Mengenang SM Ardan Tokoh Revitalisator Lenong

0
660
SM Ardan adalah tokoh yang lincah dalam banyak lapangan kebudayaan. Ia tokoh perfilman nasional yang bersama Misbach Jusa Biran mendirikan Sinematek.

Mengenang Ardan (1932 -2006) teringat kesuksesan Lenong pada masa ‘emas’ Taman Ismail Marzuki (TIM), tempat berbagai seninam berkiprah. Termasuk juga Ardan yang bermula sebagai penulis/sastrawan, maupun lainnya yang dari teater, film, tari , musik dan seni rupa. Mereka di sana mengembang bakat keseniannya. Suatu masa kegemilangan apresiasi publik dan berbagai seniman berinteraksi dalam keakraban berkesenian, berkumpul ‘seperti rumah sendiri’ telah menjadi kenangan. Sampai di sini ada suatu harapan agar semua bisa kembali lagi.

Merevitalisasi teater Lenong Betawi adalah salah satu keunikan yang paling dikenal jika mengenang peranan Ardan. Ia melakukannya bersama rekan-rekannya dari Ikatan Lenong Jakarta; Djajakusuma, Sumantri Sastrosuwondo dan Ali Shahab. Walaupun lahir di Medan tetapi Ardan akrab dengan ekspresi budaya Betawi. Selain bapak Betawi dan ibu dari Bogor yang bisa disebut masuk perbtasan geografi budaya Betawi, tapi hampir sepenuh hidupnya di Betawi. Karya sastranya mengenai berbagai kehidupan orang Betawi disertai keunikan dialog bahasa Betawi, yang dulu dikenal sebagai dialek Jakarta. Ini tercermin dalam kumpulan cerpennya Terang Bulan Terang di Kali (1955),  Nyai Dasima (1963) dll, kemudian diangkat sebagai teater Lenong ke panggung  TIM dari 1968 hingga tahun 80an.

Baca Juga:

  1. SM Ardan yang Ngebekasin
  2. Radjiman Wedyodiningrat Bapak Pajak
  3. Nani Kusumasudjana Ilmuwan Muda Korban Kejahatan Penjajah Jepang

Mungkin bisa disebut Ardan termasuk yg pertama mempopulerkan dialek Betawi melalui cerpen-cerpennya, sehingga akhirnya berbuah ke revitalisasi Lenong, dan juga berkembang melalui tulisan Firman Muntaco. termasuk keahlian ilmiah seperti pada Muhadjir dan Abdul Chaer, serta lain-lainnnya yang tidak bisa disebut satu per satu. Bisa dikatakan itu bermula dari tulisan Ardan sejak 1948 di berbagai koran Jakarta, lalu ia kembangkan dalam tulisannya dialek Betawi menjadi bahasa dan budaya Betawi.

Menurut Ardan dalam buku 25 Tahun TIM menulis “Seni Tradisi di PKJ-TIM” (1994, Yayasan Kesenian Jakarta) “…Lenong dan seni Betawi lainnya berada di pinggir jurang kematian pada tahun 1960an. Pesatnya perkembangan Jakarta sebagai Ibukota negara sejak 1950 telah memojokkan Lenong sehingga nyaris punah…”  Sebab itu revitalisasi Lenong setelah adanya TIM perlu dilaksanakan, sebagai suatu panggilan insaniah Betawi.

Memang bisa dikatakan kreativitas seni terganggu sebelum 1950an, Indonesia mengalami penjajahan Jepang pada Perang Dunia II dan perjuangan perang kemerdekaan setelah itu, yang membawa akibat kesenian rakyat, termasuk Betawi, tidak bisa berkembang selama kurang lebih 10 tahun. Setelah itu perkembangan politik di Indonesia banyak menghalangi pertumbuhan kesenian, hingga di Jakarta muncul Gubernur Ali Sadikin yang atas anjuran sekelompok tokoh dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengusulkan dibangun Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Mengenai kesuksesan Lenong di TIM, menurut  Umar Kayam dalam satu eseinya “Sang Lenong” di Seni, Tradisi, Masyarakat (1981, Sinar Harapan) “…Dewan Kesenian menaruh Lenong sebagai salah satu acara tetap untuk mencoba ikut mencegah supaya Lenong tidak mati.  Yang mengejutkan, bahwa sambutan penonton meluap, penontonnya bukan orang Betawi saja tetapi juga orang pendatang, orang gedongan, dan tiba tiba Lenong menjadi prima donna TIM … ada suatu masa pada tahun tahun itu di mana nonton Lenong dan menguasai jargon lenong dianggap sebagai semacam keharusan di kalangan muda-mudi Jakarta…” Setelah itu, kurang lebih selama 10 tahun, Lenong meluap perlahan-lahan mengalami perubahan karena sudah mulai ditayangkan di luar TIM, di televisi dan menyebar melalui panggung hiburan lainnya.

