Kenangan Makan Gorengan Kambing, Tahu Bumbu dan Nasi Uduk Jakarta

0
642
Nasi uduk Bang Udin di pertigaan Rawabelong, Jakarta Barat. Buka lepas magrib sampai tengah malam.

Sebelum ada nasi goreng kambing di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, yang terkenal itu, di Roxi juga ada penjual nasi goreng kambing yang lebih enak dan wangi. Sayang tidak bertahan lama. Padahal sangat laris dan dicari orang. Saya dan keluarga termasuk penggemarnya. Nama tendanya yang menjajakan nasi goreng kambing itu Ibu Iyam. Di Pasar Mayestik juga ada penjual nasi goreng yang terkenal dengan nama nasi goreng belo sebab penjualnya sekeluarga bermata belo.

Masih terkait olahan kambing di Tanah Abang dan daerah Pejompongan dekat dengan kantor urusan air ledeng, terdapat penjulal gorengan kambing. Makanan ini juga termasuk langka dan khas. Mungkin sekarang sudah sulit dicari. Makanan ini berupa daging dan isi perut kambing yang ditaruh di dalam penggorengan besar yang selalu panas dan diberi kuah gule. Orang-orang tinggal pilih mau makan apa saja dan berapa potong. Makanan ini dijual hanya pada siang hari.

Baca Juga:

  1. Pengalaman Berburu Soto dan Sop di Jakarta
  2. Bir di Jawa
  3. Sejarah Roti di Jakarta

Sementara di Roxi sudah lama ada penjual martabak India. Kebetulan penjualnya memang keturunan India, jadi sangat tepat kalau ia menggunakan label India. Selain martabak, ia juga menjual es alpokat dan es kopyor, jadi orang-orang juga bisa makan dan minum di tempat itu. Selain di Roxi, ada orang India asli yang juga menjual martabak India namanya adalah restoran Malabar, letaknya di seberang Hotel Duta, disudut Hotel Gayatri, persis di depan Harmoni.

Di Sawah Besar, di depan toko Nyonya Bakul, terdapat mie rebus Bang Husin kesukaan orangtua saya. Setiap kami pulang dari rumah kakek dan nenek di sana, kami selalu membeli mie rebus Bang Husin. Penjualnya suka humor dan santai. Mie rebus Bang Husin hanya ada pada sore sampai malam. Mie rebusnya digodok dengan anglo dan dibungkus dengan daun pisang. Sepeninggal Bang Husin pada akhir 1970-an, model mie rebus Betawi seperti itu sudah langka. Pada awal 2000-an, seorang ibu pernah menjajakan mie rebus seperti itu di daerah Tanah Abang. Tetapi sayangnya setelah 2006, ia tidak berjualan lagi.

Selain itu, dulu jika keluarga kami melewati Jalan Pecenongan setelah belanja di Pasar Baru pada malam hari, kami akan membeli tahu bumbu. Penjualnya hanya satu-satunya di situ. Tahu yang selesai digoreng ditaburi bumbu kacang atau semacam bumbu kacang buat sate yang berminyak dan ditambah dengan jeruk nipis. Dulu makanan ini juga dibungkus dengan daun pisang. Tahu bumbu bisa dimakan di situ, tetapi kami lebih suka dibawa pulang. Tahu bumbu ini mirip dengan tahu bumbu yang tersebar di kota Tasikmalaya, bisa jadi pedagangnya berasal dari kota itu. Sejak awal 1980-an, pedagang inipun tidak ada lagi.

Pilihan lain, jika merasa lapar sehabis belanja dari Pasar Baru, kami bisa mampir di beberapa tenda yang berjejer di Jalan Krekot Raya. Di antaranya yang suka kami hampiri adalah Sop Kambing dan Sate Kambing atau Nasi Uduk Ibu Icih. Kami yang tinggal di Jakarta Pusat, terbiasa mengenal gacoan untuk nasi uduk adalah semur daging, kentang atau tahu, bukan dengan berbagai gorengan, seperti nasi uduk Tanah Abang itu, apalagi sekarang dicampur dengan pecel lele. Nasi uduk Ibu Icih sampai sekarang masih ada. Di antara tenda nasi uduk yang berjejer di Krekot itu yang bertahan memang nasi uduk Ibu Icih karena gurihnya itu.

Sebelum banyak penjual nasi uduk seperti sekarang, dulu di Jakarta Pusat ada nasi uduk di Pasar Cikini dan Pasar Kenari, yang nasinya sedikit buyar, kasar dan pera. Tenda nasi uduk ini buka dari sore sampai pagi. Kalau kita lapar pada malam hari bisa mampir di situ dan makan sekenyangnya dengan harga yang sangat murah. Selain itu, di perempatan Rawa Belong juga terdapat Bang Udin penjual nasi uduk khas Betawi pinggiran dengan segala lauk pauknya, seperti semur jengkol.

Dikutip dari buku Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai karya Zeffry Alkatiri, halaman 110-111, dengan seizing penerbit Masup Jakarta buku bisa didapatkan di yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.


Lebih jauh baca buku:

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku-Buku terkait dengan artikel.