Betawi Dulu Kemudian Bandung Ibu Kota Jawa Barat

0
666
Sejak 1924, Wiranatakusumah V yang sudah begitu giat meyakinkan seluruh anggota Volksraad, agar Bandung jadi ibu kota Jawa bagian barat ternyata gagal.

Tahun 1925, menjadi saat-saat kurang beruntung bagi Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Sejak 1924, Wiranatakusumah yang sudah begitu giat meyakinkan seluruh anggota Volksraad, agar Bandung jadi ibu kota Jawa bagian barat ternyata gagal.

Padahal persoalan itu setiap tahunnya terus digodok, Wiranatakusumah bersikuku memenangkan hati para anggota dewan supaya keinginan menjadikan Bandung sebagai ibu kota bisa tercapai atas kesepakatan yang disetujui oleh seluruh dewan. Gagal meskipun ia telah menjadi wakil Volksraad tahun 1923, ia berpidato dengan panjang lebar disertai usulan-usulan.

Isu Bandung menjadi ibu kota Jawa Barat memang bukan main-main. Sebagian dewan rakyat dari kalangan Belanda turut pula berdebat. Saling silang pendapat terjadi dengan cukup alot. Pada sidang volksraad 18 Juli 1925, Kerkamp dan Helsdingen ikut meramaikan penentuan ibu kota itu. Keduanya mempunyai argumen yang saling bertolak dalam menyikapi persoalan tersebut. Surat kabar Darmokondo edisi Sabtu 15 Agustus 1925 mengabarkan, jika Kerkamp menolak dengan gaya mencela terkait isu ibu kota Jawa Barat yang akan berada di Bandung itu. Sedangkan Helsdingen menerima usulan itu dengan pikiran senang dan terbuka.

Baca Juga:

  1. Sekar Rukun Perkumpulan Pemuda Sunda di Batavia
  2. Gerakan Sawito Minta Mundur Presiden
  3. Jualan Politik Atas Nama Angkatan 66

Dikutip dari Obor edisi Juli 1924, beberapa saat sebelum isu ibu kota ini mencuat, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan bahwa akan terjadi perubahan dalam struktur kewilayahan. Untuk Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 keriesidenan dengan dikepalai oleh Residen. Namun, Pemerintah telah membagi Pulau Jawa (Madura) ke dalam tiga wilayah provinsi, yaitu, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lalu untuk wilayah Jawa Barat terdapat empat keresidenan: Banten, Betawi Priangan dan Cirebon dengan dipimpin oleh satu orang Gubernur provinsi. Adapun dari keempat residen itu terdapat beberapa Kabupaten yang akan ditetapkan, seperti Serang, Pandeglang, Lebak, Betawi (Batavia), Mr. Cornelis, Bogor, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka.

Ketika perbedaan pendapat terjadi di kalangan dewan, Wiranatakusumah V nampaknya tak bisa berkutik karena kekurangan suara untuk mendukung usulan yang sama. Bahkan, jumlah anggota yang tergabung dalam Volksraad itu, mayoritas orang-orang Belanda yang menginginkan pula ibu kota Pasundan berada di Batavia. Akhirnya keputusan dewan menetapkan, bila ibu kota Jawa bagian barat  berada di kawasan Betawi. Maka, pada bulan Agustus 1925, wilayah Bandung yang diupayakan oleh Wiranatakusumah sebagai bupati Bandung batal menjadi ibu kota. Pengumuman itu dikabarkan juga oleh surat kabar Darmokondo 25 Agustus 1925.

“Sebagaimana telah dikabarkan, regen Bandoeng poenja porstel jang menghendaki soepaja Bandoeng mendjadi tempat kedoedoekannja goebernoer provinsi ‘Pasoendan’ dalam volksraad telah diterima baik, hingga waktoe boepati Bandoeng poelang kembali dari Betawi ke Bandoeng, disana ia soedah disamboet dengan kehormatan jang gembira. Sekarang goepernoer-djenderal dengan dimoepakati oleh Raad van Indie (Dewan Hindia) soedah tetapkan soeatoe oendang, bahwa dalam raad provinsi itoe bakal doedoek anggota dari bangsa Bp. Dan dari bangsa Belanda sama djoemlahnja, jaitoe masing-masing 20 orang dan Betawi dioendjoek sebagai iboe kota dari provinsi Djawa Barat alias ‘Pasoendan’ itoe”.

Pasca berita yang tersiar mengenai batalnya Bandung menjadi ibu kota Pasundan, beragam respon muncul dengan ditujukan kepada Wiranatakoesoemah. Kendati sang bupati disambut hangat dan meriah oleh masyarakat setelah kedatangannya dari Betawi, tapi kekalahan telak yang ia dapatkan di Volksraad dimanfaatkan oleh kalangan kelompok merah untuk menyindirnya.

Pada surat kabar Soerapati 8 Agustus 1925, salah satu tulisan muncul menggunakan judul yang begitu mengejek. Kaum Komunis merayakan kekalahan Muharam Wiaranatakusumah di Betawi dengan ejekan kepada sang bupati: “Gouverneur Tjitjing di Bandoeng? Moeharam Wiranatakoesoemah Njieun Reclame? Api-api Rajat Milu Soeka? Antjoen…Ngegel Tjoeroek! Teu Pajoe…Alias Keok! (Gubernur bertempat di Bandung? Moeharam Wiranatakoesoemah Bikin Reklame? Pura-pura Rakyat Ikut Senang? Malu…sambil gigit telunjuk! Gak Laku…Alias Kalah!

Tentu saja, sindiran tersebut diketahui sang bupati. Tapi sayangnya, surat kabar Obor sudah tidak lagi beroperasi sampai akhir 1924. Biasanya, para pengikut Wiranatakusumah kembali melancarkan serangan melalui Obor. Namun, di luar urusan polemik ini, bagaimana pun terdapat persoalan yang tak mungkin ditutupi.

Muharam  Wiaranatakusumah telah gagal sebagai anggota Volksraad. Sebab ada dua usulan yang ia usulkan kemudian ternyata juga tidak dikabulkan oleh forum dewan rakyat. Ini semakin bikin limbung lantaran sebelumnya ia sudah menerima pukulan telak, yaitu alih-alih Bandung menjadi ibu kota Jawa Barat yang diidam-idamkan, malah Betawi yang jadi ibukotanya. Malu betul alias isin pisan.


Lebih jauh baca:

Jakarta Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

LEAVE A REPLY