Love Affair Unik Bung Karno dan Yurike Sanger

0
86
Yurike Sanmenjelang dilamar Bung Karno (nomor dua dari kiri).

Siapa pun mengakui Bung Karno memiliki daya pikat yang luar biasa. Sebenarnyalah, Bung Karno itu selain brilian juga bejibun ilmunya, selain “keren abis” juga perlente,  selain berkarakter kuat juga teguh dalam prinsip, selain sportif juga pemaaf, selain jago bertutur juga jago menulis, selain berjiwa besar juga gevoels’mens (perasa), selain supel juga humoris, selain mencintai kebersihan juga menyukai keindahan, selain suka bergaul juga menghargai persahabatan, selain berwibawa juga kharismatik, selain tegas juga tidak pilih kasih, selain tidak egois juga gandrung persatuan-kesatuan nasional, selain berjiwa demokrat juga mengayomi, dan selain senang melukis juga kolektor lukisan terbanyak.

Daya pikat yang dibentuk oleh berbagai “selain” di atas, tidak pelak lagi, membuat Bung Karno dikagumi berbagai kalangan, termasuk dikagumi perempuan. Beberapa di antara perempuan itu malahan terang-terangan ingin, maaf, “tidur” dengan Bung Karno agar memperoleh bibit geniusnya alias ingin punya anak biologis dari Bung Karno. Bentuk kekaguman yang berlebihan itu, meskipun manusiawi, sangat tidak pada tempatnya.

Baca Juga:

  1. Yurike Sanger dan Bung Karno yang Cari Utangan RP 2 Juta
  2. Bung Karno Terusir dari Istana
  3. Sukarno Suka Banyak Anak Tak Suka KB

Meskipun Bung Karno sadar menjadi lelaki pujaan, ia justru tidak memanfaatkannya secara membabi-buta. Yang dilakukan The Great Lover itu justru “meneropong” sendiri perempuan yang sesuai tipenya, berlanjut dengan pendekatan khas Bung Karno yang romantis, dan setelah perempuan itu bersedia dilamar kemudian dinikahi. Di luar Utari, mereka yang pernah menjadi istri Bung Karno adalah Inggit, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Harjatie (baca: Haryati) dan Yurike Sanger.

Jalinan atau kisah asmara mereka dengan Bung Karno boleh jadi beragam, tetapi love affair yang terajut sama-sama mendatangkan kesan mendalam. Hal tersebut tidaklah aneh mengingat Bung Karno memang perayu kelas wahid. Begitu dahsyat panah asmara yang dilepas Bung Karno sehingga membuat perempuan yang terkena kontan mabuk kepayang. Hebatnya, masing-masing istrinya merasa dialah satu-satunya perempuan di dunia yang sangat dan paling dicintai Bung Karno.

Itu pula yang dialami dan dirasakan Yurike Sanger. Love affair antara gadis “bau kencur” itu dengan Presiden Sukarno benar-benar unik. Uniknya, di sela-sela waktu senggang yang ada sebagai Presiden, Bung Karno ingin menunjukkan bahwa dia berhak menikmati kehidupan prive-nya dan menjalaninya tanpa beban tanpa canggung. Dengan kata lain, Bung Karno tidak hipokrit.

Izinkan sekarang saya beralih mengisahkan buku yang saya tulis, Percintaan Bung karno dengan Anak SMA. Buku ini barangkali tidak pernah ada andaikata Yurike Sanger tidak membalas telepon saya Rabu siang, 21 Juni 1978. Hari itu kebetulan tepat sewindu Bung Karno wafat dan bertepatan pula dimulainya pemugaran makam Bung Karno.

Inti pembicaraan melalui telepon itu, Yurike Sanger bersedia saya wawancarai untuk konsumsi Majalah Sonata. Kesediaan itu sangat menggirangkan karena saya akan memperoleh cerita eksklusif dari seorang perempuan yang pernah menjadi istri Bung Karno. Majalah Sonata sendiri dikenal sering memuat berbagai hal mengenai Bung Karno. Pelansiran itu, pada zaman Orde Baru kala itu, boleh dibilang cukup berani.

Sebelum mengakhiri obrolan saya sepakati akan menemui Yurike Sanger hari Minggu siang, 25 Juni 1978 di rumahnya di Jalan Kayu Jati Baru No. 8, Rawamangun.

Usai meliput acara sewindu Bung Karno wafat yang diselenggarakan Rabu malam tanggal 21 Juni 1978 di rumah Bu Fatmawati, saya bilang ke Guntur Sukarno yang akrab disapa Mas Tok bahwa saya akan mewancarai Yurike Sanger hari Minggu siang. Karena Mas Tok tidak bereaksi, saya susuli dengan pertanyaan ringkas,

“Titip salam, nggak?”

“Ya salam aja,” kata Mas Tok.

“Mbak Yuri dapat salam dari Mas Tok,” kata saya sambil duduk di ruang tengah rumahnya.

“Apa iya sih?” tanya Yurike, terkesan tidak percaya.

“Kalau nggak percaya, Mbak Yuri tanya Mas Tok aja,” gurauku.

“Saya mana berani, Dik Kadjat,” komentarnya sambil tertawa.

Karena sejak awal memang ingin menulis biografi cintanya dengan Bung Karno secara panjang-lebar, wawancara yang lebih tepat disebut obrolan itu saya lakukan beberapa kali tanpa jeda. Sebagian obrolan dengan Yurike itu terdapat dalam sembilan kaset berdurasi 60 menit, sebagian tidak terekam karena off the record.

Ketika hasil wawancara tersebut termuat di Majalah Sonata dalam dua edisi. Yang pertama bergambar sampul Guntur Sukarno, Majalah Sonata laku keras seperti kacang goreng. Beberapa tahun kemudian Majalah Pertiwi memuatnya secara bersambung, kalau tidak salah ingat sampai dua puluh edisi. Harian Buana, juga beberapa tahun kemudian, memuat biografi cinta Yurike Sanger itu. Majalah Swara Kartini, masih beberapa tahun kemudian, turut memuatnya secara bersambung pula.

Sebagian pembaca ketiga media itu menanyakan kapan kisah cinta Yurike Sanger itu dibukukan karena jalinan isinya, kata mereka, sangat memikat. Pertanyaan mereka itu kini terjawab.

Saya mengalami kesulitan menghubungi Yurike Sanger—sejak beberapa tahun silam bermukim di Amerika Serikat—untuk mengucapkan terimakasih terhadap dua hal. Hal pertama, berkat penuturannya yang apa adanya masyarakat menjadi lebih mengenal pusparagam sosok Bapak Bangsa yang pada akhir hayatnya hidup penuh penderitaan itu. Hal kedua, melalui penuturan Yurike Sanger tersebut masyarakat makin mengetahui kehebatan Bung Karno sebagai pecinta, juga kebesaran jiwanya dan keikhlasannya melepas semua atribut semu keduniawian daripada harus menyaksikan bangsanya yang ia ikut merdekakan berbunuhan.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku  Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA karya Kadjat Adra’i, hlm. xi-xviii Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  dan www.komunitasbambu.id atau kontak langsung ke WA 081385430505

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965 karya Onghokham yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Sukarno dan Modernisme Islam karya Muhammad Ridwan Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Sukarno Muda karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Hari-hari Terakhir Orde Baru karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Penghancuran PKI karya Olle Tornquis yang bisa didapatkan di Tokopedia, dan Shopee.

Musim Menjagal karya Geoffrey Robinson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee dan www.komunitasbambu.com atau telpon ke 081385430505