Riwayat Komik Silat

0
655
Si Buta dari Gua Hantu. Komik Indonesia. Karya Ganes TH

Sampai akhir 1970-an, di Indonesia telah hadir sekitar 50 orang komikus yang membuat komik silat. Akan tetapi, yang menonjol hanya beberapa saja dan mereka mayoritas tinggal di Jakarta.

Jakarta kebajiran komik silat pada 1970-an. Banjir komik silat ini kemudian mengalir ke kota-kota besar lain. Komik silat ini muncul tidak terle­pas dari pengaruh novel silat Cina karya Kho Ping Ho serta novel silat Jawa karya SH. Mintaredja yang beredar sekitar awal 1950-an sampai awal 1970-an.

Latar dan latarbelakang cerita atau tema komik silat berbeda-beda. Ada sebagian komik yang menggunakan latar dan latarbelakang zaman antah berantah. Ada sebagian komik yang mengguna­kan latarbelakang pada masa Majapahit. Dan sebagian komik silat lain menggunakan latarbelakang zaman Islam dan Kolonial. Selain itu, juga banyak komik silat yang menggunakan latar kedaerahan dan wilayah di Nusantara ini.

Sedangkan pengaruh corak atau ragam silatnya dipengaruhi antara lain oleh corak atau aliran silat Cina, Jawa Tengah/Timur dan Jawa Barat. Penggunaan aliran maupun latarbelakang ini tidak lepas dari pengaruh latarbelakang si pembuat komik itu sendiri. Pada komik silat ini diperlukan dan dituntut latarbelakang yang jelas. Dengan demikian, setiap pembaca dapat menghubungkan hasil bacaannya dengan konteks latar yang digunakan komik tersebut. Komik silat yang memiliki konteks sejarah umumnya akan digemari.

Baca Juga:

  1. Komik Super Hero Indonesia
  2. Film Porno di Jakarta 1970-an
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Cerita silat sebenarnya sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Cerita itu dimuat dalam naskah Melayu-Betawi. Ceritanya diambil dari legenda Cina klasik, seperti Sie Jin Koe. Setelah adanya majalah hiburan, maka beberapa cerita itu kemudian dibuat dalam bentuk komik strip bersambung, di antaranya adalah cerita Kera Sakti atau See Yoe Kee yang terdapat dalam majalah Star Magazine (1940).

Pada 1952, cerita terkenal See Jin Koe kembali diangkat menjadi komik strip dan dimuat dalam majalah Star Weekly, penggubahnya adalah Siauw Tik Kwie (Oto Swastika). Komik ini sempat dijadikan buku sebanyak dua kali. Pertama pada 1960 dan kedua 1982 oleh penerbit yang berbeda.

Pada 1965, John Lo membuat komik silat dalam bentuk buku, berjudul Pendekar Piatu (Pantja Djaya: Bandung). Komik tersebut meru­pakan adaptasi dari cerita silat Cina yang sedang tren pada waktu itu. Secara bersamaan muncul komikus silat yang masing-masing menampilkan serial petualangan tokoh pendekar.

Sampai akhir 1970-an, di Indonesia telah hadir sekitar 50 orang komikus yang membuat komik silat. Akan tetapi, yang menonjol hanya beberapa saja. Di antaranya adalah Ganes Th yang menampilkan serial petualangan Si Buta dari Gua Hantu (1967–1972) ke berbagai wilayah di Indonesia, antara lain, Borobudur (1968), Bali (1968), Tambora (1972), Sulawesi Selatan (Sorga yang Hilang, 1973 dan Perjalanan ke Neraka (1974), Donggala (1973), Tinom­bala (1974), Larantuka, (1975), Kalimantan (Neraka Perut Bumi, 1976). Akhirnya tokoh si Buta kembali ke tempat asalnya di Jawa Barat (Mawar Berbisa, Bangkitnya si Mata Malaikat, Pamungkas Asmara, 1981-83).

Ganes juga membuat lakon carangan dengan menampilkan tokoh Reo Manusia Srigala dalam empat seri (Neraka Hijau, Hantu Kawah Rinjani, Comodo, dan Zombi). Pada masanya Ganes. Th sangat produktif. Ia juga membuat beberapa cerita perjuangan, seperti Taufan (1975), Si Jampang (1969) dan Petualang (1976). Sementara itu ia juga sempat membuat beberapa cerita yang bertema konflik keluarga, seperti Tuan Tanah Kedawung (1970), Cisadane, Krakatau, Nilam dan Kesuma, dan Api Di langit Kulon (1970-79). Beberapa karyanya yang terkenal kemudian diangkat menjadi film.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 82-84

Selain Ganes. Th, komikus lain adalah Hans Jaladara yang menampilkan serial silat Panji Tengkorak dalam tiga seri (Panji Tengkorak, Walet Merah dan Si Rase Terbang ( 1968–1972). Komikus lain, adalah Djair Warni yang menampilkan tokoh pendekar silat bernama Jaka Sembung dalam beberapa seri ditambah lakon carangannya, seperti Si Kinong dan Koteka.

Termasuk di sini komikus Rim yang menampilkan serial Pendekar Manggala (1970–1978), Usyah yang menampilkan serial Pendekar Bambu Kuning (1969–1976), Mansyur Daman (Man) yang membuat serial Pendekar Mandala Dari Sungai Ular (1973–1976). Tentu saja yang terkenal  Jan Mintaraga.

Sebagian dari komik tersebut kemudian juga diangkat menjadi film. Salah seorang komikus yang menonjol dalam mengga­rap komik silat adalah Teguh Santosa. Beberapa karya­nya yang berlatar sejarah zaman kolonial dan bertemakan perjuangan, adalah Sandhora, Tambusa, Mutiara, Mat Pelor, Mat Romeo, Mencari Mayat Mat Pelor dan The Godfather 1800.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 82-84. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505