M.H. Thamrin vs Mohammad Tabrani

0
448
Tabrani. Sumber: Sudarjo Tjokrosisworo, ed. (1958)

Tidak banyak yang tahu perihal tokoh pergerakan nasional yang satu ini, kalaupun ada beberapa di antaranya banyak yang terkecoh dengan beranggapan bahwa beliau adalah tokoh pergerakan nasional yang merupakan putera Betawi.

Kemungkinan anggapan itu muncul karena namanya yang kental nama Betawi disamping itu juga melihat sepak terjangnya dalam dunia pergerakan, beliau cukup dekat dengan Mohammad Hoesni Thamrin sebagai tokoh Betawi yang paling menonjol dalam organisasi Kaoem Betawi.

Tokoh itu bernama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro atau biasa ditulis dalam berbagai literatur sejarah pergerakan nasional ditulis dengan nama Tabrani, beliau adalah tokoh pergerakan nasional dari kalangan jurnalis tua. “Kacong” Madura-Jawa kelahiran Pamekasan 1904 ini menamatkan pendidikannya di MULO Surabaya, lalu meneruskan AMS dan OSVIA di Bandung.

Meski berlatar belakang pendidikan pamong praja, ketertarikannya dengan dunia jurnalistik membuatnya untuk pergi ke Jerman dan menimba ilmu jurnalistik di Universitat Zu Koln. Selama di Jerman, Tabrani melakukan lawatan ke kota-kota di Eropa seperti Berlin, London dan Wina sambil bekerja sebagai kontributor di koran-koran Belanda seperti De Telegraaf dan Het Volk.  Namun demikian selama bersekolah OSVIA di Bandung,

Baca Juga:

  1. Chairil Anwar dan Jakarta
  2. Onghokham Sejarawan Hedonis Jakarta
  3. Si Biang Kerok Benyamin S

Tabrani telah berkecimpung di dunia jurnalistik dengan menjadi pemimpin Harian Hindia Baroe bersama dengan Haji Agus Salim. Dunia jurnalistik pula yang menuntunnya untuk terjun ke dunia politik dan pergerakan nasional serta memainkan peranannya cukup besar dalam menggalang organisasi-organisasi pemuda untuk menyatukan pandangan menuju persatuan sebuah bangsa, yaitu Indonesia. Dalam dunia pergerakan nasional, Tabrani tergabung dalam Jong Java dan menjadi tokoh pergerakan nasional pencetus Kongres Pemuda pertama pada 1926.

Karirnya sebagai jurnalis mencapai titik puncak ketika menjabat sebagai Hoofdredacteur (kepala redaksi) Harian Pemandangan, satu harian lokal yang sering menyuarakan aspirasi pribumi di Hindia Belanda. Di harian yang dipimpinnya inilah ia banyak memberi ruang pemikiran para tokoh pergerakan nasional. Sebab itu Harian Pemandangan seolah-olah menjadi corong bagi kaum nasionalis dan pergerakan.

Tulisannya mengenai hal-hal yang sedang hangat dibicarakan dalam Volksraad, acap kali muncul di Harian Pemandangan, seperti petisi kepada pemerintah kolonial agar Indonesia memiliki parlemen sendiri, sebuah perjuangan jurnalistik dalam usaha mendukung Petisi Soetardjo.

Salah seorang kawan yang cukup dekat denganya di dunia pergerakan nasional adalah Mohammad Hoesni Thamrin, seorang tokoh pergerakan ko-operatif yang banyak memberi masukan kepada Tabrani mengenai langkah perjuangan yang kerap dituangkan dalam sebuah artikel koran. Thamrin seolah-olah menjadi mentor bagi Tabrani.

Satu surat telah dilayangkan Thamrin kepada Tabrani untuk dijadikan artikel dalam Harian Pemandangan, isinya berupa kritikan berkenaan larinya pemerintah Belanda ke London saat kondisi Kerajaan Belanda sudah takluk kepada Jerman dan mengungsi serta meminta perlindungan kepada pemerintah Kerajaan Inggris.

Surat yang kemudian dalam artikel bertajuk “Soembangan Indonesia” itu membuat Harian Pemandangan dibredel selama satu minggu di bulan Mei 1940, satu tulisan isu politik yang menggiring Tabrani ke balik jeruji penjara, sekaligus menjadi trigger perseteruannya dengan Thamrin karena ia merasa dijebak kawan lamanya di pergerakan nasional.

Cerita dasar konflik dan perseteruan antara Tabrani dan Thamrin oleh penulis dengan nama samaran Ketjindoean diceritakan dalam satu novel roman dektektif berjudul Patjar Koening Seri ke V berjudul Kedjadian Jang Aneh (1941). Di sini tokoh Hoesain Damiri merupakan tokoh yang seolah-olah mewakili Mohammad Hoesni Thamrin dan Soelaiman mewakili Tabrani.


Lebih jauh baca:

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Mahasiswa Nasionalisme dan Penjara karya John Ingleson yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.