Ismail Marzuki: Musik, Revolusi dan Karakter Bangsa

0
76
Ismail Marzuki, Seniman Betawi yang Terpatri di Cikini

Ada yang bilang pada 1950-an, Sukarno pernah mengusulkan untuk mengganti lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Sejarawan Hans van Miert mengungkapkan bahwa sejak pertama kali mendengar pada 1928, Sukarno merasa memang lagu Indonesia Raya kurang pas, terlalu bernada Barat. Meskipun pada 1930 akhirnya Sukarno mengalah dan menerima ketika partainya sendiri, Partai Nasional Indonesia (PNI), menerima lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, tetapi dia rupanya belum benar-benar ikhlas.

Usul mengangkat lagu Indonesia Pusaka sebagai lagu kebangsaan tidak kesampaian. Tetapi, pada 1960 bertepatan peringatan hari kemerdekaan, Sukarno memberikan piagam penghargaan kepada Ismail Marzuki. Saat itu Sukarno menyatakan seniman adalah bagian yang tidak terpisahkan sejak awal pergerakan nasional dan peran mereka semakin kentara pada masa revolusi. Ismail Marzuki adalah salahsatunya.

Biografi Ismail Marzuki memang mencerminkan pernyataan Sukarno itu. Ia lahir pada 11 Mei 1914 dari keluarga Betawi di Kwitang. Pada 1931, saat usianya baru 17 tahun, ia bukan saja telah memperlihatkan bakat musik, tetapi juga ideologi kerakyatannya melalui lagu Oh Sarinah. Meskipun berbahasa Belanda Oh Sarinah jelas mencerminkan ide zamannya yang dipenuhi semangat pembelaan terhadap rakyat kecil tertindas yang diperlambangkan oleh Mas Marco Kartodikromo sebagai Kromo, oleh Sukarno sebagai Marhaen dan oleh Tan Malaka sebagai Murba. Adalah menarik Ismail Marzuki memilih perlambang rakyat kecil perempuan daripada dominasi rakyat kecil laki-laki sebagaimana diperlihatkan Mas Marco, Sukarno dan Tan Malaka.

Baca Juga:

  1. Budaya Event Bukan Konser Musik
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Ismail Marzuki dan Intel Cantik Belanda

Musik dan semangat kebangsaan adalah hal yang tidak terpisahkan dalam biografi Ismail Marzuki. Bahkan akar-akar semangat kebangsaan itu dapat ditelusuri lebih jauh lagi sebelum ia menciptakan lagu Oh Sarinah. Ketika masih sebagai pelajar tingkat dasar Christelijk HIS (Holland Inlandsche School), Ismail Marzuki telah mengaitkan dirinya dengan Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI) di Gang Kenari yang berporos kepada tokoh nasional M.H. Thamrin.

Tidak aneh jika kemudian Ismail Marzuki selain memasuki perkumpulan musik kroncong Lief Java yang tersohor dan membentuk kelompok musik jazz The Sweet Java Islander, juga memasuki Perkumpulan Kaum Betawi yang melibatkan diri dalam peristiwa Kerapatan Pemuda 1928 yang kemudian sohor sebagai Sumpah Pemuda. Pada zaman Jepang, ketika seniman banyak diberi tempat oleh kekuasan, Ismail Marzuki diangkat sebagai pemimpin Orkes Indonesia Hosokyoku Djakarta yang digunakannya sebagai kesempatan untuk menciptakan lagu-lagu cinta tanah air, salahsatunya Rayuan Pulau Kelapa.

Pengalaman dalam organisasi-organisasi perjuangan serta kelompok musik dengan berbagai alirannya itu membuka jalan Ismail Marzuki sebagai pemusik pejuang semakin matang. Kematangan jiwa kebangsaan inilah yang kemudian membawa Ismail Marzuki mampu melihat revolusi 1945 sebagai medan inspirasi dan puncak kreasinya untuk bangsa. Keterlibatannya dalam kerja-kerja di kantor radio Belanda NIROM juga Djakarta Hooso Kyoku milik tentara Jepang yang dijalaninya berbarengan dengan bekerja di radio VORO milik kaum pergerakan membuatnya mampu melihat kekuatan media baru sebagai alat perjuangan.

Ketika proklamasi segera disusul oleh revolusi, ia adalah orang yang segera menggabungkan diri dengan Radio Republik Indonesia (RRI) yang dibangun pada 11 September 1945 dari hasil perampasan peralatan radio Jepang dan mengemban tugas sebagai radio perjuangan. Sampai disini panggilan revolusi Ismail Marzuki menguat. Ia berada di “front terdepan” terkait musik dan revolusi, seperti Chairil Anwar dalam puisi dan Sudjojono dalam seni lukis.

Di RRI itulah pertama kali teks proklamasi disiarkan oleh Jusuf Ronodipuro, sosok yang juga mendorong Ismail Marzuki tampil menyiarkan lagu-lagu perjuangan karyanya. Bersama grup musik Empat Sekawan yang dibentuknya, Ismail Marzuki mengisi acara musik untuk programa Hiburan Pahlawan, Hiburan Untuk Tentara Angkatan Laut dan Udara RI, dll. Selain mengisi programa udara, Ismail Marzuki juga membawa grup musiknya turun ke front-front yang bukan sekadar untuk menghibur para pejuang, tetapi mencari ilham dari revolusi.

Ikatan jiwanya begitu kuat dengan kaum Republik dan inilah yang membuat Ismail Marzuki menolak tawaran gaji besar dan fasilitas Belanda ketika RRI diambil alih mereka pada November 1946. Ia lebih memilih membantu isterinya, Eulis Zuraidah, berjualan gado-gado, laksa, asinan dan mi goreng sambil serabutan mengajar bahasa Belanda dan Inggris.

Pada masa revolusi keadaan Jakarta tidak selamanya damai karena rakyat bergerilya menolak kembalinya Belanda. Ismail Marzuki mengungsikan isterinya ke Bandung dan di kota kembang ini pun ia temui situasi yang sama. Namun, situasi pergolakan revolusi itulah yang justru diterjemahkan Ismail Marzuki ke dalam lagu-lagu. Demikianlah lahir darinya lagu-lagu perjuangan yang menurut ahli musik J.A. Dungga dan L. Manik dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu lagu cinta tanah air berupa mars, lagu cinta tanah air berupa lagu tenang, lagu percintaan (minneliederen), dan lagu sindiran (spotliederen).

Ada lebih 200 lagu diciptakan Ismail Marzuki sampai ia meninggal di kediamannya di Kampung Bali, Tanah Abang, dalam usia 44 tahun pada 25 Mei 1958. Beberapa dapat disebutkan sebagai contoh lagu mars, seperti Halo-halo Bandung, Gagah Perwira dan Selamat Datang Pahlawan Muda. Kemudian lagu sindiran, Seruan Seruni dan Djakarta Menanti. Lagu cinta tanah air berupa lagu tenang, Gugur Bunga, Saputangan dari Bandung Selatan, Karangan Bunga dari Selatan, Terkenang Tanah Air, Sumbangsihku, Rangkaian Melati dan Oh Angin Sampaikanlah. Lagu percintaan terlihat pada Sepasang Mata Bola, Sersan Mayorku, O Kopral Djono, Halo Bu, Djuwita Malam, Aryati, Melati di Tapal Batas, Selendang Sutra, Sabda Alam.

Revolusi telah menjadi medan kreatif yang membuat Ismail Marzuki mecipta seperti tanggul jebol. Karya-karyanya mengalir deras dan mayoritas memperoleh sukses, bahkan menjadi klasik hingga ke masa depan. Ini mungkin berasal dari lagu-lagunya yang memang tidak berdasar gramatika musik yang kompleks tetapi dalam kepolosannya justru seperti kebanyakan lagu rakyat Indonesia menjadi abadi, meskipun oleh para pengamat pada zamannya dikatakan kurang indah dari segi estetika musik.

Faktor lain kesuksesan Ismail Marzuki adalah kemampuannya membuat syair-syair lagunya menapaki pencapaian sastera serta pergulatan bahasa yang memukau antara bahasa Melayu-Betawi dengan bahasa Indonesia yang masih sangat muda. Tetapi, bagaimanapun jasa besar Ismail Marzuki adalah mendokumentasikan zamannya di dalam lagu-lagu. Sebab itulah lagu-lagu Ismail Marzuki bukan saja menggugah semangat para pejuang pada zamannya, tetapi juga di masa kini dan masa depan setiap diputar tetap menggugah serta dapat menghadirkan kembali lukisan sosial budaya revolusi, kenangan perjuangan dan semangat 45 mengingat lagu-lagunya memang betul-betul lahir dari pergulatan juga pengalaman di tengah revolusi itu sendiri.

Pada 1950, dalam sebuah wawancara dengan Pedoman Radio, sang jurnalis bertanya, “siapakah Ismail Marzuki, apakah ia tonggak musik Indonesia?” Ismail Marzuki menjawab: “Saya bukan avonturier musik, untuk menentukan arah musik Indonesia ke arah yang lebih tinggi yang disebut kemajuan bukan hak saya, saya typisch Indonesia.”

Ismail Marzuki bermain dan menciptakan musik memang bukan sekadar memuaskan bakat alamnya yang memukau, tetapi sebagaimana Sukarno, Hatta dan generasinya menggunakan bakat politik. Mereka semua tengah membayangkan diri sebagai “orang Indonesia” dan bahwa menjadi “orang Indonesia” bukan sesuatu yang alamiah, melainkan sesuatu yang diciptakan sejarah modern yang menuntut tekad, solidaritas, kerelaan berkorban serta harapan.

Khususnya harapan pergerakan kebangsaan Indonesia yang membayangkan manusia Indonesia yang berdiri tegak, tidak bongkok dan tidak menginjak, terbuka dinamis, inklusif, bernyali, dan berperikemanusiaan. Cobalah percaya bahwa makna keindonesiaan, kemerdekaan, dan cita-cita revolusi kerakyatan inilah yang terasakan saat lagu-lagu Ismail Marzuki alias Bang Maing diperdegarkan kembali.

Tulisan ini pernah dimuat di MEDIA INDONESIA, 13 Mei 2014


Lebih jauh baca:

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

LEAVE A REPLY