Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

0
2073
Bagian dalam Masjid Al-Makmur, Tenabang. Sumber: Abu Bakar (1955).

Mesjid bersejarah yang pernah dipugar pada 1915 oleh Habib Abu Bakar Al-Habsyi, pendiri organisasi Jamiatul Chaer. Kini masjid yang pada era 1950-an sangat anggun dan agung terkepung bangunan-bangunan besar, jalan underpass para PKL yang berjubal dan kendaraan yang parkir di muka masjid setiap harinya.

Selain terkenal dengan adanya pasar yang merupakan terbesar di Jakarta, Tenabang atau Tanah Abang juga terkenal dengan sebuah masjid yang terletak tidak jauh di sebelah selatan pasar. Namanya Masjid Al-Makmur.

Menurut narasumber Masjid Al-Makmur dalam sejarahnya tidak terlepas dari peranan dai orang Mataram yang datang ke Jakarta bersama dengan pasukan Mataram untuk menyerang Belanda di Batavia. Mereka kemudian menetap di Jakarta dan membangun sejumlah masjid di Jakarta, salahsatunya adalah Masjid Al-Makmur.

Pada mulanya Masjid Al-Makmur adalah sebuah musala berukuran 8×12 meter. Masjid ini dibangun untuk memfasilitasi penduduk setempat dan pengunjung pasar yang memerlukan tempat ibadah. Dalam perkembangannya pada 1915 masjid ini diperluas dan diperbaiki oleh Habib Abu Bakar Al-Habsyi, pendiri organisasi Jamiatul Chaer, madrasah Jamiatul Chaer, dan panti asuhan Darul Aytam.

Setelah diperbaiki dan diperluas, luas masjid ini menjadi 1.142 m2 termasuk lahan yang diwakafkan oleh Habib Abu Bakar Al-Habsyi. Kemudian pada 1932 masjid pun diperluas lagi di atas tanah yang diwakafkan oleh Salim bin Muhammad bin Thalib. Terakhir masjid ini diperluas lagi pada 1953 sehingga luasnya menjadi 2.175 m2.

Sejak saat itu hingga kini tidak ada penambahan luas, hanya saja dilakukan perbaikan di sana-sini. Selanjutnya sewaktu pemerintah memperlebar Jalan Karet (sekarang Jalan K.H. Mas Mansur) atas permintaan masyarakat, masjid dan halamannya tidak diusik-usik. Pelebaran jalan dilakukan ke halaman dan ke rumah-rumah yang berada di seberang masjid. Masjid Al-Makmur, Tenabang, selamat dari penggusuran dan pembongkaran yang banyak terjadi di tempat lain.

Baca Juga:

  1. Sabeni Jago Tanah Abang dan Elit Silat Betawi
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi
  3. Awal Batavia Kota Markas Dagang

Pada awal dan era 1950-an di sekitar Tenabang belum berdiri masjid lain, masjid Al-Makmur merupakan satu-satunya masjid untuk melakukan salat Jumat bagi penduduk Kebon Jati, Kebon Kacang, Kampung Bali, Kebon Pala, dan Duku Pinggir. Orang dari Karet Kubur juga terkadang menunaikan salat Jumat di masjid ini (meskipun biasanya mereka salat di Masjid Nurul Islam, Karet Tengsin atau Masjid Hidayatullah, Karet Depan).

Orang-orang yang berasal dari wilayah yang cukup jauh untuk beribadah di Masjid Al-Makmur ini biasanya adalah mereka yang sering berbelanja ke pasar untuk membeli kitab-kitab agama di toko kitab Sayid Usman yang letaknya tidak jauh dari masjid.

Kitab yang biasanya dibeli adalah kitab yang biasa digunakan atau dipelajari di pengajian seperti Kitab Sifat Dua Puluh, Kitab Adabul Insan, Kitab Safinatun Najah, yaitu kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab.

Bagian dalam Masjid Al-Makmur, Tenabang. Sumber: Abu Bakar (1955).

Kitab yang biasa dibeli lainnya adalah Kitab Barzanji dan Kitab Sarofal Anam, yakni dua kitab maulid; dan tentu saja kitab Al-quran dan surat Yasin. Sayangnya toko kitab Sayid Usman tersebut sekarang sudah tidak ada akibat terkena pembongkaran dan pembangunan kembali pasar Tenabang dengan bangunan mewah dan modern.

Selain ibadah salat Jumat, pada era 1950-an salat tarawih di Masjid Al-Makmur juga selalu ramai. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang dari sekitar Tenabang yang merasa nyaman dan bahagia melaksanakan salat tarawih di masjid ini. Terlebih lagi seringkali pada malam bulan Ramadan, Masjid Al-Makmur kedatangan tamu penceramah ulama beken dari Timur Tengah terutama dari Mesir.

Di pertengahan era tersebut sempat beredar paham perihal salat tarawih yang cukup dilaksanakan sebanyak 11 rakaat termasuk 3 rakaat witir yang kemudian menyebabkan sedikit kericuhan pada waktu salat tarawih di masjid ini. Sejumlah jamaah yang mengikuti paham tersebut semula salat menjadi makmum bersama.

Artikel dikutip dari buku Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe, hlm. 207-211.

Tetapi setelah rakaat ke-8 mereka secara demonstratif mengundurkan diri ke bagian belakang dekat serambi, lalu melaksanakan salat witir. Setelah selesai mereka dengan suara bising seperti mengejek yang salat 23 rakaat, keluar lalu pulang.

 

Pada waktu-waktu shalat Zuhur, Asar, dan Magrib, banyak orang yang memiliki kepentingan di pasar ikut salat di masjid ini. Sementara penduduk setempat ada yang datang, tetapi ada pula yang tidak. Mereka yang tidak ikut salat biasanya mereka yang bekerja di tempat lain. Setelah melaksanakan salat biasanya para jamaah tidak segera meninggalkan masjid. Mereka tetap tinggal untuk sekadar duduk-duduk dan berbicara dengan sesama jamaah.

Menurut penuturan seorang jamaah, sejak dulu Masjid Al-Makmur banyak dimanfaatkan orang terutama orang dari daerah lain seperti Tangerang, Depok, dan Bekasi yang sedang berurusan dengan pasar untuk sekadar ngadem (istilah orang Tenabang untuk beristirahat). Hal ini mungkin saja karena masjid ini mempunyai serambi depan yang luas dan nyaman sehingga memungkinkan orang bisa duduk-duduk, bahkan tidur-tiduran.

Akan tetapi kini akibat dari bangunan Pasar Tenabang yang mewah dan modern, rumah dan bangunan di sekitarnya juga menyesuaikan diri menjadi bangunan-bangunan besar dan megah. Masjid Al-Makmur pun sudah terkepung dengan bangunan-bangunan besar. Alhasil masjid yang pada awal 1950-an tampak anggun dan agung, kini telah hilang kesan keanggunan dan keagungannya.

Terlebih lagi adanya jalan underpass di depan masjid juga turut membuat jamaah dari Kebon Kacang di seberang masjid mendapat kesulitan untuk datang ke masjid setiap waktu salat tiba. Mereka harus memutar dulu—yang jaraknya cukup jauh—ke arah pasar bila hendak ke masjid.

Adapun hal lain yang melatarbelakangi ketidaknyamanan Masjid Al-Makmur kini adalah kehadiran para PKL yang berjubal dan kendaraan yang parkir di muka masjid setiap harinya. Namun mau bagaimana lagi karena Pemerintah Daerah belum berhasil menertibkannya.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe hlm. 96-99. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee atau kontak langsung ke 081385430505