Senggawangan Sang Bulus Raksasa Ciliwung

0
1493
Bulus raksasa Senggawangan habitat Ciliwung yang ditemukan di Tanjung Barat pada 11 November 2011.

Ada yang bilang kepalanya besar. Bermata merah dan bertanduk. Bibirnya pun merah bergincu. Di atas punggungnya seperti ada motif kaligrafi Cina.

Begitulah gambaran Senggawangan, sejenis bulus besar, bagi sebagian masyarakat Ciliwung. Terutama dari mereka yang tua dan tinggal di sekitar Ciliwung serta dulu sering ngebak, ngoyor atau berenang sambil menyelam berlama-lama di sungai sampai mata merah. Cerita Senggawangan menjadi semisteri cerita monster Lochness di Skotlandia oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya dan dianggap gaib atau hewan siluman. Tetapi, sesungguhnya hapir tidak ada yang pernah melihat makhluk ini secara utuh.

Beberapa orang yang beruntung pernah melihat Senggawangan mengaku hanya diperlihatkan riak ombak dan semburan airnya ketika makhluk ini menenggak udara di permukaan air. Tetapi, itu pun sering tidak diketahui apakah hanya bayangan sepotong kayu besar atau sebungkah batu kali. Cerita Senggawangan berkembang dari mulut ke mulut dan ada disertai banyak bumbu, berkembang seperti cerita cerita mitos lainnya di Ciliwung, seperti Buaya Putih, Buaya Buntung, Uling, Lembu Air.

Baca Juga:

  1. Ancaman bahaya Binatang Buas di Batavia
  2. Ribuan Tahun Banjir Jakarta 
  3. Inspirasi Seabad Garden of The East

Oleh masyarakat Ciliwung karena kegaiban Senggawangan dipercaya jika berpapasan akan jatuh sakit. Badan menjadi panas dingin karena terkejut atau ketakutan. Jangankan menangkap, melihat saja masih dianggap sesuatu yang terlarang. Mungkin cerita-cerita ini terdengar tidak masuk akal. Apa yang disampaikan secara turun temurun dari para orang tua sepertinya menakuti, namun ketika dikaji ulang itulah pesan menjaga lingkungan. Inilah konsep konservasi secara kultural. Cara leluhur menghormati kehidupan lain di sungai. Ajaran bagaimana kehidupan bisa saling berdampingan tanpa merusak.

Namun, kini perlahan tapi pasti nilai-nilai kearifan leluhur itu terkikis zaman. Sungguh menggagetkan bahwa sesuatu yang seperti dongengan mitis itu ternyata memang ada dan telah ditemukan di Ciliwung. Kalangan akademis pun terkejut bahwa Chitra chitra javanensis masih ada di Ciliwung. Ia ditemukan di Tanjung Barat, Jakarta Selatan pada 11 November 2011.

Kemunculan bulus raksasa ini terhitung sangat jarang, sehingga data mengenai satwa ini pun, juga cukup minim. Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung sudah ditemukan sejak seabad lalu. Penemuan pertama pada 1908  sebanyak dua ekor. Satu disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman. Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tepatnya pada 1971 dan 1973.

Senggawangan yang ditemukan pada 11 November itu berukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram. Tetapi, Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 M yang diperkirakan telah berumur ratusan tahun itu karena kepercayaan oleh Haji Zaenudin Bombay yang menyelamatkan bulus tersebut dengan membeli dari para pencari bulus di Ciliwung akhirnya dilepas kembali ke Ciliwung pada 16 November 2011 dini hari. Hal ini menunjukkan kesadaran konservasi oleh masyarakat dan ampunya kearifan tradisi.

Oleh masyarakat yang aktif menjaga Ciliwung kemudian hari penemuan Senggawangan itu dijadikan sebagai Hari Ciliwung setiap 11 November. Senggawangan pun menjadi maskot Ciliwung. Ini seperti suatu kesepakatan untuk menghormati dan mengangkat kembali arti penting kearifan lokal menghormati dan menjaga kehidupan sungai.

Mungkin dengan ini memiliki alternatif mengelola Ciliwung. Tumbuh kesadaran pesan tradisi untuk hanya mengambil ikan secukupnya di sungai, menyisakan untuk jatah makanan Senggawangan, bukannya malah mengambil sebanyak-banyaknya dengan racun putasium/tuba yang mematikan semua biota sungai sampai ke telur telurnya, dan merusak sungai sebagai sumber daya air bersih.

Ternyata Konservasi bukan sesuatu yang baru dan bahwa prinsip dasar konservasi telah dilakukan di Ciliwung oleh orang orang tua kita zaman dulu. Penemuan kembali Senggawangan yang masuk daftar merah hewan terancam punah oleh Badan Konservasi Internasional IUCN memberi peringatan keharusan bersama memulihkan kembali Ciliwung. Pemulihan sungai di beberapa negara lain, keberhasilannya pemulihan ekosistem sungai di tandai dengan kembalinya spesies-spesies yang dulu pernah hilang, satu persatu kembali ada dan bertambah. Semoga ini juga akan terjadi di Ciliwung.

 


Lebih jauh baca:

Jakarta Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505