Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

0
6254
Novel Karya Enny Arrow "Badai Asmara"

Ada yang kenal Valentino atau Enni Arrow? Kalau ada pasti itu dari generasi zaman 1970-an. Ada yang kenal Chin Ping Mei atau Les Hitam? Aha, itu pasti dari generasi yang lebih tua lagi, yaitu 1950-an. Tetapi, kalau kenal, semua sama setuju dan mengaku mereka generasi doyan bacaan porno.

Dulu, sebelum ada VCD/DVD porno atapun website porno yang bertebaran seperti sekarang ini, para remaja pada 1950 dan 1970-an mendapatkan hiburan bacaan dengan sembunyi-sembunyi. Tidak semua cerita remaja bersifat dan cenderung pornografi. Akan tetapi, ada cerita yang khusus ditujukan kepada remaja yang cenderung mengangkat permasalahan sekitar hubungan seks.

Cerita atau novel tersebut ternyata sudah lama beredar. Cerita jenis itu sudah ada sekitar tahun 1950-an. Bentuknya masih sederhana (buku saku) yang hanya dibungkus dengan sampul tipis dan umumnya menggunakan kertas stensil. Sebab itu, cerita tersebut dikenal dengan nama cerita stensilan.

Sebagai barang yang dianggap tabu oleh masyarakat, sudah tentu nama pengarangnya pun menggunakan nama samaran. Di antara nama samaran yang muncul dan terkenal di kalangan remaja pada 1970-an, adalah Valentino dan Enni Errow. Maka, cerita jenis tersebut juga dikenal dengan sebutan stensilan Valentino atau Enni Arrow.

Baca Juga:

  1. Film Pertama Masuk Jakarta
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Profesi yang Punah Tukang Hirkop dan Tukang Minyak Tanah

Entah dari mana nama itu diambil, mungkin nama Valentino diambil dari nama playboy Italy (Venesia) abad pertengahan yang pernah terkenal sebagai perayu dan penggoda wanita. Adapun asal nama Enni Arrow saya tidak tahu. Sudah tentu ketenaran mereka diikuti oleh sejumlah stensilan bajakan dengan menggunakan nama mereka.

Akan tetapi, bagi pembaca yang ahli dapat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Berbagai judul yang tertera pada buku jenis ini saja sudah dapat mengundang birahi pembacanya, apalagi isinya. Buku jenis ini dulu bisa didapat di wilayah Pasar Senen, Pasar Baru, Lapangan Banteng dan Pasar Jatinegara.

Ada cara khusus untuk membeli buku tersebut. Biasanya penjual akan menawarkan kepada pembeli sambil berbisik dan menggunakan istilah yang telah diketahui bersama. Kalau pembeli berminat, tinggal menawar. Setelah setuju harga yang disepakati, penjual akan memasukan buku stensilan ke dalam bagian tengah buku komik atau majalah murahan dan menyerahkan kepada pembeli.

Sikap ini dilakukan sebab ada kekhawatiran bahwa buku jenis itu dilarang beredar oleh pihak kepolisian yang seakan-akan mengatasnamakan dirinya sebagai masyarakat anti buku porno.

Adapun remaja tahun 1940–1950-an atau sebelum Jepang ke Hindia Belanda mungkin lebih mengenal cerita Chin Ping Mei yang berupa saduran, baik dari bahasa Inggris dan bahasa Cina. Cerita tersebut sempat diterjemahkan diam-diam ke dalam bahasa Belanda. Cerita tersebut termasuk berani menampilkan adegan yang dianggap tabu untuk dituliskan pada masa itu.

Di samping itu, terdapat Serial Les Hitam yang condong ke pornografi. Mungkin sebagian orang tua kita yang bukan dari keluarga puritan dapat ditanya tentang kedua cerita tersebut, siapa tahu mereka masih ingat. Hadirnya bacaan jenis itu sebenarnya merupakan suatu kenyataan. Akan tetapi sebagian masyarakat yang anti terhadap pornografi menafikan keberadaannya.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 16-17

Apalagi di kalangan pengamat sastra. Jenis bacaan tersebut bukan saja kitch atau picisan, tetapi sebaiknya menurut mereka tidak perlu dicetak. Bacaan itu akhirnya hadir di pasar gelap dan di pinggiran. Hidupnya mengendap-ngendap, termasuk dalam kategori ini adalah komik remaja. Komik jenis ini cepat menyebar di kalangan remaja.

Komik porno ini sempat dibabat oleh pihak kepolisian. Bahkan ada operasi pembakaran khusus untuknya. Adapun novel stensilan tetap bergerilya di laci sekolah, tas remaja dan di emperan (trotoar).

Pada 1970-an merebak bacaan populer dalam bentuk komik. Selain muncul komik yang baik, sebagian muncul juga komik nakal yang cenderung cabul dengan menampilkan berbagai gambar hot. Umumnya gambar cabul itu muncul di komik jenis percintaan remaja dan di sebagian cerita silat.

Komikus yang terkenal dengan gambar hotnya adalah Budianto dan Budiayin yang spesial membuat komik percintaan remaja. Adapun komik silat buatan Djair dan Tatang S juga sudah mengarah ke pornografi.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 16-17. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY