Arena Balapan Tahun 1970-an

0
641
Arena balapan motor pada tahun 1970-an

Dulu lingkaran jalan luar Stadion Utama Senayan pernah dijadikan arena balapan. Arena atau sirkuit balap itu bentuknya bulat lonjong. Arena balap itu digunakan sebelum arena balap di Ancol dibuat.

Pemda DKI zaman Ali Sadikin juga memperhatikan kebutuhan akan balapan untuk anak muda. Bersama dengan lembaga terkait dan organisasi otomotif serta organisasi pembalap, dibuatlah arena balap mobil dan motor di Ancol, dekat kuburan Kristen.

Sebelumnya anak muda Jakarta masih menggunakan beberapa ruas jalan untuk balapan. Sewaktu masih di SD, setahu saya setiap sore dulu di wilayah jalan Balikpapan-Petojo dan dekat jalan Kesehatan sering digunakan untuk arena balapan. Jalan itu digunakan karena lurus dan masih sepi.

Baca Juga:

  1. Sejarah Pabrik Gas di Jakarta
  2. Gubernur Monyet
  3. Bandit-Bandit Kaya Raya di Batavia

Beberapa jalan lurus dan sepi di Jakarta pernah dijadikan ajang perlombaan balap motor. Di antaranya, di Menteng, sekitar jalan Besuki, di Kebayoran Baru sekitar Jalan Bulungan dan Barito. Terkadang ada juga yang memanfaatkan sebagai arena judi. Dulu yang punya motor dan mobil masih sedikit dan yang sedikit itu biasanya anak orang kaya atau anak pedagang Cina.

Alasan lain pembuatan arena balap di Ancol oleh Pemda, adalah karena terdorong melihat dampak buruk dari balapan di jalanan dan banyaknya kritikan dari masyarakat. Walaupun sudah dibuat arena balap di Ancol, tetapi tetap saja kebiasaan untuk mempertontonkan kehebatan dan kejantanan dalam mengendarai sepeda motor masih tetap berlangsung di beberapa ruas jalan di Jakarta, salah satunya di Monas.

Dulu di lingkaran jalan Monas setiap sore sering juga dijadikan arena balap mobil dan motor. Pada dekade itu dikenal istilah “er-eran”. Saya sendiri sewaktu SMP pernah ikut menjadi penumpang mobil teman yang ikut-ikutan mempertontonkan ketangkasannya menggelinding hanya dengan dua roda di Monas.

Polisi pada waktu itu sempat dibuat sibuk oleh ulah para pembalap amatiran itu. Tetapi terkadang polisi berdiam diri sebab mereka tahu yang melakukan er-eran khususnya yang menggunakan mobil itu adalah anak pejabat militer dan kepolisian, seperti teman saya itu yang sekarang telah menjadi seorang perwira tinggi di AD.

Dulu jika mobil bapaknya yang Toyota Hard Top warna hijau sedang nganggur, langsung dia bawa dan mengajak saya untuk sekedar mempertontonkan kehebatannya dengan cara ngepot dan zig zag di Monas, sebelum kami bermain bola.

Ketika jalan tembus antara daerah Kuningan dan Buncit telah dibuat (yang sekarang dinamakan Jalan Rasuna Said) masih belum banyak orang yang melintas. Jalan yang lurus dan masih licin itu digunakan oleh anak-anak wilayah Menteng dan sekitarnya untuk kebut-kebutan mobil, terutama setelah pulang dari sekolah oleh anak PSKD, SMA 3 Setiabudi, SMA 4, SMA 7 Gambir, dan SMA Cikini.

Terkadang seperti janjian, mereka sengaja pulang sekolah meliwati jalan itu dan menunggu sekiranya ada yang lebih dulu melaju, baru setelah itu diburu untuk dikejar dan dipepet. Sering juga terjadi perkelahian gara-gara kebut-kebutan, umumnya pada malam minggu. Anak muda yang senang kebut-kebutan atau er-eran itu berkelompok membentuk geng tersendiri. Mereka menamakan gengnya dengan berbagai nama dan angka.

Geng-geng mobil yang saya ingat di antaranya adalah Dini Dino yang menggunakan mobil-mobil kecil, seperti Morris Mini, ada juga geng mobil Zero Fighter, Madlog, Belel, dan Super Fast. Mereka biasanya keluar pada malam minggu dan nongkrong di beberapa tempat seperti di Menteng dan di daerah Bulungan, Kebayoran Baru. Biasanya kalau lagi iseng mereka suka ngepot (memutarkan mobil dengan ban belakang yang ditahan sehingga mengeluarkan suara berdenyit) dan berjalan dengan cara zig zag.

Selain itu, sambil nongkrong, mereka akan menunggu pihak geng lain masuk ke wilayahnya. Sekiranya ada pihak geng mobil lain masuk ke wilayahnya dengan cara tidak sopan dan mengundang kecurigaan, maka serta merta mereka akan dikejar dan diusir sedemikian rupa. Selain geng mobil ada juga geng sepeda motor.

Salah satu geng sepeda motor yang terkenal adalah Pacinko singkatan dari Pasukan Cina Kota, yang mirip dengan nama dari suatu permainan judi yang sedang ngtrend pada waktu itu di daerah kota. Kelompok geng ini adalah anak-anak Cina yang tinggal di sekitar wilayah Glodok-Kota, Mangga Besar, dan sekitarnya. Mereka sering menggunakan jalan lurus Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk mempertontonkan kehebatannya. Biasanya mereka akan keluar pada malam minggu.

Geng motor ini konon mempunyai anggota puluhan. Jika mereka melintas, banyak orang atau pengemudi lain yang harus menyingkir sebab mereka akan meliuk-liuk di depan dan di samping kita sambil mempertontonkan kelihaiannya mengendari sepeda motor. Konon beberapa pembalap motor yang pernah juara di sirkuit Ancol berasal dari anak geng Pacinko ini.

Orang tua saya dulu tidak berani membelikan saya motor. Tetapi saya sering ikut nyemplak boncengan naik motor teman. Sewaktu SMP dan SMA saya juga pernah ikut kebut-kebutan boncengan motor di jalan, untungnya tidak pernah celaka. Begitu juga sewaktu ikut er-eran bersama mobil teman saya. Pada waktu itu saya tidak merasa takut, malah merasa gembira dan senang dapat melewati berbagai rintangan berupa mobil atau motor lain di jalan yang kami lewati dengan cara ngebut.

Sewaktu di SMA saya sering dibonceng motor oleh teman-teman. Mereka secara bergantian menjemput dan mengantar saya pulang. Saya tinggal memilih naik motor yang mana yang saya suka. Mereka termasuk pembalap amatiran yang mampu meliuk-liuk di jalan sepanjang Jalan Mangga Besar dan Hayam Wuruk sampai Harmoni.

Memang ada rasa senang, walaupun hanya sebatas dibonceng. Knalpot motor yang digunakan biasanya dibuat memekakan telinga. Ada juga teman saya yang orang tuanya punya bengkel motor, yang saudaranya punya keahlian mengulik-ngulik motor untuk anak geng Pacinko itu. Saya bersama teman sering juga mampir ke bengkelnya untuk diservis dan dikulik supaya motornya mampu ngebut.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Jakarta Punya Cara, hlm. 69-72.

Sewaktu SMP, norak rasanya kalau belum menyaksikan balap motor atau mobil di Ancol. Saya bersama beberapa teman beberapa kali nonton balap motor dan mobil di Ancol. Tempat balapnya sangat panas. Pulang dari nonton balap, kulit menjadi tambah coklat. Ada juga beberapa pembalap motor dan mobil yang kemudian kami kenal lewat pemberitaan di media cetak.

Di SMA ada salah seorang teman yang sudah ikut balapan di Ancol dalam klas motor cc sedang. Saya bersama beberapa teman ikut menyaksikan dia balapan. Dulu, seingat saya, tempat balap Ancol juga boleh digunakan untuk ajang latihan. Saya bersama dengan teman SMA pernah juga sekali dua kali menyaksikan teman kami yang sedang latihan balap mobil di sana untuk persiapan balap.

Tetapi sayangnya, walau sudah berusaha, teman saya itu tidak mendapatkan nomor dalam balapannya. Selain dipergunakan untuk balap mobil dan motor, arena balap Ancol juga digunakan untuk balapan go-cart dan kemudian juga digunakan untuk balapan motor bebek.

Dalam kaitannya dengan balapan dan kebut-kebutan ini, pernah rombongan stunt man mobil dari AS yang terkenal dengan nama Hell Driver sekitar tahun 1970-an melakukan atraksinya di dalam Stadion Utama Senayan. Mereka melakukan berbagai atraksi berani dengan mobil dan motor, seperti meloncati gulungan api, meloncati beberapa mobil, berlari dengan kecepatan tinggi dengan dua roda, dan atraksi menarik lainnya. Saya sempat menyaksikan atraksi mereka yang berani itu. Saya masih teringat atraksi mereka sampai sekarang.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Jakarta Punya Cara, hlm. 69-72. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505