Bang Ali: Bangun Museum, Legalkan Judi

0
333
Bang Ali Gubernur Jakarta 1966-1977

Pasca tergulingnya rezim Orde Lama dan mulainya resim Orde Baru di tahun 1966, kepemimpinan Daerah Chusus Ibu Kota diserahkan kepada seorang perwira tinggi KKO AL, yaitu Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin.

Sebagai pejabat gubernur baru menggantikan Henk Ngantung yang menjabat tidak beberapa lama, Ali Sadikin yang akrab dipanggil Bang Ali mewarisi banyak permasalahan yang telah dimulai sejak zaman Walikota Soewirjo.

Sejak tahun 1950, setelah pemulihan kedaulatan Republik Indonesia dan Jakarta kembali menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, urbanisasi menaik sehingga Jakarta menjadi tempat penampungan penduduk yang datang dari berbagai daerah.

Urbanisasi merupakan permasalahan lama pemerintah Kota Jakarta yang sulit dicarikan solusinya, permasalahan yang berdampak pada kendala yang mengganggu kelanjutan jalannya pemerintahan seperti permasalahan gelandangan, pendidikan dan lapangan kerja serta pemenuhan kebutuhan akan perumahan penduduk.

Baca Juga:

  1. M.H. Thamrin vs Mohammad Tabrani
  2. Onghokham Sejarawan Hedonis Jakarta
  3. Si Biang Kerok Benyamin S

Permasalahan yang terus meningkat dari tahun ke tahun karena mengikuti arus urbanisasi yang juga meningkat, sementara anggaran pemerintah tidak mencukupi untuk menanggulangi hal ini. Sebuah hal klise karena telah dialami oleh para pejabat-pejabat gubernur sebelumnya yang pada akhirnya menemui kegagalan.

Disamping itu pula Bang Ali dituntut untuk menjadikan Jakarta sebagai Kota Metropolitan, sebuah keinginan dari pemerintah pusat yang mau tidak mau harus direalisasikan mengingat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia harus berkompetisi dengan ibu kota-ibu kota negara tetangga lainnya.

Permasalahan yang kompleks dengan anggaran pemerintah Kota Jakarta yang minim ini disiasati Bang Ali dengan menciptakan kebijakan yang fenomenal pada waktu itu, yaitu dengan melegalkan perjudian.

Pada kwartal pertama pemerintahannya, tepatnya tanggal 3 April 1967 Bang Ali meresmikan permainan LOTTO (Lotere Totalisator) JAYA, dimana hasil keuntungan dari LOTTO JAYA ini digunakan untuk pembangunan gedung-gedung Sekolah Dasar dan sarana umum seperti perbaikan jalan rusak.

Kebijakan fenomenal Bang Ali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama terlihat hasilnya, sebanyak 108 gedung Sekolah Dasar dapat dididirikan, perbaikan jalan ekonomi sepanjang 120km dan jalan lingkungan sepanjang 230 km, kemudian 14 jembatan termasuk saluran pencegah banjir dapat dibangun.

Belum lagi dengan keberhasilan didirikannya tujuh Balai Kesehatan, memperbaiki empat Balai Kesehatan dan dua gedung BKIA, ditambah dengan  pemberian fasilitas-fasilitas kesehatan rakyat.

Kebijakan melegalkan perjudian menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat khususnya di Ibu Kota, namun kemudian dengan tangan besinya Bang Ali dapat meyakinkan bahwa perjudian yang dilegalkan hanya menjaring segelintir orang terutama dari kalangan the haves yang difokuskan pada satu lokasi.

Hal ini dibuktikan dengan diresmikannya Petak Sembilan pada tahun 1968 sebagai daerah sentra perjudian, dimana judi Hwa Hwe menjadi permainan favorit para cukong di Ibu Kota. Meski judi Hwa Hwe ini hanya berlangsung beberapa bulan saja namun dampaknya sangat dirasakan sebagai dana pembangunan.

Seperti perbaikan Lapangan Banteng dan terminal-terminal di dalam kota, pengembangan Jalan Sudirman dan Thamrin serta pembangunan taman kebudayaan Ismail Marzuki. Yang tidak kalah penting adalah perbaikan dan pembangunan sarana perumahan masyarakat, jalan-jalan MHT dan pengaturan kebersihan lingkungan masyarakat menjadi lebih tertata.

Pembangunan demi pembangunan terus digalakkan, hingga sampai pada akhir masa kepemimpinannya Bang Ali masih sempat meresmikan museum khas Jakarta, yaitu Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kalapa. Ini adalah museum ke sembilan yang dibangun di masa jabatannya.

Tidak saja bangunan Museum Bahari yang ingin dibangun dan dipelihara sebagai cagar budaya, tetapi juga area sekitar yang melingkupinya seperti Pasar Ikan dan tata kehidupan serta budaya nelayan setempat, Pelabuhan Bandar Sunda Kalapa, dan bahkan Mesjid Luar Batang sebuah mesjid tua yang dibangun pada abad ke-17 juga menjadi bagian perhatiannya.

Melalui kebijakan fenomenalnya Bang Ali bukan saja membangun fisik kotanya, tetapi juga memberi perhatian penuh pada pembangunan kebudayaan masyarakat setempat.

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY