Gubernur Monyet

0
1904
Bang Ali memberi arahan kepada Satuan Polisi Pamongpraja pada 1973

Gubernur Ali Sadikin punya rupa-rupa gelar. Selain “Bang Ali” sebuatan yang juga sohor adalah “Gubernur Monyet”. Tetapi semua gelar itu dasar pemberiannya sama, timbul dari penghormatan dan upaya masyarakat mengenangkan atas caranya bekerja.

Gelar “Bang Ali” berawal di tahun-tahun permulaan kepemimpinannya di Jakarta. Dalam suatu acara budaya Betawi pada 1968 gelar itu secara seremonial diberikan oleh pimpinan masyarakat Betawi yang tergabung di Yayasan Muhammad Husni Thamrin. Sedangkan gelar “Gubernur Monyet” sebenarnya bukan resmi sifatnya. Jika merujuk istilah orang Betawi itu adalah poyokan atau sebutan kepada seseorang karena kekhasan atau style pada dirinya. Lagi pula gelar ini pun hanya hidup dalam 0ral history masyarakat Jakarta yang pernah ngalamin atau hidup di zaman Bang Ali.

Karena Bang Ali terbilang necis dan ganteng jadi awas jangan bilang bahwa gelar “Gubernur Monyet” itu berasal dari—maaf—penampilan dirinya. Tetapi lebih dikarenakan betapa tinggi intensitas kata makian monyet dipergunakannya. Bang Ali di dalam biografinya Bang Ali Demi Jakarta 1966–1977 mengaku bahwa “dengan staf saya mesti menghardik, mesti membentak, mesti mengumadangkan suara keras, mesti mencambuk mereka untuk bekerja lebih teliti, sekasama, telaten, tak bisa santai-santai saja”.

Bang Ali mengungkapkan ketika mulai bekerja sebagai gubernur salahsatu hal penting yang harus segera diperbaiki adalah birokrasi Pemkot Jakarta. Birokrasi ini merupakan kombinasi dari kemampuan yang rendah dengan rasa tidak punya kebanggaan sebagai abdi masyarakat, dan kesukaan menjilat ketimbang bekerja. Meskipun begitu Bang Ali tidak melihatnya sebagai sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Jalan spartan yang keras disertai penghargaan atas prestasi adalah jawabannya.

Baca Juga:

  1. Bandit-Bandit Kaya Raya di Batavia
  2. Ghozali si Ahli Uang Kuno Museum Nasional
  3. Sitor Situmorang di Pasar Senen

Seperti diakui Bang Ali gaya spartan mendidik stafnya itu menyebar bersamaan dengan konsepnya melakukan dekonsentrasi teritorial dan fungsional dengan membentuk yang tadinya tiga menjadi lima wilayah administratif kota, serta penambahan kecamatan juga kelurahan.

Bang Ali secara berkala turun dan berkantor di kelurahan-kelurahan. Atau berkeliling dan menemukan ketakwajaran dari mulai mobil orang gedongan yang membuang sampah sembarangan sampai urusan pelanggaran peruntukan tata ruang. Saat itulah sering kedapatan Bang Ali meledak manakala menemukan ada stafnya yang tidak becus bekerja. Tidak sedikit orang yang kena atau hanya sekadar menjadi saksi bagaimana gaya Bang Ali membentak sambil melemparkan kata-kata “sontoloyo”, “goblog” dan yang paling sering “monyet”. Bahkan kata-kata itu meluas dan digunakan Bang Ali di tengah-tengah masyarakat.

Ajip Rosidi pernah mengisahkan bahwa suatu saat sebuah jembatan di Jakarta Utara yang baru dibangun  hanya dalam beberapa bulan roboh. Bang Ali bikin temu media. “Saya yang salah,” katanya. Ia sendirian tidak ada satu pun staf di kiri kanannya juga belakang. Tampaknya, ia meyakini latar militernya bahwa tidak ada serdadu yang salah, tetapi jenderal yang salah.

Temu media selesai lantas ia masuk ke satu ruangan di mana semua aparatus birokrasi dan kontraktornya yang terkait dengan proyek jembatan itu menunggu. Semua berdiri lantas—maaf—ditempeleng sambil disumpah serapahi; “monyet”.

Adalah menarik bahwa dalam kekerasan sikapnya Bang Ali tidak sungkan-sungkan meminta maaf dan mengoreksi diri bila alasan kemarahannya ternyata keliru. Soal ini pernah dikisahkan Arief Budiman ketika ia sebagai mahasiswa memprotes tindakan penangkapan terhadap pemuda-pemuda berambut gondrong dan kemudian pengguntingan rambut mereka oleh polisi dan militer atas perintah Bang Ali.

Arief dipanggil Bang Ali dan dimarahi di depan staf-stafnya karena dianggap menganggu upaya menertibkan Jakarta. Tetapi setelah Arief menjelaskan dan dianggap masuk akal, seketika Bang Ali meminta maaf. Bukan saja dengan mahasiswa Bang Ali sedia minta maaf, bahkan pada seorang tukang batu pun dia bersedia selama dia keliru.

Seperti diungkapkan Bang Ali kata-kata makian itu sungguh bukan dimaksudkannya untuk menghina, atau membuat takut, melainkan lebih kepada agar “bisa menunjukkan apa yang salah dan mengerti kewajibannya”. Ketika memaki itu pula, seperti kata Arief Budiman, “Bang Ali menuntut dirinya bersedia mendengarkan orang lain, berani untuk mengubah sikap kalau dia merasa telah berbuat salah”.

Mengenang “Gubernur Monyet” adalah memahami bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik justru bukan karena pengetahuannya dan keahliannya lebih banyak daripada orang lain, atau punya pengalaman yang lama dalam kepemimpinan.

Keberhasilan menemukan pemimpin yang baik adalah satu jalan yang rumit, tetapi salahsatunya yang paling sederhana dari sejarah pemerintahan Bang Ali ihwal sifat pemimpin yang bersedia mendengarkan, mau repot dengan aneka pemikiran dan tak menghindar dari mengambil yang terbaik, meski tidak popular di masyarakat maupun elite pendukung. Lantas menjalankannya dengan tegas.

Tentu saja berani untuk mengubah sikap kalau merasa telah berbuat salah sebab hanya dengan begitu pembangunan Jakarta yang lebih kompleks juga cepat berubah akan berjalan manusiawi. Tak soal saben kala terlontar kata makian monyet sebab itulah tanda ada yang sedang menganggu dan membahayakan proses pembangunan kota Jakarta.

Entah makian monyet itu ditujukan kepada birokrasinya yang tak kerja keras dan kerja cerdas melayani, atau kepada pengusaha properti yang dengan besaran pemasukan dari mereka merasa bisa mengatur peraturan seenaknya. Sebab dua inilah yang menurut Susan Blackburn dalam bukunya yang terkenal—Sejarah 400 Tahun Jakarta—menjadi tantangan kemajuan ibukota memenuhi takdirnya sebagai kota yang manusiawi, adil dan beradab sebagaimana kodratnya sebagai kota proklamasi


Lebih jauh silahkan membaca buku Susan Blackburn, Sejarah 400 Tahun Jakarta. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Buku Jakarta Sejarah 400 Tahun