Dengan demikian ketika Ardan menulis dalam 25 Tahun TIM, ia sudah menjelaskan kegelisahan melihat kemunduran Lenong. Sesuai pula dengan kemunduran Srimulat yang pada awal TIM juga menjadi primadonna dengan penonton yang meluap-luap. Kemunduran itu tidak saja dalam pentas di TIM tapi juga dalam televisi. Exponen Srimulat, Ludruk maupun Ketoprak yang mewarisi humor Goro Goro Wayang Orang dan Dagelan Mataram dari tradisi Jawa mulai bergeser dari pentas teater menjadi pentas humor, karena lebih disenangi publik.

Ardan menulis juga di dalam 25 Tahun TIM itu, bahwa ada yang terlupa dalam sejarah kesenian teater, karena Lenong sudah masuk ke kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan berdirinya grup  Simas dari Azusan. Grup ini pentas pada Festival Kesenian Tradisional Betawi 1993 yang diselenggarakan Badan Seni Mahasiswa Indonesia Jakarta. Ini menunjukkan adanya peminat seni tradisi Betawi di antara mahasiswa Jakarta. Ini pula yg memberi motivasi pada seorang Syaiful Amri, anak Betawi yg jadi mahasiswa teater di IKJ.

Teater humor yang berasal dari tradisi Jawa yang kemudian berubah arah  menjadi Komedi Dagelan dan Ketoprak Humor memberi masukan baru. Suatu gejala popularisasi komedi lawak sebagai hiburan seni pertunjukan yang di kemudian hari menjadi marak melalui misalnya Stand-up Comedy, hiburan lawak baik secara solo maupun berdialog, seperti selebriti Jojon, Cak Lontong dan Sule, acara Sentilan Sentilun. Gejala ini secara internasional sudah sangat populer juga seperti di India dan di Barat melalui hiburan cabaret dan burlesque, baik di televisi  dan pentas.

Kemudian Ardan menganjurkan  wadah baru pembinaan teater Betawi  menjadi Komedi Betawi yang pada awal 90an dipegang  lebih dulu oleh Mandra, aktor Betawi dalam Si Doel-Rano Karno. Komedi Betawi kemudian berkembang menjadi Kombet yang kelanjutannya dipimpin Syaiful Amri, keluaran studi teater IKJ. Kombet atau Komedi Betawi di bawah bimbingannya menjadi Rekacipta Lenong dan Topeng yang melanjutkan penampilan selebriti Betawi seperti Nori, Bolot, Mali dll.

Ketika memasuki millenium baru sudah mulai beberapa versi baru dari teater Betawi seperti Teater Abang None dari Maudy Koesnadi, juga selebriti serial televisi Si Doel Rano Karno. Demikian pula muncul berbagai grup Lenong-Topeng dari generasi baru, biasanya keturunan tokoh-tokoh teater Betawi yang telah berkembang pada masa ke-emasan Lenong tahun 1970-an itu. Namun demikian, kesuksesan dari zaman itu tidak pernah bisa dikembalikan lagi.

Ardan dan Lenong di TIM, menarik perkembangan minat dari saya sebagai orang bukan asal usul Betawi juga bukan dari teater  yang  mulai aktif di lingkungan TIM—baik dalam kedudukan di DKJ dan dosen Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini jadi IKJ. Latar belakang studi Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI),  dan kemudian berkantor di Arsip Nasional, menangani berbagai sumber sejarah, membangkitkan perhatian pada sejarah budaya Betawi. Meski pada waktu itu kesenangan berkesenian baru terbatas melalui seni pertunjukan ballet,  mengelola sekolah Ballet Nritya Sundara bersama Farida Oetoyo, sebagai pengajar dan koregrafer. Kesenian Betawi  di lingkungan Jakarta yang masih ada pada masa itu, terutama menjelang perayaan seperti Imlek dan sudah cukup bisa jadi dasar membangkitkan minat sejak dari kecil karena lahir dan tinggal di Jakarta. Gambang Kromong degan Lenong dan Cokek, Tanjidor masih bisa dinikmati, meski pernah dilarang karena kepentingan keamanan.

Dalam pergaulan di DKJ dan LPKJ, ketertarikan pada seni budaya Betawi berlanjut melalui keakraban diskusi dengan Djayakusuma dan Sumantri Sastrosuwondo serta mengikuti latihan Lenong di kampus LPKJ menjelang pentas di Teater Terbuka TIM. Kemudian mengikut penelitian Lenong dengan Sumatrisastrosuwodo. Berkenalan dengan selebriti Lenong seperti Nasir, Bokir, Nori, bu Siti, mak Kinang dll. Kemudian diikuti belajar praktek berkesenian dengan mereka. Juga menggarap kreasi baru tari berinspirasi dari budaya Betawi seperti Plesiran dan Pendekar Perempuan. Juga mengisi semacam extra turn seperti dari teater hiburan masa lampau Komedi Stambul dan Bangsawan, intermezzo tari yang dikoreografikan secara baru mengikuti gaya dan konteks budaya Betawi dalam pentas Lenong sesuai pengarahan sutradara Sumantri Sastrosuwondo maupun Ardan, agar sesuai dengan kebetawian dan bukan sekedar hiburan seperti pada zaman dulu.   Suatu hubungan kekerabatan berkesenian Betawi selama kurang lebih 20 tahun, yang membawa perkembangan pengetahuan yang sangat berarti bersamaan dengan berbagai pekerjaan baik di kantor kearsipan maupun tugas extra mengajar di LPKJ dan tugas kesenian lainnya.

Dalam menggarap Lenong di TIM, Ardan dan rekan-rekan Ikatan Lenong Jakarta menggunakan teks naskah teater secara lentur, terutama dalam menggarap cerita yang dari luar budaya Betawi untuk diperkenalkan pada seniman Betawi. Kebebasan spontanitas berdialog secara alamiah dipertahankan kepada aktor-aktor tradisional Betawi, terutama dalam duet bodoran, misalnya antara Nasir dan Bokir, untuk mempertahankan suasana Betawi, daya tarik utama penonton.  Para aktor  yang ikut serta bisa campuran dari orang dunia film/tv, seperti Ateng dan Benyamin S,. Termasuk juga dengan yang biasa ikut Lenong atau pun Topeng saja. Mereka disatukan menggairahkan suasana Betawi-Jakarta. Ceritanya tidak terbatas pada kebetawian saja. Bisa cerita jagoan dari film Barat, cerita Shakespeare maupun adaptasi dari legenda budaya lain, seperti Jawa, Sunda, Melayu, Cina, dll, namun dialek dan nafas Betawi tetap kuat.  Memberi suasana baru untuk menarik minat lebih luas.

Kepentingan  berteater ini sebetulnya akibat interkulturisasi global yang sudah berkembang (sejak adanya Komedi Stambul di Indonesia). Di Barat terutama sesuai dengan perkembangan mazhab teater dunia setelah 1960an, bahwa teater tidak berpegang sepenuhnya pada teks dramatik seperti naskah klasik. Tetapi,  lebih melihat esensi sebagai seni pertunjukan dengan mengadopsi pendekatan maupun wawasan dan media baru. Ini dikenal sebagai teater postdramatic. Pendekatan demikian ternyata menarik minat dari publik  yang lebih luas, sampai ke generasi muda.

Pendekatan baru ini sering tidak disetujui tradisionalis Betawi maupun akademisi dari studi Antropologi dan Tradisi Lisan. Karena dianggap menyimpang dari pakem dan merusak warisan tradisional. Esensi perubahan dalam perkembangan teater ke berbagai gaya baru tidak bisa dicegah maupun ditentang, demi preservasi tradisi. Preservasi bentuk tradisi suatu masalah tersendiri dan perlu ditampung secara tersendiri pula kepentingannya.  Demi membangun kreativitas yang sehat dan berguna, kelanjutan eksistensi sebagai tontonan seni pertunjukan perlu terbuka terhadap kepentingan minat publik yang berkembang dan memperhatikan ekosistem yang berkembang pula.


Tulisan ini adalah makalah Julianti Parani PhD (Pemerhati kesenian, peneliti , penulis dan dosen senior IKJ) yang dipresentasikan dalam acara Mengenang 89 Tahun SM Ardan: Sastra, Teater, Film dan Perempuan pada 4 Februari 2021 jam 19.00-21.00 WIB yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan Penerbit Masup Jakarta

LEAVE A REPLY