Unjuk Taling yang Lenyap dalam Silat Betawi

0
167
Unjuk Taling

Setiap perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi di kampung-kampung dan pelosok-pelosok Jabodetabek pada masa lalu memiliki tradisi khas. Terkadang tradisi ini hanya ditemukan di salah satu perguruan dan tidak ditemukan di perguruan lainnya.

Tradisi khas dalam setiap perguruan maen pukulan Betawi ada yang merupakan warisan turun temurun dari guru-guru pendiri awal perguruan di masa lalu, ada pula yang merupakan hasil proses kreasi guru-guru di kemudian hari.

Pada umumnya tradisi yang ada dalam perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi mengandung aspek spiritual, seperti acara selamatan penutupan latihan menjelang masuknya bulan suci Ramadhan atau yang terkait dengan acara kebudayaan seperti Pengurutan, Ngonde, Keceran (menetesi mata dengan ramuan tujuh macam bunga) dan Unjuk Taling yang masing-masing memiliki makna filosofi, sosial dan budaya.

Dari beberapa tradisi khas perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi seperti yang telah disebutkan di atas, mungkin hanya tradisi Unjuk Taling saja yang sudah tidak terdengar lagi saat ini. Termasuk juga mungkin yang memiliki bentuk kegiatan agak sedikit berbeda dari tradisi-tradisi dalam perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi pada umumnya.

Baca Juga:

  1. Arena Balapan Tahun 1970-an
  2. Gubernur Monyet
  3. Bandit-Bandit Kaya Raya di Batavia

Unjuk Taling adalah tradisi khas perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi yang umumnya dahulu ditemukan di daerah sebelah timur Jakarta, seperti Kramatjati, Ciracas, Pondok Gede hingga Bekasi.

Sebuah tradisi di perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi yang diorientasikan untuk para murid usia belia, yang apabila ditela’ah lebih lanjut sesungguhnya sarat mengandung nilai edukasi.

Salah satu proses yang harus dijalani oleh setiap murid usia belia (usia 8–10 tahun) manakala telah menyelesaikan satu tahapan pelajaran silat, baik hafalan jurus maupun sambut (sabung). Unjuk Taling menjadi ajang uji kecakapan gerak jalan jurus dan kaidah-kaidah silat yang telah dipelajari, melatih keberanian untuk turun atraksi Ngejurus dan Besambut dengan teman seperguruan.

Di beberapa wilayah Betawi sebelah timur seperti di Malaka, Cipayung tradisi Unjuk Taling disebut juga dengan istilah Turun Sambut yang lebih menitik beratkan pada satu kegiatan saja, yaitu latihan sabung.

Unjuk taling memiliki nilai positif menempa mental anak-anak agar terbiasa tampil di depan publik baik untuk seni pertunjukkan (straartvertoningen) maupun acara olahraga pada pertandingan-pertandingan pencak silat yang menghadirkan banyak penonton.

Di sisi lain tradisi unjuk taling juga dapat menstimulasi dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik seorang anak untuk melatih keseimbangan dan keselarasan gerak tubuh, kekuatan dan kelenturan otot pada organ tangan dan kaki.

Karena setiap anak memiliki cara yang unik dalam meyerap informasi, maka dengan melatih kecerdasan kinestetik seorang anak secara perlahan dapat menyerap informasi yang ingin disampaikan.

Di luar dunia pencak silat, Unjuk Taling juga dapat melatih seorang anak untuk terbiasa tampil dan berbicara di depan umum (public speaking) pada saat pengadegan turun sambut dan menanamkan rasa percaya diri sejak usia dini.

Disamping itu pula pada tradisi unjuk taling sedini mungkin seorang murid belia telah ditanamkan rasa rendah hati, menumbuhkan semangat jiwa ksatria dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas.

Sayangnya di masa kini jarang terdengar lagi tradisi Unjuk Taling pada perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi di wilayah timur yang dulu banyak ditemukan.

Dari tradisi khas perguruan maen pukulan atau pencak silat khas Betawi ini, di wilayah kebudayaan Betawi-Bekasi, menurut Abdul Khoir HS, melahirkan sebuah ungkapan atau istilah yang merujuk pada pengertian menonjolkan keahlian dan keberanian.


Lebih jauh lihat buku:

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Cerita dari Gedung Arca karya Wahyono Martowikrido yang bisa didapatkan diTokopediaBukaLapakdan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY