alih manusia rakus. Mereka mengambil tanah juga airnya disedot. Tak pelak terjadi penurunan permukaan tanah.

Banjir besar 2002, 2007, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017 dan 2020 sesungguhnya berakar dan suatu gambaran situasi kacau Jakarta kontemporer itu. Sekaligus cermin banjir zaman Oud Batavia, lalu Nieuw Batavia yang sebab-sebabnya—meminjam kata Thamrin ketika pada 1932 mengunjungi korban banjir di Kampung Pekambangan—berasal dari irasionalitas rakyat dan pemerintah ibukota yang berabad-abad kalah berikhtiar, lantas berdaptasi dengan lingkungan yang dianggap identik dengan banjir, seperti yang tercermin dalam cerita Nyai Roro Kidul sebelumnya. Dalam situasi itu, tambah Thamrin, “banjir dibicarakan hanya saat musim hujan tiba, lantas dilupakan saat air surut dan musim hujan berlalu, kemudian dibicarakan lagi saat musim hujan datang dengan terkejut karena banjirnya lebih besar lagi.”

Sampai disini, mungkin sudah waktunya penyelesaian banjir—selain rencana komprehensif tentang daerah penampungan air dan urbanisasi dengan pengetatan infrastruktur—didasarkan pula pada suatu rencana kultural dengan mengoreksi mentality masyarakat serta pemerintah bahwa Jakarta tak identik dengan banjir, tapi air. Jakarta lahir bersama air hujan tropis 5000 tahun yang lalu yang mengikis punggung rangkaian pegunungan vulkanik Salak dan Gede. Air itu membentuk sungai-sungai yang membawa tanah ke laut, lalu berangsur-angsur jadi dataran endapan lebar yang landau dengan hutan lebat.

Sungai, danau, dan rawa serta hutan tropis menghiasi laporan orang-orang Eropa pertama yang mendarat di pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-16. Jatipadang, Utankayu dan Tanjungbarat, Telukgong, Rawagatel, Pulomas adalah sedikit dari nama-nama tempat di Jakarta yang banyak sekali mengacu kepada nama pohon bahkan hutan dan air. Nama-nama tempat itu adalah pengingat masa lampau Jakarta. Tapi, sekaligus sumber inspirasi untuk membentuk masa depan Jakarta yang seharusnya dibangun dengan orientasi menyediakan ruangan yang luas bagi pohon dan terutama air. Semua ruang bagi air dari hutan, taman, sungai, sampai pantai harus dipelihara kualitasnya.

Suatu inspirasi sumber kesadaran untuk mulai meninggalkan suatu kota kelabu seperti Jakarta saat ini yang penuh beton dan aspal, seraya memulai kota yang tak sekadar hijau, tetapi juga kota biru.

Pernah dimuat di majalah Tempo, 27 Januari 2013


Lebih jauh baca:

Jakarta Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505