Kisah Pangeran Afrika di Bogor

0
2375
Para pangeran Ashanti, Kwasi Boakye dan Kwame Poku, Mengikuti misi Verveer ke Belanda. Nantinya Boakye pergi ke Hindia Belanda sebagai insinyur pertambangan lalu membangun sebuah keluarga.

Siapa sangka di Suka Sari, sekitar tiga setengah kilometer arah tenggara stasiun kereta api Bogor, pernah berkuasa sebagai tuan perkebunan seorang kulit hitam bernama Kwasi Boachi, pangeran dari Kerajaan Ashanti, Pantai Emas, Afrika. Tetapi begitulah kenyataannya sebagaimana diriwayatkan oleh Arthur Japin dalam De zwarte met het witte hart, sebuah roman sejarah yang oleh penulisnya sendiri dikatakan sebagai roman yang tokohnya benar-benar pernah ada.

Kwasi tinggal di Suka Sari sejak tahun 1888 sampai ia meninggal dunia di Rumah Sakit Bogor pada tahun 1904. Di atas tanah seluas 63,19 ha yang berpenduduk 804 jiwa dan disewanya dari Ny. MC. Van Zadelhof itu, ia hidup bersama tiga orang nyai yang memberikannya tiga orang anak.

Japin memang menjadikan Bogor sebagai latar utama ceritanya, namun panggung peristiwa-peristiwa jauh lebih luas, silih berganti dan bergeser antara kota-kota di Hindia Belanda, terutama Jawa dengan daerah-daerah di Eropa seperti Weimar, Delft dan kampung halamannya di Afrika Barat. Melingkupi masa lebih 70 tahun pada paro pertama abad 19 sampai awal abad 20.

Dalam lingkup geografis antara tanah jajahan dengan negeri penjajah dan waktu yang disebut oleh WF Wertheim dalam Indonesian Society in Transition (1956) sebagai masa di mana di sebagian besar dunia garis warna menjadi dasar struktur sosial kolonial itulah Japin mementaskan pengalaman Kwasi, yang hidup dalam lingkaran diskriminasi rasial, yang mencari jalan keluar dari posisinya yang dimarjinalkan dan sedikit perlindungan atau keselamatan di Hindia Belanda yang juga masyarakatnya tergolong dalam garis warna.

Baca Juga:

  1. Ancol Dahulu Medan Perang
  2. Akhir Pergundikan di Hindia Belanda
  3. Onghokham Sejarawan Hedonis Jakarta

Meskipun atas berkah darah biru keluarganya Kwasi telah diangkat sebagai anak politik Kerajaan Belanda pada zaman Willem I, dan pada tahun 1837 dikirim untuk bersekolah di Delft sampai mendapat gelar insinyur, serta melepaskan kebudayaannya untuk hidup sebagai orang Belanda dan menganggapnya sebagai tanah kelahiran, tetapi ia tetap tidak mendapatkan perlakuan yang sederajat dan adil. Ia tetap tidak bisa melewati garis warna yang sudah ditetapkan bagi seorang kulit hitam.

Kwasi memutuskan pergi ke Hindia Belanda setelah saudaranya yaitu Kwame bunuh diri dengan menembakkan pistol ke mulutnya. Meskipun Kwame memilih hidup dengan tetap memegang teguh identitasnya sebagai seorang kulit hitam, tetapi Kwasi yang secara identitas telah merasa sebagai seorang kulit putih merasa sangat terpukul. Ia menyatakan keinginannya ke Hindia Belanda kepada Staatraad yang menanggapi dengan tidak simpatik dan malah ingin mengirimkannya kembali ke Pantai Emas. Adalah Ministerie van Kolonien (Kementerian Urusan Daerah Jajahan) yang kemudian memintanya untuk menjadi buitengewoon staats-beambte (pegawai negara luar biasa) di Hindia Belanda dengan iming-iming gaji f 70 perbulan. Ia menerima dan berangkat ke Hindia Belanda pada tahun 1850.

Celakanya adalah selama di Hindia Belanda, ia malah menemui masalah yang lebih berat lagi dan menambah kesedihannya. Ia tiba pada tahun di mana stratifikasi sosial beradasarkan ras di Jawa telah menunjukkan bentuknya yang baku, yang terefleksikan dalam undang-undang. Sebab itu ia harus menghadapi kepongahan laku diskriminatif bukan saja dari orang-orang Belanda, tetapi juga penduduk pribuminya.

Dalam konteks ini Japin bukan saja telah berhasil memperlihatkan meluas dan menguatnya diskriminasi atas dasar ras persis kasta yang dibangun orang Eropa di Hindia Belanda pada abad 19, tetapi juga pengaruh yang kuat dari nilai-nilainya di dalam pikiran masyarakat pribumi sehingga seluruh kehidupan sosial mereka diilhami oleh kesadaran warna, semakin gelap warna kulit semakin rendah posisi sosial mereka.

Belum genap Kwasi menginjakkan kakinya di Hindia Belanda—ketika pada 7 September 1850 kapal yang ditumpanginya memasuki perairan Selat Sunda dan karena tidak ada angin terpaksa buang sauh—ia sudah merasakan perlakuan diskriminatif. Sejumlah pedagang pribumi yang naik ke kapal sama sekali tidak menawari dagangan mereka sebagaimana yang dilakukan kepada orang-orang Belanda di kapal itu, kecuali ketika dia berkeras dan memperlihatkan kepingan-kepingan uangnya untuk memborong.

Bahkan setelah mendarat Kwasi merasa bahwa kehadirannya tidak dikehendaki oleh pemerintah Hindia Belanda. Selama enam tahun di sana ia diabaikan dan hidup tanpa kepastian. Ketika ia menanyakan apakah persoalan itu terkait dengan statusnya sabagai pejabat negara buitengewoon (luar biasa). Jawabannya adalah “mengingat Anda anak politik Negara Belanda dan memiliki hubungan khusus serta dianggap istimewa sehingga pemerintah ingin mencarikan tempat yang lebih menguntungkan dan suasana kerja yang lebih enak, bahkan tunjangan yang berlebih”.

Kwasi kemudian meminta cuti kepada Ministerie van Kolonien untuk pergi ke Delft dan Weimar. Tahun 1858, dia kembali lagi ke Jawa dan mendapati permintaannya untuk mendapatkan tanah pada Gubernur Jenderal C.F. Pahud dan Dewan Hindia tertahan. Sebab itu ia harus bisa hidup dengan tunjangan f 400 setiap bulan. Padahal saat itu diperlukan f 900 untuk hidup yang paling sederhana sebagai pejabat Belanda.

Pada tahun 1863, ia ditugaskan sebagai tuan perkebunan kopi yang menguasai tanah seluas 700 ha di Jawa bagian tenggara. Di perkebunan yang disebutnya Suka Raja inilah ia mengalami perlakuan rasis dari para pekerja pribumi perkebunannya. Pengalaman-pengalaman yang dapat menjadi cermin betapa jauh para penguasa kolonial telah berhasil memaksakan kaum pribumi sendiri untuk menerima sistem nilai yang didasarkan atas ras dan menanamkan semua stereotif yang berhubungan dengan itu.

Penduduk di perkebunan tidak mau berjongkok setiap kali melihat ia mendekati mereka sebagaimana biasanya dilakukan kepada setiap orang Belanda. Meskipun akhirnya mereka menerima dengan ramah, tetapi tetap saja anak-anak lari ketakutan dan para orang tua menjaga jarak. Mereka juga diperhatikan Kwasi bekerja sangat lamban, berlainan dengan pekerja perkebunan yang dilihatnya di Dungus yang bekerja cepat.  Tetapi ketika ia menanyakan sebabnya kepada Budi, seorang pengawas perkebunannya, mengapa mereka tidak bekerja seperti pekerja di Dungus, jawabannya adalah karena di Dungus tuan kebunnya seorang Belanda. Kwasi menyatakan bahwa dia juga seorang Belanda. Namun sambil nyengir Budi menjawabnya tidak. Mereka, menurut Budi, sudah terbiasa bekerja untuk tuan putih Belanda, tapi tidak di Suka Raja. Sebab itu mereka dijadikan bahan ejekan. Istri-istri mereka tidak memiliki rasa hormat lagi karena orang-orang menertawai. Tiada lagi kebanggaan seorang lelaki yang tinggal hanya rasa malu karena telah patuh pada seorang tuan yang hitam.

Memakai teknik siklis, Japin mengakhiri De zwarte met het witte hart dengan suasana yang sama ketika ia memulai ceritanya yaitu saat-saat akan diadakan perayaan 50 tahun Kwasi di Hindia Belanda yang jatuh pada tahun 1900. Banyak keberhasilan secara ekonomi dicapai dan banyak hadiah disiapkan, tapi yang dirasanya paling berharga adalah penemuan Van Drunen—anggota zending yang pernah bertugas di Afrika Barat dan dikenalnya—berupa surat verbal Gubernur Jenderal Pahud 24 Juli 1850 yang menyatakan bahwa Kwasi memiliki “suatu kemuliaan orang kulit putih sebagaimana orang kulit putih lainnya, ia superior moril dan intelektuil daripada orang kulit sawo matang…” Ia menganggap itu sebagai Nobllese de peau (kemuliaan kulit) yang mengukuhkannya sebagai “Belanda itam”.

