Aidit di Malam 30 September 1965

0
107
Aidit berbicara di depan massa dalam program Turba PKI, 1965

Kamis Kliwon, 30 September 1965 jarum jam menunjuk pukul 21.30 WIB, Aidit tengah asyik berbicara serius dengan bekas Ketua CGMI, Hardoyo, onderbouw PKI. Wajah keduanya menegang. Beberapa kali keduanya terpaksa menghentikan pembicaraan ketika Ilham Aidit, bocah 6,5 tahun itu, anak laki-laki kedua Aidit ber-seliweran di ruang tamu.

Ketika Hardoyo pamit, Aidit mengantar tamunya hingga ke teras. Setelah itu, Aidit berbalik masuk ke rumah dan mengunci pintu depan serta menghalau anaknya ke kamar tidur. “Ham, larut malam begini kamu belum juga tidur,” kata Ketua CC PKI itu meraih tangan anaknya dan menggandengnya menuju kamar tidur. Biasanya, Aidit berganti baju dan masuk ruang kerjanya jika tidak ada tamu. Ia membaca atau menulis sampai pagi sambil mendengarkan musik-musik klasik. Ia biasanya ia memutar “Symphony No. 3” Beethoven.

Tiba-tiba deru mesin mobil Jeep memasuki pelataran rumah. Terdengar derap sepatu bergegas mendekat dan derik pintu depan dibuka. Terdengar suara dr. Soetanti, istri Aidit, bernada tinggi ketika berbicara dengan tamunya. Ia membentak  dua orang berseragam militer warna biru di depan rumahnya, “Ini sudah malam!”

“Maaf, tapi ini darurat. Kami harus segera!” jawab tamu tidak diundang.

“Sebentar akan saya panggilkan!” Soetanti menjawab kesal sambil berbalik memanggil suaminya di ruang kerja.

Aidit menemui tamu itu. “Segeralah bersiap Bung, waktu kita terbatas!” kata tamunya itu. Aidit kembali ke kamar tidur, membuka lemari baju, memasukkan beberapa pakaian dan buku ke dalam tasnya.  Ia sempat terlihat ragu, meletakkan tas dan kembali ke ruang depan, berbicara selintas dengan penjemputnya. Ia kembali ke kamar tidur dan ribut dengan istrinya yang ngotot memintanya tidak usah berangkat ke Istana Presiden malam-malam. Tetapi, ia tetap pergi.

Baca Juga:

  1. Bung Hatta di Hari-Hari Terakhir Bung Karno
  2. Onghokham Sejarawan Hedonis Jakarta
  3. Pram dan Asal-Usul Neofeodalisme di Jakarta

Sebelum meninggalkan rumahnya, Aidit mencium kening istrinya. Ia juga mengangkat tubuh Ilham Aidit yang masih belum tidur dan mengusap rambutnya. Kepada Murad Aidit, adiknya, ia berpesan agar mengunci pagar sambil mematikan lampu serambi depan.

Kebiasaan di rumahnya, lampu serambi depan akan menyala terus hingga tengah malam sebelum ia beristirahat. Ia yang biasanya mematikan lampu, tanda sudah tidak akan menerima tamu. Hingga kini, ke mana sesungguhnya ia pergi malam itu dan apa saja yang dilakukannya masih belum ada satu versi jawaban yang pasti.

Menurut kesaksian Mayor Soejono di Mahmilub, sebagaimana disebut Tempo (2010: 60–65), ia yang menjemput Aidit di rumahnya—bukan Tjakrabirawa. Ia membawanya ke rumah Kepala BC PKI Sjam Kamaruzaman di Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat. Di tempat itu, sudah menunggu sejumlah anggota BC PKI—biro yang dibentuk Aidit tanpa sepengetahuan pengurus CC PKI.

Menurut Antonie CA Dake dalam bukunya Soekarno File (2005: 77), keberadaan Aidit di kediaman Sjam Kamaruzaman merupakan bagian dari serentetan gerakan yang berhubungan dengan usaha melancarkan kudeta. Aidit kemudian diantar Soejono menuju PAU Halim Perdanakusuma

Tetapi, ada versi berbeda yang menyatakan bahwa Aidit diajak ke rumah dinas Men/Pangau Laksdya Omar Dhani di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ternyata rumah itu dalam keadaan kosong. Mayor Soejono mengajak Aidit ke rumah mertua Omar Dhani di Jalan Otto Iskandardinata III, Jakarta Timur. Menjelang tengah malam, rumah itu telah terkunci rapat dan penghuninya tertidur lelap. Soejono menggedor pintu. Setelah dibuka, kekecewaan sekali lagi menimpa dirinya karena Omar Dhani tidak pernah menginap di sana.

Akhirnya, ungkap Julius Pour dalam Gerakan 30 September: pelaku, pahlawan & petualang (2010: 29–30) Mayor Soejono mengajak Aidit ke Kompleks Perumahan AU di PAU Halim Perdanakusuma, mereka beristirahat di rumah dinas seorang bintara AU. Rumah itu tampaknya sudah lama dipersiapkan oleh komplotan G30S, bahkan secara resmi diberi sebutan Cenko II. Cenko I berada di kantor PN Aerial Survey (Penas), tempat para tokoh G30S malam itu mempersiapkan diri sebelum berangkat melakukan operasi penculikan.

Sejak dijemput Mayor Soejono, Aidit sudah dianggap hilang di mata keluarganya karena tidak pernah melakukan kontak. Istrinya, dr. Soetanti merasa kebingungan sebab di saat terakhir Aidit tidak mengatakan apa pun termasuk ke mana dan untuk apa ia pergi.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Peter Kasenda, Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI hlm. 117-120. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505.

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965 karya Onghokham yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Sukarno dan Modernisme Islam karya Muhammad Ridwan Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Sukarno Muda karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Hari-hari Terakhir Orde Baru karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Penghancuran PKI karya Olle Tornquis yang bisa didapatkan di Tokopedia, dan Shopee.

Musim Menjagal karya Geoffrey Robinson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee dan www.komunitasbambu.com atau telpon ke 081385430505