Kamp Tawanan Belanda di Jakarta

0
408
Anak-anak orang Belanda di kamp tawanan Belanda di Cideng, Jakarta Pusat, November 1945.

Dalam buku biografi Elien Utrect, Melintas Dua Zaman: Kenangan Tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan, Komunitas Bambu 2006 dikatakan bahwa ia bersama dengan anak perempuannya sempat ditahan di kamp tawanan di wilayah Kramat-Kwitang di sebelah kali Ciliwung.

Kamp tahanan itu memang diperuntukan bagi orang Belanda dan Indo pada masa pendudukan militer Jepang. Letak jelasnya berada di kompleks perumahan Kramat yang berbatasan di Utara dengan kampung Kwitang. Di sebelah Barat berbatasan dengan kali Ciliwung dan rumah Raden Saleh. Di sebelah Timur berbatasan dengan jalan Kramat Raya, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Raden Saleh.

Memang sebelumnya kompleks perumahan itu kebanyakan dihuni oleh orang Belanda dan Indo. Di Kamp tahanan atau kamp tawanan itu setiap hari dijaga oleh sepasukan militer Jepang dan pemuda Indonesia yang diperbantukan sebagai milisi. Mereka berjaga di beberapa jalan masuk ke lokasi perumahan itu.

Baca Juga:

  1. Bandit Kaya Raya di Batavia
  2. Berabad-Abad Judi di Jakarta
  3. Centeng dalam Sejarah

Di beberapa buku memoar yang ditulis oleh beberapa orang Belanda dan Indo memang pernah disingung juga tempat atau kamp tawanan di kota Jakarta. Selain yang disebut oleh Elien Utrcect itu, kamp tawanan lain terletak di daerah Cideng. Kamp tahanan ini pernah disinggung oleh Pan Schomper dalam bukunya Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur (PT Dormet 1996).

Informasi lain mengenai tempat itu didapat dari beberapa orang tua yang pernah mengalami hidup pada masa pendudukan militer Jepang di Jakarta. Dikatakan oleh mereka bahwa kamp tawanan yang disebut di Cideng itu, terletak tepat di kompleks bekas perumahan mewah orang-orang Belanda di wilayah Tanah Abang.

Sebelah Timur kamp berbatasan dengan jalan yang menuju Tanah Abang Bukit (sekarang jalan Abdul Muis), di sebelah Utara berbatasan dengan Tangsi Militer Jepang (yang sekarang menjadi asrama Pasukan Pengawal Presiden) sampai kali sodetan yang sekarang terletak di sisi Rumah Sakit Tarakan. Di sebelah Barat berbatasan dengan kali Cideng dan tangsi polisi, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan kampung Gang Thomas.

Jadi kalau sekarang, kamp itu kira-kira terletak di jalan Tanah Abang I, Jalan Tanah Abang II (Laan Triveli), Tanah Abang III (Laan Riemer), jalan Taman Tanah Abang III dan jalan Tanah Abang IV (Laan Byenkorf). Dulu tempat itu memang kebanyakan dihuni oleh orang Belanda dan Indo kelas menengah ke atas. Rumah-rumah di sana besar dengan halaman yang luas (sekarang sudah tidak ada lagi sisanya).

Di setiap jalan keluar dan masuk ke kamp itu dijaga oleh petugas yang juga ditutup dengan kawat berduri. Walaupun demikian, orang kampung dan para penjual sering dapat masuk dan keluar tempat itu untuk menjajakan dagangannya dan sekaligus menukar dengan barang-barang milik para tawanan (barter).

Penghuni kamp itu, selain dari orang Belanda yang memang tinggal di Jakarta, juga orang Belanda yang berasal dari atau dipindahkan dari beberapa kamp lain di Pulau Jawa. Tujuannya agar mudah diawasi secara efisien dan efektif. Pada masa pendudukan militer Jepang banyak rumah dan bangunan yang dulu dimiliki oleh orang Belanda diambilalih untuk kepentingan militer Jepang, termasuk rumah-rumah mewah di beberapa wilayah Jakarta.

Selain menahan dan mengisolasi, fungsi kamp itu sebenarnya juga melindungi orang Belanda, Eropa dan Indo lainnya dari kemarahan orang Indonesia dan sekaligus sebagai bagian agitasi pihak sekutu. Selain diisolasi dalam kamp perlindungan atau kamp tahanan itu, sebagian orang Belanda dan orang Eropa lainnya, khususnya perempuan muda ditempatkan di beberapa rumah mewah lainnya di luar kedua wilayah itu. Mereka umumnya kemudian menjadi gundik piaran para komandan tentara Jepang. Selain itu, para perempuan bule itu juga ditempatkan di beberapa hotel di bilangan Jakarta.

Para penghuni kedua kamp itu umumnya adalah anak-anak di bawah umur 17 tahun dan orang tua di atas umur 60 tahun. Kamp itu lebih banyak dihuni oleh kaum perempuan. Mereka diharuskan mendaftarkan diri dan juga membayar uang perlindungan. Sedangkan lelaki Belanda atau orang Eropa yang berusia di atas 17 tahun dan di bawah 60 telah digiring ke kamp interniran yang tersebar di berbagai tempat di Pulau Jawa, sebagian dipekerjapaksakan sebagai Romusha, sebagian lagi dijebloskan ke berbagai penjara yang dulu dibangun oleh orang Belanda.

Setelah kemerdekaan dan agresi Belanda, perumahan di kamp bekas tawanan Jepang itu kembali dihuni oleh orang-orang Belanda dan Indo. Akan tetapi, setelah pemindahan kekuasaan tahun 1949 dan setelah pengambilalihan perusahaan asing (nasionalisasi perusahaan asing) tahun 1957–1958, banyak penghuni di wilayah tersebut keluar dan pulang ke tanah airnya.

Rumah-rumah yang kosong itu, selain dijual juga banyak yang kemudian dititipkan dan bahkan diambilalih oleh kalangan militer mantan KNIL dan sebagian dijadikan rumah perwira TNI. Oleh sebab itu, sampai tahun 1970-an beberapa penghuni di sebagian wilayah bekas kamp Cideng itu masih dapat ditemukan orang yang berasal dari etnis Menado dan Ambon.

Di Jerman, kamp interniran dan beberapa kamp tahanan telah dijadikan museum bersejarah PD II. Di Indonesia, khususnya di Jakarta juga pernah mengalami dampak buruk PD II yang pada masa itu juga diberlakukan adanya kamp-kamp tawanan, khususnya kamp tawanan dalam kota. Kamp tawanan itu sempat bertahan hampir selama tiga tahun (September 1942–Oktober 1945).

Selain itu, pencatatan sejarah mengenai siapa saja, berapa jumlah populasinya, apa saja yang dilakukan oleh mereka selama tinggal di kamp itu, dan bagaimana aktivitas komunikasi mereka, sampai sekarang boleh dikatakan belum banyak diungkapkan kecuali dari memoar orang Belanda sendiri. Bisa jadi dokumen mengenai mereka itu sengaja dihilangkan oleh pemerintah militer Jepang agar mereka tidak dituntut atau dipersalahkan.

Sangat disayangkan, negara lain yang sadar akan sejarah kotanya, berusaha untuk memelihara fakta sejarah seperti itu. Di Jakarta seringkali tempat bersejarah seperti itu dilupakan dan dianggap tidak pernah ada. Padahal itu adalah bagian dari sejarah kota Jakarta yang perlu diketahui oleh generasi sesudahnya. Tujuannya adalah agar mereka dapat mengetahui proses perkembangan kota Jakarta yang sebenarnya, sekaligus dapat menjadi obyek wisata.

Tetapi yang terjadi adalah suatu keironisan. Jika kita berpikir dalam paradigma sejarah, fenomena itu menjadi bahan untuk diselamatkan. Akan tetapi, bagi pihak yang berpandangan lain, paradigma sejarah seperti itu dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Apa boleh buat, mereka lebih mampu mengubah sejarah.


Dikutip atas izin penerbit Masup Jakarta dari Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina karya Zeffry Alkatiri, hlm. 63-65.

Lebih jauh baca:

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Melintas Dua Zaman: Kenangan Tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan karya Elien Utrech  yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Dalem Tawanan Jepang karya Nio Joe Lan yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Batavia Kehiduapan Masyarakat Abad XVII karya Hendrik E. Niemeijer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY