Abu Ridho Ahli Keramik Museum Nasional

0
407
Piring zaman Ming pada abad 15 awal. Koleksi Museum Nasional.

Ketika saya mula-mula melihat mereka, orang-orang asing, datang ke Museum Nasional membawa bungkusan besar-besar dan tas-tas yang gendut, saya merasa sangat heran. Mereka ingin menemui kurator bagian keramik. Ketika sudah bertemu mereka membuka tasnya, mengupas satu persatu bungkusan-bungkusan itu, lalu tersembullah sebuah mangkuk Ming Biru Putih dan kemudian celadon dari zaman Sung yang berbentuk piring.

Saya melihat dari kejauhan benda-benda tersebut diletakkan di atas meja. Sedang Abu Ridho, kurator bagian keramik asing memasang kaca matanya sambil tangannya meraba benda-benda itu. Kepalanya tertunduk mengamati dengan teliti benda-benda itu. Ketika ia menengadahkan kepalanya, tertumbuklah pandangannya kepada saya, lalu dipanggilnya mendekat.

Saya diperkenalkan kepada ketiga orang asing yang datang itu. Ternyata mereka berkebangsaan Inggris, datang ke Indonesia hanya beberapa hari saja sebagai turis. Mereka sendiri pengumpul benda-benda antik di negerinya dan sangat tertarik akan keramik Cina yang dijual di pasar antik di Jakarta. Mereka merasa ragu-ragu akan benda-benda yang hendak dibelinya, sehingga mereka perlu menanyakan kepada seseorang yang ahli mengenai benda-benda antik itu. Untuk itu pikiran yang pertama yang mereka miliki adalah untuk menanyakannya kepada museum.

Di Inggris, museum adalah tempat mendapatkan advis mengenai jual beli benda-benda antik itu.

Sepotong demi sepotong benda antik itu diidentifikasikan sebagai barang-barang asli. Ketiga orang itu merasa puas dan pergi setelah menyatakan terima kasihnya. Saya bertanya kepada Mas Abu, bagaimana caranya mengetahui suatu barang itu asli atau tidaknya.

Baca Juga:

  1. Sejarah Roti di Jakarta
  2. Dari Mana Nama Senayan?
  3. Asal-Usul Nama Manggarai

“Wah, susah Dik” katanya, “Pertama kita harus melihat benda itu, kedua melihat glasurnya, ketiga melihat hiasannya dan kemudian melihat materinya atau dari bahan apa benda itu dibuat. Kadang-kadang dalam masing-masing zaman, pabrik-pabrik keramik di negeri Cina membuat benda-benda tertentu yang menjadi spesialisasinya. Dari hiasannya kita dapat mengetahui dari zaman apa benda itu berasal dan dari mana.

Misalnya benda-benda dari Annam hiasannya berbeda dengan benda-benda dari Savankhalok ataupun Jepang. Meskipun perbedaan-perbedaan itu terkadang hanya sedikit saja. Demikian pula warna hiasan itu juga dapat menentukan asal dari benda itu.

“Mengapa Mas Abu selalu melihat bagian dasar (pantat) dari benda-benda tersebut?” tanya saya kepingin tahu.

“Untuk melihat materinya. Biasanya materi dari benda-benda keramik itu dapat dilihat dari bagian dasar benda itu, karena umumnya bagian tersebut tidak tertutup oleh glasur. Juga ada banyak tanda-tanda lain yang karakteristik pada bagian tersebut. Misalnya pada bagian tersebut ada “cincin” atau kaki dari benda itu. Kalau cincin itu berdinding tinggi biasanya menunjukkan bahwa benda itu berasal dari waktu yang muda, kira-kira abad ke -15—17. kalau dasarnya flat atau rata biasanya berasal dari jaman yang lebih tua.”

“Mengapa bagian itu sering diraba?”

“Untuk melihat materinya juga. Selain warna dari bahan keramik itu, juga kasar halusnya bahan tersebut dapat dipakai sebagai identifikasi barang. Misalnya ada barang tanah, (stone ware), porselin, celadon yang berwarna hijau, serta campuran antara barang tanah dengan barang porselin.”

Saya mengangguk-angguk.

Bukan hanya itu saja keahlian para ahli keramik dalam menentukan umur benda. Beberapa waktu yang lalu kawan dekat saya baru datang dari kantor redaksi, sebuah koran terkenal di ibukota. Ia menghampiri sambil tertawa-tawa. Saya memandanginya dengan heran.

“Masa benar bahwa ahli keramik di museum dapat mengetahui umur benda dengan hanya mencium baunya saja.” Saya tertawa terbahak-bahak. Mudah-mudahan hal itu berlaku pula untuk menentukan umur gadis.

Suatu hari datanglah seorang nyonya tua. Ia membawa sebuah bungkusan yang berisi porselin. Sebelum dibuka dia telah bercerita bahwa ia membeli benda porselin dari seorang tukang antik dengan harga yang mahal. Tiap potong barang paling sedikit Rp. 25.000,-, bahkan ada sebuah piring porselin biru putih yang harganya Rp. 150.000,-.

Mas Abu dan saya sebagai asistennya menjalankan tugas. Mula-mula keluarlah dari bungkusan itu dua buah porselin Ming Biru Putih yang berbentuk bebek. Kemudian beberapa buah mangkuk dan cerek. Akhirnya sebuah piring yang besar. Ketika Mas Abu meraba dan mengamatinya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Muka nyonya tua mulai mengkerut.

These are fakes (ini palsu)” kata Mas Abu lirih. Nyonya itu terkulai di kursi. Lemas seluruh tubuhnya. Bahkan airmatanya mengembang. Belakangan Mas Abu bilang bahwa agak sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Meskipun kita tahu bahwa barang-barang itu jelas palsu tetapi untuk mengatakannya kepada pemiliknya harus berhati-hati. Kadang-kadang pemilik itu bisa marah besar kepadanya jika benda-benda antiknya dibilang palsu.

Sekarang ini banyak sekali benda-benda palsu yang meniru Ming Biru Putih yang dibuat di Bandung, di sebuah perusahaan keramik negara. Benda-benda buatan Bandung itu banyak beredar di pasaran barang antik di Jakarta, Hongkong, dan Singapura. Buatannya sangat halus, dan jika tidak berhati-hati melihat materinya, bisa terkecoh dan duit puluhan ribu rupiah terbang melayang.

Orang-orang yang datang ke museum pusat untuk memeriksakan barang yang akan dibelinya, tidak hanya orang asing saja, tetapi ada juga beberapa orang Indonesia sendiri. Namun yang disebut belakangan ini tidak banyak jumlahnya dibandingkan dengan orang-orang asing. Juga tidak saja benda-benda porselin atau keramik, melainkan ada pula yang memeriksakan keris, tombak, ukir-ukiran kayu, patung-patung perunggu, dll.

Yang paling susah ialah menghadapi orang-orang yang membawa keris, yang sangat percaya akan tuahnya. Orang itu kadang-kadang sangat fanatik. Untuk soal-soal mengenai keris, tombak, dan barang-barang pusaka yang lain, pihak museum tidak akan memberikan komentar apa-apa mengenai soal “tenaga gaib”nya. Yang akan diutarakan hanyalah soal asli tidaknya keris itu, berapa kira-kira umurnya, dsb.

Barang-barang yang berupa patung-patung perunggu, juga sering diperiksakan di museum. Untuk menentukan palsu tidaknya barang-barang itu sangat sulit, karena belakangan itu banyak di buat orang patung-patung perunggu palsu yang bahannya dibuat dari rongsokan perunggu kuno.

Di samping itu buatannya pun halus, sehingga sukar dibedakan dengan yang asli. Namun demikian kesalahan-kesalahan kecil masih sering terjadi sehingga bagi orang yang teliti memeriksanya akan segera tahu. Patma (karat perunggu) yang berwarna hijau dapat juga dibuat dengan memasukkan benda itu ke dalam larutan garam atau dengan proses ilmiah memakai anode dan katode.

Arca-arca batu jarang bahkan hampir tidak pernah diperiksakan di museum. Mungkin karena beratnya. Tetapi di pasaran benda-benda antik banyak dijual patung-patung batu, baik yang asli maupun yang tiruan. Bagi mereka yang punya hobi mengumpulkan benda-benda antik, biasanya selalu tahu bahwa di toko A misalnya ada barang antik yang baru didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagainya.

Artikel dikutip dari buku Wahjono Martowikrido, Cerita Dari Gedung Arca: Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta, hlm. 129-137.

Di antara para kolektor itu seringkali terjadi perdebatan sengit, apakah benda itu palsu ataukah asli. Patung-patung batu yang palsu dibuat di daerah Mojokerto, atau Muntilan Jawa Tengah, oleh pemahat-pemahat autodidak yang mahir. Jika sekiranya hasil karya mereka dijual sebagai patung biasa, bukan berpredikat barang antik, sedangkan diketahui bahwa benda itu palsu, maka harganya akan jauh merosot.

Sampai sekarang ini adalah menjadi problem bagi para ahli, mengenai siapa yang sesungguhnya berhak menentukan bahwa suatu benda itu asli atau tidak. Terutama sekali untuk benda-benda antik yang sangat meragukan. Umumnya para ahli itu menentukan asli atau tidaknya suatu barang berdasarkan kepada pengalaman saja.

Untuk menentukan asli atau tidaknya suatu barang sampai saat ini belum dipakai alat-alat tertentu, kecuali hanya dengan tipologi atau perbandingan saja. Sedangkan arca-arca di Indonesia banyak sekali ragamnya. Meskipun menggambarkan dewa yang sama, tetapi berbagai macamlah bentuk dan rupanya. Itu semua masih memerlukan suatu penyelidikan yang mendalam.

Yang paling susah kalau datang seorang yang membawa batu-batu akik sebagai mata cincin. Ia sangat percaya bahwa batunya itu sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Dengan segelas air yang direndami batu itu, orang sakit apapun dapat sembuh. Karena museum pusat terkenal sebagai gedung Arca Batu maka banyak orang mengira bahwa mereka dapat menanyakan tentang akiknya.

Pegawai museum pusat tidak diperkenankan untuk memberi suatu sertifikat mengenai barang yang ditanyakan secara tertulis. Peraturan ini tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Museum. Hal itu dimaksudkan supaya sertifikat-sertifikat semacam itu jangan sampai dipergunakan dalam perdagangan. Barang-barang yang mempunyai keterangan bahwa barang itu asli, apalagi keterangan itu datangnya dari museum, sudah tentu harganya melonjak tinggi.

Demikianlah sedikit serba serbi mengenai Abu Ridho, ahli keramik utama Indonesia dan bagaimana Museum Nasional sebagai advisor dalam menentukan asli tidaknya suatu benda antik.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Wahjono Martowikrido, Cerita Dari Gedung Arca: Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta, hlm. 129-137. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505