Persaudaraan Dalam Makanan Natal, Imlek dan Lebaran

0
1282
Nastar kue natalan bertemu dengan ketupat lebaran di satu meja makan orang islam di betawi.

Jika sudi menghitung ada lebih 10 macam hidangan yang disajikan orang Betawi-Jakarta ketika merayakan hari lebaran. Terutama adalah kue-kue dan beberapa jenis masakan serta manisan.

Selain dari dapur orang Betawi-Jakarta sendiri, hidangan itu diambil juga dari dapur orang Belanda, Portugis, dan Cina.tetapi, jarang sekali (kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah) dari dapur orang Arab, meskipun yang dirayakan adalah hari raya Islam.

Aneh memang tetapi cobalah percaya. Perhatikan dengan saksama ketika orang Betawi merayakan hari lebaran. “Aha!” pikir saya “Setiap orang akan dapat menemukan kembali ketupat sambel godog dengan semur, manisan buatep, dan kue nastar, kue semprit dan tentu saja dodol!” Tetapi, makanan sebanyak itu dan beraneka ragam apakah itu sekadar pesta makan belaka tanpa makna? Lebih jauh kearifan tradisi seperti apa yang dapat dipetik?

Baca Juga:

  1. Pengalaman Berburu Soto dan Sop di Jakarta
  2. Bir di Jawa
  3. Kenangan Makan Gorengan Kambing, Tahu Bumbu dan Nasi Uduk Jakarta

Ketupat dibelah dan dipotong-potong lalu diguyur dengan sambel godog dan semur. Ini hidangan utama dan khas lebaran di Betawi-Jakarta. Ketupat tradisi masyarakat agraris Asia Tenggara, seperti di MalaysiaBrunei, Singapura dan Filipina. Ketupat pun banyak dikenal di kebudayaan makanan aneka masyarakat Nusantara, hanya namanya saja berbeda-beda, seperti tupat, atupato, ketupat, katupek, topat, katopa’. kasipat, dll. Sedangkan sayur kuahnya yang namanya sambel godog tampak merupakan kreasi dapur orang Betawi-Jakarta, tetapi semur dari dapur orang Eropa. Sedangkan kecap yang menjadi bumbu utama semur dari dapur orang Cina. Ada keberagaman yang menyimbol di sini.

Tetapi dalam perjalanan sejarah unsur keberagaman yang menyimbol dalam makanan lebaran itupun sering tidak langgeng. Kudapan khas lebaran manisan buah papaya dan manisan buah ceremai yang berasal dari dapur orang Cina dan dulu selalu ada saat lebaran, sekarang sudah hampir tidak dapat lagi ditemukan. Untunglah manisan buatep alias kolang-kaling masih dapat ditemukan di meja hidangan lebaran walaupun sudah mulai jarang. Si “mutiara” legit manis yang diolah dalam warna-warni cerah merah, hijau, atau putih ini paling enak kalau daun jeruknya berasa dan disantap dengan potongan-potongan kecil es.

Sumbangan dapur Cina lainnya untuk hidangan lebaran yang sudah sulit ditemui lagi adalah kue satu. Kue ini berbahan tepung kacang hijau dicampur gula putih. Cara membuatnya dicetak dengan menggunakan cetakan kayu berukiran, seperti ikan mas dan kembang ros. Sebenarnya ini masih dapat ditemui di toko-toko kue, tetapi sudah kehilangan rasanya yang mentradisi karena terlalu banyak dicampur sagu.

Tetapi menarik bahwa kelangkaan itu segera dicarikan gantinya yang baru dari dapur orang Cina. Beberapa lebaran belakangan ini, di meja hidangan orang Betawi mulai banyak ditemukan kue cina atau kue keranjang yang merupakan kue utama perayaan tahun baru Cina (sin tjia).

