Ujungan: Ngadu Rotan Orang Bekasi

0
317
Uncul Ujungan

Ujungan adalah seni permainan ketangkasan pukul memukul dan tangkis menangkis dengan menggunakan media senjata rotan. Banyak ditemukan di pesisir utara Betawi atau daerah budaya Betawi yang memiliki kehidupan petani kebun atau sawah tadah hujan, seperti di sebagian Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Bekasi.

Di Betawi, ujungan memiliki nama lain seperti Sabet Rotan dan Gitikan. Di Desa Srijaya, Kampung Gabus, Tambun Utara, kata ujungan diistilahkan dengan Pencug di Ujung. Sebagian besar masyarakat Betawi mengenalnya sebagai ujungan.

Dalam ujungan terdapat tiga unsur seni, yaitu bela diri yang dimiliki para pemain, tari yang diperlihatkan dalam Uncul, serta musik berupa instrumen perkusi Sampyong dan Tok Tok sebagai waditra pengiring ujungan dan uncul.

Ujungan merupakan seni ketangkasan pukul memukul menggunakan rotan. Sasarannya pinggang ke bawah, di luar area alat vital, dengan fokus utamanya tulang kering dan mata kaki. Seni ini berkembang dari tradisi para pendekar, jawara atau jago maen pukulan dalam menyeleksi yang terkuat di antara yang kuat dan yang terjago di antara para jago.

Baca Juga:

  1. Pala Kaki Permainan Anak-Anak Betawi Condet
  2. Jago dan Jagoan Betawi Suatu Tinjauan Historis
  3. Hilangnya Komunitas Rusia Hongaria, Inggris dan Prancis di Jakarta

Ada juga yang mengartikannya pertandingan antar jago maen pukulan, dalam mengadu ketahanan fisik dan non fisik (ilmu kesaktian), agar mendapatkan tempat dan status sosial di masyarakat.

Pendekar, jawara, atau jago turun bertanding menggunakan teknik dari aliran silat masing-masing, seperti aliran Ki Atu, Ki Jirimin, Bongkot, dan Jalan Enam Pengasinan atau aliran silat yang secara khusus memiliki permainan senjata tongkat atau toya. Peserta yang paling sedikit mendapat pukulan dan paling banyak memberikan pukulan keluar sebagai juara. Belakangan ujungan tidak lagi digelar untuk menyeleksi jago terbaik, tapi hanya sebagai seni pertunjukan dan hiburan rakyat.

Di zaman penjajahan, ujungan digunakan sebagai sarana untuk membina mental dan fisik para pejuang, agar tidak takut menghadapi Belanda dan Jepang. Ujungan juga dijadikan ajang pelatihan mental spiritual. Karena itu ujungan tidak dapat dikategorikan sebagai cabang ilmu bela diri, namun dapat difungsikan sebagai sarana melatih ilmu bela diri.

Uncul merupakan wiyaga, bentuk seni tari yang mengawali laga ujungan. Seorang peserta ujungan ketika akan bertanding dan mencari lawan melakukan gerakan-gerakan jurus yang meledek sambil berkeliling ke arah penonton. Gerakan uncul juga bermakna tantangan kepada peserta lain. Jika ada orang yang terpancing masuk arena, dimulailah ujungan. Jika tantangan tidak bersambut, peserta yang melakukan wiyaga akan keluar. Begitu seterusnya hingga seorang peserta dianggap sebagai jawara, karena tak ada lagi yang berani menantang.

Instrumen pengiring seni Ujungan adalah Sampyong. Ini adalah alat musik semacam gambang, terbuat dari kayu yang dipotong kasar, artinya kulit pada bagian luar batang kayu tidak dibuang. Potongan-potongan kayu dengan ukuran berbeda diikatkan pada tali, kemudian untaian potongan kayu itu diletakkan di atas dua batang bambu yang melintang. Perbedaan ukuran potongan kayu itu menghasilkan tangga nada yang bervariasi. Semakin pendek ukuran kayu semakin tinggi nadanya. Pada perkembangannya, di sebagian daerah Betawi yang berdekatan dengan area budaya Sunda penggunaan sampyong ditambah dengan waditra pencak silat. Musik yang mengiringi uncul dan ujungan sama halnya musik pengiring ibing pencak silat, seperti tepak dua, paleredan, pongpang atau padungdung, dengan lagu berjudul Barlen dan Kembang Kawung.

Selain itu adalah Tok-Tok  yang merupakan instrumen yang menyertai atraksi uncul dan ujungan, berbahan baku bambu seperti kentongan. Alat ini berfungsi mengatur ritme musik dalam mengiringi gerakan peserta uncul dan ujungan. Seperti sampyong, pengembangan instrumen musik uncul dan ujungan dimodifikasi dengan instrumen ibing pencak silat pada umumnya. Di beberapa tempat tok-tok diganti alat musik kecrek.


Lebih jauh baca buku:

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY