Ganyang Sondhi dan Martabak India

0
417
Martabak har.

Saya masih ingat pernah pada 1960 atau 1961 terjadi insiden penyerangan terhadap orang-orang India. Ceritanya, waktu itu datang seorang India bernama Sondhi ke Jakarta.

Ia adalah pengurus komite olahraga Asia yang datang ke Jakarta untuk melihat persiapan sarana dan prasarana pesta olahraga Asia atau Asian Games yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 1962. Setelah meninjau berbagai persiapan dan pembangunan sarana untuk Asian Games, rupanya ia kurang puas. Ia melihat sarananya belum siap dan panitia kurang sungguh-sungguh melakukan persiapan yang diperlukan.

Maka, tuan Sondhi pun membuat pernyataan kecewanya mengenai kekurangan persiapan pesta olahraga itu di depan pers yang kemudian dimuat di berbagai surat kabar. Rupanya pernyataannya ini ditanggapi dengan sangat serius dan defensif sekali oleh pemerintah Indonesia yang merasa didiskreditkan—dapat dipahami karena memang inilah salah satu ciri dari pemerintah kita sejak dulu.

Baca Juga:

  1. Pengalaman Berburu Soto dan Sop di Jakarta
  2. Kenangan Makan Gorengan Kambing Tahu Bumbu dan Nasi Uduk Jakarta
  3. Bir di Jawa

Maka terjadilah berbagai demonstrasi oleh berbagai kelompok pemuda revolusioner waktu itu, dengan mobilisasi tentu saja, yang intinya ”ganyang Sondhi!”. Memang, waktu itu Indonesia mulai gencar melakukan pengganyangan terhadap kaum neokolonialis-imperialis atau nekolim dan mereka yang dianggap memusuhi Indonesia.

Karena si Sondhi segera hengkang terbang kembali ke India, akibatnya orang-orang India di sekitar Pasar Baru yang tidak tahu-menahu persoalannya akhirnya turut didemo oleh para pemuda yang setengah kalap itu. Maka mereka pun segera menutup tokonya, takut terkena ganyang atau penjarahan. Untuk sementara, mereka pun mengurung diri di rumahnya masing-masing.

Bahkan yang sangat lucu ketika penjual martabak telor yang biasa menuliskan di kaca gerobaknya sebagai ”martabak India asli” segera menghapus tulisan ”India asli” itu agar tidak ikut menjadi korban pengganyangan. Itulah sejarahnya mengapa hingga sekarang penjual martabak telor tidak lagi menyebut dagangannya sebagai martabak India, padahal pada 1950-an mereka selalu mengklaim martabaknya sebagai martabak India asli.

Yah, dari kisah pengganyangan tuan Sondhi itu, memang begitulah sifat orang kita sejak lama. Cepat emosional dan mencak-mencak kalau sedikit saja terkena kritik atau tersinggung. Tanpa pikir panjang, mereka kemudian bertindak berlebihan dan rasialis, seperti kata pepatah ”buruk muka cermin dibelah”. Kekanak-kanakan dan mencerminkan adanya kompleks rendah diri. Maunya hanya mendengar puji-pujian saja.


Dikutip dari buku Jakarta 1950-1970 karya Firman Lubis, halaman 51, atas seizin penerbit Masup Jakarta. Buku bisa didapatkan di  TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Lebih jauh baca buku:

Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku-Buku terkait dengan artikel.