Kebun Binatang Pernah di Tengah Pusat Kota Jakarta

0
462
Kebun binatang Cikini warisan Raden Saleh

Saya ingin bercerita sedikit mengenai suatu tempat yang telah memberi kenangan tersendiri untuk saya. Saya bersekolah dasar di Sekolah Rakjat Tjikini, dan waktu di SMP saya bersekolah di SMP Negeri 1 Cikini. Kedua sekolah ini terletak di Jalan Cikini Raya tidak jauh dari kebun binatang (KB) Cikini sebelum dipindah ke Ragunan pada awal 1970-an.

Waktu itu banyak yang menyebutnya sebagai dierentuin, dari bahasa Belanda untuk kebun binatang. Bekas KB Cikini ini sekarang menjadi bagian dari kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM). Lokasi kebun binatang Cikini tepatnya di bagian sebelah kiri TIM yang sekarang. Saya sering bermain ke sini, memungut buah kenari yang jatuh di tanah—banyak pohon kenari yang berdiri di sini waktu itu, masuk ke kebun binatang atau menonton bioskop di sampingnya. Ini juga karena beberapa teman saya waktu SD bertempat tinggal di kampung Kali Pasir di sebelah kebun binatang ini. Jadi, tempat itu merupakan salah satu tempat bermain dan rekreasi masa remaja saya.

Baca Juga:

  1. Ada Palang Pintu Ada Berebut Dandang
  2. Riwayat Komik Silat 
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Pada 1950-an, tempat rekreasi di Jakarta masih sangat terbatas. Tempat rekreasi yang relatif murah dan banyak dikunjungi rakyat biasa di hari libur atau hari raya waktu itu belum banyak. Yang terpopuler seingat saya ialah kebun binatang, museum gajah (Museum Nasional), dan Pasar Ikan lama. Karena terletak di tengah kota, kebun binatang ini mudah dikunjungi masyarakat. Saya ingat, kebun binatang ini cukup luas dan asri karena banyak ditumbuhi pohon-pohon besar terutama pohon kenari. Koleksi binatang di sini pun cukup banyak dan jenisnya bervariasi. Batas akhir bagian belakang kebun binatang ini ialah Sungai Ciliwung.

Karena lokasinya di tengah kota, dengan perkembangan Jakarta yang pesat pada 1970-an, pemerintah DKI Jakarta menganggap sebaiknya kebun binatang ini dipindahkan ke Ragunan yang suasananya lebih tenang dan jauh dari kebisingan kota. Beberapa tahun lalu saya kebetulan membaca buku mengenai sejarah Kebun Binatang Cikini berjudul Gedenkboek Planten en Dierentuin te Batavia, 1864-1924. Berarti kebun binatang ini telah didirikan sejak 1864. Didirikan di atas tanah partikelir milik Raden Saleh, pelukis terkenal di permulaan dan pertengahan abad ke-19. Raden Saleh kemudian menghibahkan sebagian tanahnya untuk dijadikan kebun binatang itu.

Tanah milik Raden Saleh cukup luas, antara lain yang sekarang menjadi Rumah Sakit Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini, yang di zaman kolonial Belanda namanya Koningin Emma Ziekenhuis. Di bagian depan samping rumah sakit ini, masih ada hingga sekarang, terdapat bangunan antik bekas rumah Raden Saleh. Arsitektur bangunan ini ditirunya dari bangunan puri yang disukainya ketika ia bermukim di Jerman.


Dikutip dengan seizin penerbit dari buku Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis, halaman 71-73. Bukunya bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Lebih jauh lihat buku:

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Buku terkait dengan artikel.