Bahkan dengan kehadiran kue cina yang adalah hidangan utama perayaan sin tjia penganut Sam Kauw (‘tiga ajaran’: Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme), telah membuat hidangan lebaran malah bertambah kuat bobot filosofisnya ihwal multikulturalisme karena sebelumnya sudah memasukan kaastengels, yaitu hidangan natal para Belanda dan Indo penganut Kristen. Sekali lagi, setelah masuk makan Cina, disusul makanan Belanda, sementara makanan Arab? Ini memang agak aneh mengingat tiadanya masakan Arab yang dimasukan. Tapi cobalah Anda percaya!

Coba saja tengok yang namanya kaastengels dan oleh Orang Betawi-Jakarta disebut kue kiju meskipun tidak ada unsur kejunya. Kaastengels disebut kue kiju karena itu kue orang Belanda atau Indo yang identik dengan keju. Tapi bagaimana kaastengels bisa masuk hidangan lebaran orang Betawi-Jakarta?

Banyak cerita yang dituturkan dari orang-orang tua yang hidup di zaman voor de oorlog alias zaman sebelum perang di Jakarta mengungkapkan bahwa orang Betawi setiap natal dan tahun baru datang ke rumah orang Indo. Biasanya malam hari. Mereka memberi ucapan selamat dan dijamu. Sebaliknya sinyo dan noni ikut merayakan malam lebaran, bermain petasan dan kumpul-kumpul di kampung. Tuan dan nyonya memberi ucapan selamat lebaran kepada tetangganya orang Betawi.

Begitulah mulanya. Orang Betawi pun jadi kenal dan doyan kaastengels yang ditemuinya saat natal. Bahkan tidak itu saja, dari dapur orang Indo untuk hidangan lebaran mereka tambah dengan memasukkan juga kue “orang serani” (Kristen) lainnya, seperti ananastaart yang dilafalkan menjadi kue nastar dan kue botersprits yang oleh lidah Betawi disebut kue semprit. Termasuk beralih dari peminum teh menjadi peminum sirup di hari istimewa itu. Sebaliknya orang Indo pun jadi ikutan suka pada si hitam manis alias dodol yang merupakan hidangan utama lebaran. Siapa pula yang tidak akan suka dodol, apalagi kalau itu adalah buatan tangan-tangan ahlinya yaitu mereka yang disebut orang Betawi-Jakarta sebagai orang “Belanda Depok”.

Kue kiju, nastar, dodol adalah kue yang selalu dan masih dapat ditemukan sampai lebaran sekarang ini. Selain tape uli khas Betawi-Jakarta dan sumbangan dapur Cina lainnya yaitu kacang goreng yang dulu pernah sangat populer sebagai pelengkap utama rijstaffel.

Lebaran akan berlalu tetapi kue-kue itu tidak akan pergi mengikutinya. Hanya menghilang sejenak sebab pada akhir-akhir tahun ini dan bulan-bulan pertama awal tahun depan, kue-kue itu akan kembali menjadi hidangan utama natal yang disusul Tahun Baru Masehi dan kemudian Tahun Baru Imlek. Desember sampai Februari benar-benar menjadi bulan-bulan pesta, tapi tetap dengan kue-kue yang sama.

Tentu agak membosankan di lidah, tetapi sangat menggembirakan di hati mengingat persaudaraan yang menyimbol dari kehadiran kue-kue dan makanan itu. Apalagi bukan saja persaudaraan dalam arti lintas etnik dan agama, tetapi juga lintas sosial sebagaimana menyimbol dalam tradisi nganter (saling mengirimi dan menerima) kue-kue lebaran tersebut di antara semua anggota masyarakat sekampung, tak terkecuali yang kaya maupun papa. Memilih beragama atau agamanya sebatas di KTP belaka.


Artikel ini pernah dimuat di Kompas, 14 Oktober 2006 dengan judul “Persaudaraan dalam Kue Lebaran”

Lebih jauh baca buku:

Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Sejarah Rempah karya Jack Turner yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee dan www.komunitasbambu.id atau telpon ke 08138543050