Meskipun berkat surat itu Kwasi menemukan bukti kongkrit atas persangkaan yang telah lama dirasanya bahwa ada semacam komplotan di dalam pemerintah kolonial Belanda yang berusaha menghalangi karirnya di Hindia Belanda, tetapi sepanjang cerita ia tidak menampakkan diri sebagai tokoh heroik. Kwasi tidak melawan sebagaimana dilakukan pendahulunya pada tahun 1840 di Pantai Barat Sumatra karena hak-haknya dimanipulasi perwira-perwira Belanda yang mengingkari janji-janji yang diberikan pada waktu orang-orang dari Pantai Emas direkrut masuk KNIL (Koninklijke Nederlands Indisch Leger). Kwasi menghadapinya dengan cara khas seorang staats-beambte (baca: pejabat Belanda) yang apolitis.

Oleh penulis, Kwasi dalam perjalanannya ke Ambon tahun 1852 memang sempat dipertemukan dan disebut menaruh kagum dengan Douwes Dekker yang saat itu tengah menjadi asisten residen Ambon dan punya ide serta sedang berjuang melawan sistem kolonial di Hindia Belanda yang jauh dari keadilan dan kemanusiaan. Tetapi jangankan ikut bersama Dekker berjuang melawan kejahatan sistem kolonial itu, bahkan ia pun ragu untuk sekadar membagi pengalamannya yang pahit didiskriminasi oleh pemerintah Hindia Belanda.

Japin agaknya menolak ide yang cukup laris, juga di Indonesia, tentang bagaimana seharusnya ciri khas sebuah roman yaitu ada pahlawan dan penjahatnya yang jelas. Pembaca dapat menemukan penjahatnya yaitu pemerintah kolonial, tetapi tidak akan menemukan Kwasi yang tampil seperti Mingke dalam Bumi Manusia (1980) karya Pramudya A Toer yang memperlihatkan diri sebagai manusia ideal dan tokoh heroik yang melawan sistem yang pada hakikatnya salah dan terkutuk yang meski kalah tetapi “telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

Isi artikel di Kutip dari Buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 karya Ineke van Kessel

Cerita perbuatan kepahlawanan memang selalu memikat. Begitu juga cerita tentang seorang korban tak kurang daya tariknya. Tetapi Kwasi bukanlah pahlawan, pun bukan sepenuhnya seorang korban. Cuma seorang yang terisolasi dari lingkup sosial yang semestinya pada suatu masa di mana nilai kemanusiaan yang paling elementer ditentukan oleh warna kulit dan status. Dari sanalah Japin melakukan evokasi hidup batin Kwasi. Merangkaikan perkisahan yang memukau tentang seorang kulit hitam (De zwarte) dengan hati seorang kulit putih (witte hart). Tanpa gerak emansipasi politik yang luas. Hanya perjuangan seorang staats-beambte berkulit hitam yang telah dihina untuk mendapat pengakuan posisi sosial sesuai identitas dan statusnya sebagai seorang “Belanda itam” lengkap dengan penghormatan serta prestise sosialnya dalam sistem kolonial yang rasis. Suatu perjuangan yang lumrah dilakukan oleh para “kulit berwarna” dan telah menjadi ciri umum zaman itu.

Tetapi justru karena itulah De zwarte met het witte hart sebagai roman sejarah—bukan karya ilmiah yang didedikasikan demi pencarian kebenaran sejara —patut dikagumi karena berhasil menunjukkan keunggulan jenis sastra ini yang secara istimewa mampu memperlihatkan sifat sejati kenyataan sejarah serta perasaan-perasaan yang nampak dari Hindia Belanda, bahkan di sebagian besar dunia kolonial, paruh kedua abad 19 sampai awal abad 20 yang menggerakkan seluruh sendi kehidupannya berdasarkan perbedaan-perbedaan kelas dan kualitas rasial yang luar biasa serta nafsu sosial yang sangat besar untuk mendapatkan identitas sebagai orang kulit putih.


Lebih jauh tentang sejarah orang Afrika di Hindia Belanda dapat dibaca di buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 karya Ineke van Kessel. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505