Bandit-Bandit Kaya Raya di Batavia

0
3939
Djaisin, Haji R. Rais dan Ateh. Mereka merampok pedagang perhiasan Steurwald. (De Zweep, 1922)

Dalam reportase Javabode berjudul “Een Opzienbarende Rampokpartij” dilaporkan terjadi serangan rampok ke sebuah rumah keluarga Cina kaya. Perampokan itu menggemparkan karena mengupas begitu rupa bagaimana serangan rampok itu dilakukan. Hanya jumlah korban meninggalnya yang menjadi pengecualian.

Pers kota Batavia saat itu memang tengah keranjingan pemberitaan heboh menyangkut kejahatan.Tak ayal perampokan yang terjadi pada 1918 itu pun menjadi topik perhatian pers. Para jurnalis terjun ke lokasi dan ini menjadi ciri baru yang membedakan penggambaran tindak kejahatan periode itu dibandingkan versi dasawarsa sebelumnya. Jurnalis Eropa rata-rata saat itu lebih memahami dunia kejahatan di koloni. Telah mulai era peliputan besar jurnalis Hindia yang pergi sendiri untuk mengumpulkan berita dan tidak lagi “menyalin” dari pers Melayu.

Java-bode sebab itu dengan lancar dapat mengungkapkan bagaimana perampokan itu terjadi. Perampokan itu terjadi pukul dua malam. Satu dari sepuluh anggota gerombolan rampok masuk melalui lubang yang telah dibuat di atap lalu ia membukakan pintu untuk anggota gerombolannya. Saat bertikai dengan keluarga itu, beberapa orang terluka dan dua orang tewas terkena peluru.

Selama aksi berlangsung, jalanan ditutup oleh gerombolan dengan teriakan peringatan, “Saudara, saudara, tjengkok (orang Tionghoa), jangan keluar, nanti ditembak!” Meskipun telah diperingatkan, orang-orang tidak diam saja sehingga menyebabkan dua korban tewas karena berkonfrontasi dengan para bandit. Revolver biasanya hanya digunakan untuk ditembakkan ke udara atau mengancam mereka yang melawan. Hanya sesekali terjadi penganiayaan atau pembunuhan.

Baca Juga:

  1. Komik Super Hero Indonesia
  2. Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi
  3. Riwayat Komik Silat

Walaupun bandit-bandit memakai topeng, ada seorang saksi mata yang bisa memberikan gambaran beberapa perampoknya. Informasi saksi mata itu mengandung ciri-ciri umum yang kerap disebutkan setiap kali orang menggambarkan tentang perampok—barangkali yang diceritakan saksi mata itu juga hal klise, karena kurangnya petunjuk-petunjuk penampilan perampok yang sesungguhnya. Mereka digambarkan tinggi dan atau kuat, berkulit terang, serta memiliki jenggot bergelung ke atas.

Hasil rampokannya uang senilai f 2.000, jumlah yang sangat besar saat itu. Polisi tidak hanya datang terlambat, tapi juga datang ke tempat yang salah.

Selain dari catatan perjalanan jurnalis Hindia ke kampung yang dirampok, cara lain untuk mencari tahu tindak kejahatan yang terjadi adalah dari liputan sejumlah sidang pengadilan gerombolan perampok. Sidang-sidang pengadilan sering dimuat panjang-lebar dalam koran. Tujuannya tidak hanya untuk memberitakan, tetapi juga memberi sinyal keadaan sosial atau kegagalan pemerintah. Kritik memang sulit dilontarkan langsung ke pemerintah, oleh karenanya cara yang baik adalah mengkritik secara implisit.

Dalam salahsatu koran, terdapat artikel tentang pemrosesan gerombolan perampok di Tangerang yang melakukan aksi di daerah Anyer-Kidul, sebuah wilayah di pesisir barat Jawa berjarak 150 km dari ibukota. Laporan ini memberi gambaran persiapan perampokan. Sidang pengadilan gerombolan tersebut dihadiri banyak pengunjung, terutama orang Tionghoa (karena korbannya seorang Tionghoa).

Masi, salah seorang pemimpinnya, berasal dari Tangerang dan terkadang harus berada di Anyer, di pesisir barat Jawa, karena dirinya seorang pedagang. Menurut laporan, di sanalah awal-mula ia bersama seseorang bernama Sabam mengatur rencana perampokan terhadap seorang haji yang kaya.

Namun, karena terlalu banyak yang keberatan, mereka mengubah rencana dan kemudian merampok seorang warga Tionghoa, Oeij Tjioe Sion, yang tinggal di Grote Postweg atau Jalan Raya Pos. Pemungutan suara dilakukan saat pesta di rumah mandor Cipondoh di daerah Tangerang, lalu mereka memutuskan untuk beraksi. Setelah tujuh-delapan orang dikumpulkan, berangkatlah gerombolan itu.

Kesalahan mereka adalah terlalu lama menunggu—beberapa hari—sebelum bertindak, sehingga kemudian dapat dikenali penduduk di desa-desa sekitarnya. Ketika Oeij si korban kembali dari Batavia dengan uang f 7.000 penghasilannya, saat itulah perampokan dilakukan.

Penduduk desa dikejutkan oleh tembakan dan ketika si pemilik rumah keluar, ia langsung ditembak. Kunci-kuncinya diambil dan setelah itu mereka masuk, kemudian merusak semua perabot rumah. Seorang pembantu Tionghoa diserang dengan kapak, sementara pembantu Pribuminya ditembak. Setelah para perampok menemukan uang, mereka pergi.

Dalam perjalanan, mereka juga merampok sebuah warung yang dekat dengan rumah itu. Karena beban berat berikut hasil rampasannya—kesalahan kedua mereka—itulah mereka bisa dikenali dengan mudah di daerah itu beberapa hari setelahnya. Akhirnya satu per satu mereka mulai ditangkap tanpa perlawanan.

Demikian mereka sampai ke sidang pengadilan dan vonis mereka pun dijatuhkan. Selayaknya seorang penjahat sejati, mereka tidak tampak terintimidasi pengadilan. Mereka malah mendengarkan keputusan dengan “senyum tanpa tanda penyesalan”. Ketika mereka dibawa pergi, “mereka tetap memasang wajah ketawa”.

Adapun yang paling menonjol dari penggambaran di atas adalah bahwa—selama para perampok tidak tertangkap—serangan rampok pasti sangat menguntungkan. Hasil rampokan mereka memang tidak jarang berjumlah sangat besar. Di bawah ini contoh pemberitaan dalam Bataviaasch Nieuwsblad tentang serangan perampok di wilayah Batavia pada permulaan 1919 sampai akhir 1920 dengan hasil rampasannya.

Pada 24 Januari 1919 di Tanah Pabayuran hasil rampasannya sebanyak f 6.000–7.000 (uang tunai), f 6.000–7.000 (barang). Lantas pada 28 April 1919 di Meester Cornelis rampasannya f 8.000. Menyusul setahun kemudian pada 19 April 1920 di Gabus, Bekasi, dapat f 500, f 700 (barang). Pada 08 Juli 1920 di Paal Merah menggaet  f 4.000 serta emas dan perhiasan. Ada lagi pada 16 September 1920 di Jembatan menggondol f 900 (barang). Pada 13 November 1920 di Gang Baru mendapat f 1.300. Disusul pada 16-11-1920 di Gedung Panjang merampok f 1.000. Dan pada 13 Desember 1920 di Kali Pasir meraup f 1.850.

Salahsatu gerombolan perampok besar merampok toko perhiasan Steuerwald pada 1922 yang dilakukan seseorang bernama Haji Rais. Hasil rampokan sedikitnya berjumlah f 40.000. Haji Rais sedang dalam perjalanan ke Singapura ketika ditangkap. Namun, ia diketahui bisa segera melarikan diri dari penjara.

Ketika Komisaris Batavia A.W.V. Hinne terjun dalam pemecahan kasus pembunuh Fatima—cause célèbre pada 1908—ia menemukan jaringan kerja penadah barang curian yang luas. Hasil rampokan yang ditemukan ternyata sangat besar. Semua penduduk kota yang pernah dirampok antara 1907 dan 1908 boleh mendatangi kantor polisi untuk melihat apakah di antara perhiasan-perhiasan yang mencapai f 80.000 itu ada yang merupakan milik mereka.

Artikel dikutip dari buku Margreet van Till, Batavia Kala Malam; Polisi, Bandit dan senjata Api, hlm. 55-59.

Kajian-kajian banditisme lain juga menunjukkan adanya motif materi pribadi dalam perampokan. Itu berlawanan dengan pendapat Hobsbawm, terutama tentang motif-motif sosial perampok. Dalam Bandidos, satu kajian tentang banditisme Amerika-Latin di bawah redaktur Richard W. Slatta, dikemukakan bahwa masyarakat pedesaan lebih terbiasa memprotes dengan cara lain ketimbang dengan banditisme “sosial”.

Ada Nathan Brown yang juga mengacu pada peran motif sosial dalam kajiannya tentang banditisme Mesir. Terakhir, nama Anton Blok juga harus disebutkan bersama kritik terhadap Hobsbawm yang telah dikemukakan di Sebermula.

Lantaran motif sosial dan politik perampok dianggap penting, dalam banyak kajian dibiarkan berada di bagian tengah, di sanalah posisi keuntungan pribadi para perampok itu persis berada. Anton Blok dan Florike Egmond memberikan pandangan tersendiri melalui penelitian mereka tentang besarnya hasil rampokan gerombolan perampok di bagian apendiks buku-bukunya.

Walaupun serangan rampok yang mereka paparkan lebih sedikit frekuensinya di Belanda ketimbang di Hindia-Belanda, hasil rampokan di Belanda juga sangat tinggi, katakan saja bisa ratusan atau bahkan ribuan gulden. Jadinya para perampok abad ke-18 dan ke-19 itu terkadang malah kaya. Namun, mereka cenderung menukar uangnya dalam bentuk barang mewah yang tahan lama.

Perampok-perampok Pribumi yang sukses menjalani hidup nyaman di dekat Kota Batavia, tetapi tetap berada di luar jangkauan masyarakat kolonial. Kampung Gambus Dukuh merupakan tempat semacam itu. Kepala kampungnya bernama R yang mempunyai banyak sawah, kerbau, dan sejumlah rumah. Selain itu ia masih memiliki uang f 56.000 di bank-bank di Batavia.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Margreet van Till, Batavia Kala Malam; Polisi, Bandit dan senjata Api, hlm. 55-59. Bukunya tersedia di Tokopedia, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY