Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi

0
4995
Bang Sabeni jago silat Betawi pernah mengalahkan jagoan yang disodorkan Belanda dan pernah juga mengalahkan jago karate dan jago sumo sekaligus yang disodorkan komandan Kempetai (polisi militer) Jepang. belajar bermain silat dengan tujuan bukan hanya untuk membela diri sendiri, tetapi juga membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Seorang kawan yang dulu tinggal di Karet Tengsin—kini terpental jauh di daerah Depok karena rumah dan pekarangannya tergusur habis untuk bangunan Menara Batavia—sering mendengar ucapan-ucapan seperti: “Nti gue bilangin anak Tenabang lu” atau “Ntar gue bawain anak Tenabang lu”, atau juga ucapan “Kalau anak Tenabang tau, baru rasain lu”.

Meskipun ia anak Tanah Abang, tetapi ucapan-ucapan tak dimengerti maksud dan artinya. Ia baru mengerti kemudian hari itu ucapan semua artinya anak Tenabang hebat, unggul, dan lebih berani ketimbang anak dari daerah lain. Asal-usulnya terkait dengan kehebatan Bang Sabeni, orang Gang Maing Lama, Tenabang, yang sangat pandai bermain pencak silat atau yang lazim disebut orang Betawi “maen pukulan”.

Baca Juga:

  1. Awal Batavia Kota Markas Dagang
  2. Abdul Chaer Ahli Linguistik Asli Betawi, Raih Penghargaan Seni dan Budaya
  3. Jakarta 1970-an Kenangan Menjadi Dosen

Dibicarakan bahwa Bang Sabeni pernah mengalahkan jagoan yang disodorkan Belanda dan pernah juga mengalahkan jago karate dan jago sumo sekaligus yang disodorkan komandan Kempetai (polisi militer) Jepang. Bang Sabeni juga banyak mempunyai murid dalam bela diri silat, bukan hanya di daerah Tenabang, tetapi juga di tempat-tempat lain. Hal ini kiranya yang memberi kesan bahwa anak-anak Tenabang pandai dalam bermain pukul dan adu silat bela diri.

Menurut catatan Sabeni bin Haji Khanan lahir pada 1860 di Tenabang dan meninggal pada 1944 serta dimakamkan juga di Pemakaman Gang Kubur Lama (sekarang Jalan Sabeni), Tenabang. Dalam aktivitasnya sehari-hari, ia banyak mengajarkan dan melatih bela diri pada anak-anak muda di Tenabang dan sekitarnya.

Kegiatan sehari-harinya ini membuat pemerintah Belanda menjadi gerah dan tidak senang. Terlebih lagi Komandan Polisi Belanda pernah mengutus seorang jawara untuk menghabisi Sabeni, namun gagal karena jawara tersebut dapat dengan mudah dikalahkan Sabeni.

Komandan Kepolisian Hindia-Belanda (Hoofd Beurau Van Politie)—Karena kehabisan akal—mendatangkan seorang petinju dari negerinya dan seorang jago kungfu untuk diadu dengan Sabeni. Kemudian pertandingan pun diadakan di Prince Park (sekarang Taman Lokasari Jakarta Barat) dengan disaksikan ratusan warga Betawi terutama yang datang dari Tenabang dan sejumlah warga Belanda dan Cina.

Artikel dikutip dari buku Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe, hlm. 207-211.

Dalam pertandingan tersebut Sabeni berhasil mengalahkan kedua lawannya dengan mudah. Hal ini membuat sang Komandan Polisi Belanda bertambah kesal dan galau. Sebaliknya warga Betawi semakin menaruh kagum pada Sabeni. Pada zaman Jepang Sabeni juga pernah diadu oleh komandan Kempetai Jepang dengan seorang jago karate dan seorang ahli Sumo.

Syafei, anak Sabeni yang ikut dalam barisan Heiho (pasukan bantuan tentara Jepang) melarikan diri dari kesatuannya di Surabaya. Maka Jepang menjadi marah, lalu mencari Syafei di manapun. Karena tidak kunjung ketemu, Kempetai menangkap dan menahan Sabeni dengan janji kalau Syafei tertangkap, Sabeni akan dilepaskan.

Akan tetapi Syafei tidak kunjung tertangkap meskipun sudah lama dicari. Sementara itu Komandan Kempetai mendapat informasi bahwa Sabeni adalah seorang jagoan di Tenabang. Alhasil timbullah ide si komandan untuk menguji kemampuan Sabeni untuk diadu dengan anak buahnya.

Sabeni dipanggil oleh sang Komandan, lalu ia mengutarakan maksudnya. Sabeni yang pada waktu itu telah berusia 80 tahun bertanya, apa yang akan diperoleh apabila ia menang atau kalah. Si Komandan mengatakan bahwa Sabeni akan dibebaskan apabila menang, tetapi akan tetap ditahan apabila kalah. Sabeni setuju dengan perjanjian itu dan minta agar pertandingan disaksikan oleh keluarganya dan teman-temannya warga Tenabang. Si komandan pun tidak berkeberatan.

Tiba pada waktunya ternyata yang harus dihadapi Sabeni ada dua orang, yaitu seorang karateka dan seorang pemain sumo yang berbadan sangat besar. Mula-mula Sabeni harus menghadapi si karateka. Dengan mengucap Bismillah, Sabeni maju ke depan. Namun sebelum sempat pasang kuda-kuda, si karateka sudah menyerang.

Sabeni berkelit menghindari serangan itu. Lalu ia menyambut serangan itu dengan jurus andalannya yang disebut “Kelabang Nyebrang”. Si karateka tidak sempat menghindar dari sambutan maut Sabeni sehingga si karateka itu kena dan terkapar pingsan. Ia pun tidak sanggup bangun lagi. Sabeni mengucap syukur kepada Allah atas kemenangannya dengan mengucap Alhamdulillah.

Selesai membuat pingsan si karateka, kini giliran menghadapi si jago sumo. Sabeni kembali berdoa dan pasrah kepada Allah. Si jago Sumo memasang kuda-kuda. Kedua kakinya maju ke depan dan berdiri ngangkang. Tangan ditaruh di atas paha. Lalu keluar suara dari mulutnya, “Eeek!” seperti orang ngeden. Tangan di pentang lebar-lebar. Sabeni mengerti situasinya.

Dengan demikian sambil mengucap Bismillah dengan cepat dia melompat ke atas lutut si sumo yang lagi ngeden. Lutut si sumo dijadikan landasan untuk melompat salto ke atas. Tenaga dalam diempos. Begitu turun dari salto, tangan kanannya menyambar ubun-ubun si sumo; dan “Pletak!”. Si sumo pun terkapar, tidak bisa bangun lagi. Entah karena pingsan atau karena keberatan badan.

Si Komandan Kempetai berdecak kagum menyaksikan kemampuan Sabeni. Lalu sesuai dengan perjanjian Sabeni dibebaskan dan boleh pulang ke rumahnya di Gang Kubur Lama (sekarang Jalan Sabeni), Tenabang.

Sekembalinya dari tahanan Kempetai, Bang Sabeni yang sudah tua itu masih melanjutkan perjuangan dengan mengumpulkan kekuatan alim ulama dan para pemuda untuk mengusir penjajah dari kampung halaman dan negaranya. Tetapi Bang Sabeni tidak sempat menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 karena keburu meninggal.

Sebagai tanda penghargaan atas jasa dan pengorbanannya, Pemerintah Daerah DKI Jakarta pada ulang tahun Jakarta ke-480 mengganti nama Gang Kubur Lama menjadi Jalan Sabeni. Selain itu mereka juga memindahkan makamnya dari kuburan Gang Kubur Lama ke pemakaman Umum Karet Bivak dekat makam Mohammad Husni Thamrin.

Sepeninggal Bang Sabeni, silat aliran Sabeni masih eksis dilanjutkan oleh murid-muridnya dan dipimpin oleh Ali Sabeni, anaknya yang ketujuh. Dewasa ini tugas melatih diserahkan pada Zulbakhtiar, anak Ali Sabeni atau cucu dari Bang Sabeni.

Ciri khas silat aliran Sabeni adalah karakternya yang memang dikhususkan untuk bertarung bukan untuk bertahan dan mengelak seperti aliran silat lain. Aliran Sabeni justru mengutamakan penyerangan. Pukulan tangan dan tendangan kaki pada aliran lain dilakukan bergantian, tetapi pada aliran Sabeni dilakukan serentak. Ciri khas lainnya aliran Sabeni mengandalkan gerakan tangan yang sangat cepat dengan sasaran muka dan daerah-daerah berbahaya pada lawan.

Sebenarnya di Tenabang selain Sabeni dengan aliran silatnya, ada pula pesilat lain dengan aliran yang berbeda. Mereka antara lain Derahman Jeni, Alwi Al-Habsyi, dan Satiri. Ketiga nama ini juga mempunyai banyak murid.

Meskipun aliran-aliran silat di Tenabang mempunyai perbedaan, tetapi semuanya mempunyai kesamaan yaitu bersilat sebagai ibadah, membela diri, dan membela orang lain. Mereka melakukannya untuk mencari keridhoan Allah, bukan untuk mencari uang. Untuk menunjang kehidupan, mereka mempunyai mata pencaharian lain. Misalnya Ma’ruf, sekalipun ia ahli pukulan yang sangat disegani, tetapi ia hidup dari berjualan kue untuk menafkahi anak-istrinya. Demikian pula Sabeni dan juga jago-jago Tenabang lainnya.

Prinsip hidup yang dipegang oleh para pesilat Tenabang sama dengan prinsip orang Betawi pada umumnya, yaitu bahwa musuh tidak dicari, tetapi kalau menantang pasti dilayani. Seperti kata ungkapannya “Ente jual ane beli”. Selain itu seperti orang Betawi lain, orang Tenabang pun bersifat toleran dan egaliter. Maksudnya mereka ikhlas jika kampungnya tergusur demi pembangunan dan kemajuan bangsa. Begitupun bagi orang Tenabang bahwa semua orang dan semua etnis adalah sama selama tidak mengusik kenyamanan hidupnya.

Sesungguhnya bermain silat tidak terlepas dari prinsip umum orang Betawi, yaitu bisa ngaji, bisa pergi haji, dan bisa bela diri. Dengan prinsip bisa ngaji, anak-anak Betawi dulu sudah diajar membaca Alquran, belajar salat, dan mempelajari ilmu-ilmu agama lainnya sehingga akan menjadi seorang muslim yang baik.

Dengan prinsip bisa pergi haji, orang-orang Betawi dulu rajin bekerja dan rajin mengumpulkan uang untuk biaya ibadah haji. Ibadah haji tidak mungkin dapat dilakukan jika tidak punya uang yang cukup, baik untuk biaya perjalanan maupun untuk biaya keluarga yang ditinggal. Kemudian dengan prinsip bisa bela diri, anak-anak Betawi juga belajar bermain silat dengan tujuan bukan hanya untuk membela diri sendiri, tetapi juga membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Dahulu pandai bermain silat juga diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji karena selama perjalanan dari Mekah ke Madinah tidak aman karena banyak perampok dan begal. Jadi kalau bisa bermain silat, keamanan diri bisa lebih terjamin. Tidak perlu khawatir akan adanya ancaman begal di tengah jalan dari Mekah ke Madinah dan sebaliknya.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe, hlm. 207-211. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee atau kontak langsung ke 081385430505