Sejarah Munculnya Golput

0
1896
Kelompok Golput ini menggunakan logo segi lima yang kosong berwarna putih. Logo ini mereka buat meniru logo Golkar yang segi lima, hanya saja kosong dan berwarna putih.

Sampai sekarang pro dan kontra terhadap gerakan Golput ini masih terus bergema dan dibicarakan orang menjelang pemilu. Bagaimanakah sejarah lahirnya Golput dan apakah kita harus mengkambinghitamkan Golput?

Peristiwa menarik, pada awal 1970-an di Jakarta, adalah munculnya sebuah gerakan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Golongan Putih atau Golput.

Golongan ini muncul beberapa waktu sebelum Pemilu 1971 berlangsung sebagai reaksi atau protes terhadap kebijakan dan sikap pemerintah pada waktu itu untuk memenangkan Pemilu.

Gerakan Golput ini diprakarsai oleh beberapa orang aktifis mahasiswa dan budayawan yang risih melihat upaya dan keberpihakan pemerintah yang ngotot untuk memenangkan Golkar dengan berbagai cara yang menurut mereka tidak demokratis.

Salah satunya, yaitu dengan menggunakan jajaran dan aparat pemerintah termasuk ABRI untuk mengkampanyekan Golkar sebagai partai pemerintah secara gencar disertai berbagai tindakan yang bersifat tekanan dan paksaan.

  1. Awal Batavia Kota Markas Dagang
  2. Pram dan Asal-Usul Neofeodalisme di Jakarta
  3. Sukarno Suka Banyak Anak Tak Suka KB

Inti dari gerakan Golput adalah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk memboikot Pemilu dengan tidak ikut melakukan pencoblosan alias yang mereka sebut Golput tersebut. Beberapa aktifis mahasiswa dan budayawan yang aktif terlibat dengan Golput ini antara lain yang masih saya ingat adalah Arief Budiman, Adnan Buyung Nasution, Marsillam Simanjuntak, Imam Waluyo, dan beberapa lainnya lagi.

Kelompok Golput ini menggunakan logo segi lima yang kosong berwarna putih. Logo ini mereka buat meniru logo Golkar yang segi lima, hanya saja kosong dan berwarna putih. Mereka pun membuat logo Golput ini dan mencoba mengkampanyekannya ke masyarakat banyak.

Namun, tentu saja gerakan Golput ini tidak bisa mengimbangi kampanye Golkar yang disokong sepenuhnya oleh pemerintah. Selain itu juga karena tindakan pemerintah yang cukup represif terhadap gerakan Golput ini.

Namun saya berpendapat bahwa perlawanan Golput ini sangat berarti dan perlu dihargai karena waktu itu sama sekali tidak ada koreksi ataupun oposisi terhadap pemerintahan Orba yang cenderung menjadi otoriter dan militeristik.

Sebagai catatan, pada waktu itu gerakan Golput muncul sebelum Pemilu 1971, saya sedang berada di Belanda. Jadi saya tidak banyak mengikutinya dengan cermat apalagi ikut terlibat. Tetapi saya banyak mendengarnya dari surat-surat yang dikirim beberapa teman juga karena saya bertemu dengan Marsillam Simanjuntak di Belanda pada Agustus sesudah Pemilu 1971 itu. Marsillam adalah salah seorang penggagas dari Golput.

Sampai sekarang pro dan kontra terhadap gerakan Golput ini masih terus bergema dan dibicarakan orang menjelang pemilu, termasuk pada pemilu 2009 yang ternyata banyak Golputnya.

Artikel dikutip dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970, hlm. 29-31.

Misalnya anjuran oleh Gus Dur kepada pengikutnya untuk tidak ikut memilih alias Golput, walaupun anjurannya ini lebih karena sakit hatinya terhadap keputusan pemerintah yang memenangkan PKB pimpinan keponakannya Muhaimin Iskandar yang dianggapnya mbalelo terhadap kepemimpinannya. Namun seperti kebiasaannya, Gus Dur kemudian berubah haluan dengan menganjurkan pengikutnya untuk memilih asal bukan PKB.

Adapun yang cukup mengherankan, bahkan sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mestinya lebih mengurusi urusan agama pun turut memberikan fatwa mengenai Golput ini, yaitu haram hukumnya untuk menjadi Golput. Alasannya setiap orang diwajibkan untuk memilih dan menentukan pemimpinnya sesuai ajaran Islam.

Menurut saya fatwa ini cukup keterlaluan karena ikut tidaknya seseorang untuk menjadi pemilih adalah hak dan urusannya sendiri. Tidak ikut memilih tentunya adalah juga suatu pilihan. Tidak perlu diatur atau dicampuri orang lain, apalagi oleh institusi seperti MUI.

Seperti kurang kerjaan saja, padahal begitu banyak masalah menyangkut agama yang seharusnya mereka urus. Ternyata dari hasil pemilu legislatif 2009 ini jumlah Golput lebih dari 40%. Walaupun hal ini dikatakan karena kesalahan Daftar Pemilih Tetap (DPT).


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Firman Lubis, Jakarta 1950-1970-an, hlm. 377-378. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak,Shopee atau kontak langsung ke 081385430505