SM Ardan yang Ngebekasin

0
330
SM Ardan (1932-2006) adalah tokoh yang lincah dalam banyak lapangan kebudayaan. Ia tokoh perfilman nasional yang bersama Misbach Jusa Biran mendirikan Sinematek. Tetapi, ia terutama dikenal sebagai sastrawan yang menyumbang pada sastra nasional model penulisan dengan karakter lokal kebetawian yang kuat dan merekam dalam karyanya kehiduapn sosial budaya orang kecil di kampung-kota Jakarta pada 1950-an.

“Jangan datang Saptu atau Minggu. Saya mau ke Puncak”. SM Ardan menulis pesan pendek via telpon genggam itu untuk saya pada 10 November 2006.

Sudah lebih dua bulan kami bolak-balik ketemu untuk urusan penyuntingan kumpulan lengkap cerita pendeknya. Pada 2 Februari 2007, ia akan genap 75 tahun. Kami mengangankan akan merayakan dengan penerbitan kumpulan cerita pendek itu. Titelnya: Terang Bulan Terang di Kali Cerita Keliling Jakarta. Ini tentu cara terbaik dan paling tepat untuk merayakan seorang sastrawan seperti dia yang menjadi tua.

Nasib tak bisa ditebak, malang tak bisa ditolak. Selang dua hari setelah pertemuan, pada 12 November, sastrawan yang juga tokoh perfilman nasional itu tertabrak motor. Ia koma tujuh hari, lalu meninggal. Ketika melayat Almarhum, saya tanyakan ke istrinya, Masfufah, ”Apakah benar hari itu Almarhum pergi ke Puncak?”

Istrinya menjawab, ”Nah…nah ngelantur tuh Abang ngomongnya, pan itu ari dia di rumah aja.” Seketika saya pun jadi teringat pada kepercayaan orang Betawi bahwa sebelum orang meninggal dunia, dia akan ngebekasin atau memberi isyarat berupa omongan yang melantur atau aneh.

Baca Juga:

  1. Nani Kusumasudjana Ilmuwan Muda Korban Kejahatan Penjajah Jepang
  2. Radjiman Wedyodiningrat Bapak Pajak
  3. M.H. Thamrin vs Mohammad Tabrani

Bolehlah disebut S.M. Ardan ngebekasin saya. Kata-katanya memang terus membekas ke ingatan saya: “pegi ke Puncak”. Kata-kata itu seperti lorong waktu yang membawa saya terkenang sebuah sajaknya tentang daerah dingin di Puncak: “Kenangan dari Ciloto” di Siasat, 1953.

Ini salah satu sajak yang menandakan kehadiran pertama Ardan dalam peta sastra Indonesia. Sajak muram yang merupakan jalinan sikap moral terhadap sebuah kehilangan. Ada nada sunyi dan rindu ceria keluarga serta ketiadaan cinta kasih orang tua.

Misbach Jusa Biran, teman segalang-segulungnya, mengungkapkan bahwa sajak itu—juga sajak-sajak Ardan lainnya di Poejangga Baroe, Siasat, Madjalah Nasional, Indonesia, dan Zenith—direguk idenya dari kehidupan Ardan sendiri. Hidupnya yang diliputi kemuraman karena kematian ayahnya sejak ia berumur enam tahun.

Suatu saat di masa kecil (sesuai dengan blangko biodata di PDS HB Jassin), Ardan punya empat cita-cita. Salah satunya menjadi penyelidik kehidupan manusia. Dalam cerpen “Abang Pulang Siang”—kelak dalam semua cerpennya—ia benar-benar berusaha mewujudkan dirinya sebagai penyelidik kemasyarakatan. Kritikus Boejoeng Saleh dan HB Jassin pun mengakui Ardan pengamat kehidupan sosial yang teliti. Karya-karyanya akan membantu sekali penyelidikan mengenai Betawi-Jakarta. Sebab semuanya mendokumentasikan bermacam unsur tradisi-budaya Betawi.

Ada satu anggapan keliru selama ini tentang Ardan, yaitu bahwa dia orang Medan. Dia hanya menumpang lahir di Medan 2 Februari 1932. Tapi tulen beribu-bapak Betawi. Ayahnya seorang tukang potret yang merantau ke Medan dan kembali ke Jakarta saat Ardan berumur enam tahun. Jadi Ardan adalah “orang dalam” Betawi-Jakarta. Ia tumbuh di antara anak-anak Betawi-Jakarta, mengalami suka-duka mereka. Sehingga, mengutip Ajip Rosidi, “Ardan mampu membuat cerita-ceritanya disemangati pengamatan rasa kemanusiaan yang inklusif, merangkul dan memiliki kesadaran kemanusiaan yang satu.”

Tema dunia rakyat Betawi-Jakarta dalam sastra Indonesia saat itu bukanlah baru. Aman D. Madjoindo telah mulai dengan Si Dul Anak Betawi. Lantas M. Balfas dengan Si Gomar. Tapi Ardan lebih menukik dari keduanya. Madjoindo bukan omong Betawi. Ejaannya saja yang Betawi, tapi gaya dan jiwanya Indonesia-Minang. Begitu kata Ardan sendiri. Ia menilai Balfas lebih murni dari Madjoindo. Balfas menggunakan omong Betawi Ora’. Tapi agak kebelanda-belandaan. Di sinilah kelebihan Ardan mengasah kelebihannya. Dia memakai benar-benar dialek Betawi. Dan sebagai “orang dalam”, nyata benar kewajarannya.

Pada pertengahan 1950-an Ardan adalah tokoh yang memikat. Gaya baru cerpennya disambut sesuai dengan semangat menampilkan warna lokal yang sedang ramai di kalangan sastrawan. Para kritikus menyorotnya. Bahkan dialek Betawi dipakainya untuk mengobarkan polemik di Star Weekly dan Kisah pada 1954 juga awal 1955 antara HB Jassin, B Soetiman, Setiawan HS, dan Lie Tie Gwan. Setiawan HS menyerang Jassin selaku redaksi Kisah bahwa memuat cerpen Ardan yang berlogat Betawi bisa mengancam persatuan nasional. Sedangkan bagi Jassin dan Lie Tie Gwan, justru karya Ardan memperkaya kesusastraan Indonesia.

Menjawab polemik itu, Ardan menulis; ia memakai dialek Betawi agar cerita-ceritanya lebih hidup. Soal menimbulkan perpecahan, justru sebaliknya. Etnis lain membaca cerpennya jadi tahu kultur orang Betawi sehingga bisa memahami. Sebab itu, ketika Ardan mengumumkan cerpen “Abang Pulang Siang”, Jassin mengimbau betapa perlunya tugas merekam yang dikerjakan Ardan diikuti juga oleh pengarang lain di daerah-daerah di luar Pulau Jawa.

Jika boleh menilai melalui cerpen-cerpennya, Ardan ingin menunjukkan bahwa ia tak pernah terasing dari tradisi dan rakyat kecil Betawi-Jakarta yang dicintainya.

Betapa ia sedih atas bahaya-bahaya yang mengancam mereka. Kemiskinan, kebodohan, ketakutan, dan penyakit yang membekap mereka bukanlah takdir, melainkan suatu sistem jahat yang sengaja dibangun dari atas. Mereka bukan pemalas, tetapi pekerja yang ulet dan memegang prinsip kebersamaan, keberagaman serta etik moral lainnya.

Ardan ”menyanyikan kesaksian” mereka. Dan berkat kesaksiannya, kita dapat mendengarkan sesah serta derita rakyat kecil Betawi-Jakarta yang sering dianggap angin lalu. Hak-hak mereka yang terus dimanipulasi. Air mata mereka yang tak habis-habis mengalir seperti aliran Ciliwung yang melintasi kampung-kampung antero Jakarta.

Pernah dimuat di Majalah TEMPO, 04 Desember 2006.


Lebih jauh baca:

Nyai Dasima karya G Francis dan SM Ardan yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Terang Bulan Terang di Kali dan Cerita Keliling Jakarta karya SM Ardan yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

LEAVE A REPLY