Centeng dalam Sejarah

0
510
Pak Silun dan anak buahnya Jakarta Tempo Doeloe

Jumat, 17 Mei 1912 terjadi peristiwa menggemparkan di Kalibaru (sekarang Senen), Batavia. Bersamaan dengan ditemukannya tersangkut di pintu air sesosok mayat wanita muda indo yang terbungkus dalam karung.

Berita ini menghebohkan seantero Batavia. Karena menjadi peristiwa pertama kalinya seorang pembesar Belanda pembunuhan yang dilakukan melibatkan jawara dan kekerasan seks.

Dari hasil penelitian Komisaris Kepala Tuan Reumpol diketahui bahwa wanita Indo itu bernama Fientje de Fenicks, seorang pelacur penghuni rumah bordil milik germo bernama Umar. Lewat pengakuan Umar diketahuilah  Tuan Besar Gemser Brikmann terlibat dan didudukanlah ia di kursi pesakitan.

Meneer Brinkmann sangat terkenal di kalangan terhormat orang-orang Belanda yang dekat dengan pemerintahan, ia seorang anggota Sositet Concordia. Dalam pengakuannya Meneer Brinkmann menyewa Pak Siloen, seorang jawara Betawi yang sehari-hari dikenal sebagai centeng. Gemser Brinkmann didakwa dengan hukuman mati, namun dalam kepanikkannya ia tewas bunuh diri dalam selnya.

Baca Juga:

  1. Berabad-abad Judi di Batavia
  2. Tudung Blenong Simbol Pemberontakan Petani Tangerang 1924
  3. Perbanditan di Batavia dan Protes Sosial

Pak Siloen yang didakwa serupa, menyatakan penyesalannya. Menyesal bukan karena telah menghabisi nyawa Nona Fientje de Fenicks, melainkan pembayaran Meneer Briknmann kepadanya baru berupa persekot.

Pada saat itu centeng di Batavia memang dikenal sebagai bodyguard yang setia, tidak berbeda dengan tukang pukul yang setiap saat menjaga majikannya dari ancaman bahaya. Centeng tidak segan-segan menghabisi nyawa untuk kepentingan tuan yang membayarnya. Tidak memandang pria dan wanita, tua maupun muda.

Tetapi, sesungguhnya centeng awalnya adalah istilah yang untuk menyebut mereka yang berprofesi sebagai penjaga gudang. Istilah centeng pertama kali digunakan pada daerah onderneming (perkebunan) milik para tuan tanah Cina di Tangerang abad 17. Centeng merupakan kata serapan dari bahasa Hokkien, berasal dari kata qinding (亲丁; sin ding) yang berarti penjaga, pengawal atau orang terdekat. Qinding di lidah orang Betawi menjadi centeng, yang bertugas menjaga gudang tempat menyimpan hasil bumi perkebunan.

Di abad ke-19, centeng umumnya direkrut dari orang-orang pribumi melalui iklan-iklan di surat kabar. Para centeng yang direkrut harus memiliki kriteria yang  bukan saja bertampang menyeramkan, melainkan juga harus memiliki kepiawaian dalam bermain silat.

Iklan surat kabar yang marak di akhir abad ke-19 layaknya seperti iklan lowongan kerja saat ini, seperti harian Pembrita Betawi di tahun 1889 menerbitkan iklan perekrutan centeng bertuliskan;

”Kowe poenja tangan koeat dan beroerat. Kowe poenja njali gede. Kowe poenja moeka kasar, dan kowe maoe bekerdja radjin dan netjis. Bila memenoehi sjarat-sjarat di atas, kowe Inlander perloe datang ke Rawa Senajan, disana kowe haroes dipilih liwat djuri-djuri yang bertugas:

– Keliling Rawa Senajan 3 kali

– Angkat badan liwat 30 kali

– Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe moesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja. Kowe nanti akan didjadikan Tjenteng oentoek di Toba, Buleleng dan Borneo”.

Tidak hanya sebagai pejaga gudang hasil bumi perkebunan milik tuan tanah Cina saja, menurut Margreeth van Till dalam bukunya Batavia Kala Malam, kepolisian Belanda pun kerap menggunakan jasa centeng ini sebagai informan atau mata-mata. AW van Hinne pernah menggunakan jasa Djeram Latip sebagai centeng untuk memburu kelompok Si Pitung yang akhirnya tewas dibunuh Pitung karena dianggap sebagai pengkhianat kelompok ini.

Demikianlah seiring dengan perjalanan waktu, centeng mengalami perluasan makna tidak lagi difungsikan sebagai penjaga gudang semata. Profesi ini lebih sering digunakan sebagai pengawal pribadi para tuan tanah dan meneer Belanda, bahkan kepada siapapun yang sanggup membayar. Sampai tahun 1940an masih banyak orang-orang Cina pengusaha kaya yang menggunakan jasa centeng ini sampai akhirnya secara umum digantikan fungsinya oleh oknum militer atau polisi.


Lebih jauh baca buku:

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY