Kota Batavia di Mata Serdadu Belanda

0
131
Buku terkait dengan artikel.

Batavia Awal Abad 20: Gedenkschriften van een oud-Kolonial, Jakarta, Masup Jakarta 2011, Penulis: HCC Clockener Brousson, tebal: 179 hlm + xxiii, Penerbit: Masup Jakarta, Terbitan:  Kedua dalam bahasa Indonesia 2007


Setelah selama kurang lebih 90 tahun terkubur, seorang sejarawan amatir menemukan dan menerjemahkan sebuah cerita bersambung di koran Bendera Wolanda. Cerita ini berasal dari laporan seorang pensiunan serdadu Belanda yang pernah berdinas di Batavia pada awal abad 20. Lantas dikirim kepada redaksi suratkabar Bendera Wolanda dengan inisial XYZ. Oleh redaksinya yang bernama H.C.C. Clockener Brousson naskah laporan tersebut divermak menjadi cerita bersambung di surat kabarnya selama tahun 1910–1912.

Brousson sebagai redaksi suratkabar Bendera Wolanda adalah seorang pelopor pers di Hindia Belanda yang juga pernah berdinas sebagai Letnan di Batavia. Tentunya cerita tersebut juga tidak luput dari campur tangannya, sehingga selain menjadi cerita perjalanan yang menarik juga terasa berlebihan dalam mengutarakan pendapatnya. Cerita tersebut berbeda dengan cerita sejenis yang pernah ada. Perbedaanya terletak pada gaya penceritaan dan sudut pandang pengutaraannya.

Brousson yang seakan mengambil alih cerita tersebut menjadi seorang yang berpandangan Sosialis-Etis, sehingga tampak adanya kesan simpatik dan keberpihakan kepada penduduk pribumi yang di buku lain sering direndahkan. Bahkan dia secara langsung mengkritik pandangan keliru dari masyarakat Belanda tentang penduduk Batavia. Bisa jadi cerita ini merupakan campuran antara imajinasi dan pengalaman intelektualnya. Hanya saja ditampilkan lewat seorang serdadu rendahan dengan inisial XYZ yang seakan-akan mengirimkan surat kepadanya. Sebab tidak mungkin seorang serdadu rendahan yang berdinas di salah satu tangsi di Batavia (tangsi Garnizun X yang dulu berada di sekitar Waterlooplein dan sekarang menjadi Hotel Borobudur dekat Lapangan Banteng) dapat mengutarakan pengalamannya dengan baik, teratur dan dengan gaya bahasa pers yang lancar.

Baca Juga:

  1. Paradoks Sejarah Jakarta
  2. Jakarta 1960-an Kenangan Semasa Mahasiswa
  3. Jakarta 1950 Kenangan Semasa Remaja

Cerita tersebut juga mirip seperti buku panduan wisata zaman Belanda sebab di dalamnya diungkapkan kesan atas panorama keindahan alam Timur beserta tempat pelesiran dengan berbagai tips yang berkaitan dengan makanan juga hiburan. Cerita tersebut mengalir sejak dari Amsterdam, tempat si penulis lahir sampai di Batavia, tempat si penulis bertugas. Batavia oleh penceritanya disebut sebagai negeri dongeng yang harus menerima lagi keringat orang Belanda. Pencerita seakan terkagum-kagum akan keanehan yang terdapat dan terjadi di kota Batavia, tanpa adanya kesan menghina. Bahkan seperti orang asing yang norak melihat berbagai objek yang ada di Batavia pada awal abad 20. Kalau dibaca seakan kita diajak kembali menelusuri perjalanan seantero kota Batavia tempo doeloe.

Dalam cerita itu kita dapat menyaksikan perkembangan salah satu kota kolonial terbesar di Pulau Jawa. Sebagian tempat yang disebut oleh penulisnya masih dapat dilihat dan ditemukan. Tetapi kebanyakan telah musnah, tinggal kenangan, seperti trem uap, trem listrik, dan beberapa lokasi serta gedung yang tersohor pada jamannya.

Selain itu, dalam ceritanya banyak mengandung informasi berharga tentang kehidupan warga kota Batavia yang mungkin tidak dapat ditemukan dalam cerita atau informasi sejenis. Misalnya, adanya kehidupan di tangsi tentara, adanya orang hukuman yang dipekerjakan untuk membersihkan kota, adanya kesewenangan aparat polisi kolonial berkebangsaan pribumi yang lebih galak dari polisi Belanda, dan adanya industri topi anyaman di Tangerang yang ternyata sempat menjadi komoditi ekspor andalan pada waktu itu.

Brousson ternyata tidak hanya bercerita tentang Batavia, tetapi juga tentang perjalanan serdadu tersebut ke berbagai wilayah ekspedisi di Hindia Belanda, termasuk di Aceh. Walaupun demikian, cerita singkat pengalaman hidup di salah satu tangsi di Batavia merupakan cerita yang menarik bagi pembaca, terutama yang dapat berbahasa Belanda menjadi tahu tentang Batavia masa tempo doeloe. Pembaca sekarang juga akan mendapat manfaat untuk melihat perkembangan suatu kota selama 90 tahunan yang bisa jadi sejak dulu sudah semrawut, kotor, dan panas. Tetapi tentu saja masih belum sebanding dengan keparahan kondisi kota Jakarta seperti yang sekarang ini.


Dikutip atas izin penerbit Masup Jakarta dari buku  Jakarta Punya Cerita karya Zeffry Alkatir, halaman 5-7, yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Lebih jauh baca:

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kehidupan Masyarakat Abad XVII karya Hendrik E. Niemeijer yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY