Bleguran

0
227
Permainan meriam bambu alias bleguran yang khas ketika bulan puasa tiba. Sumber foto: http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Ada yang memberi nama badia-badia batuang, long bumbung, balimau, lodong tetapi orang Betawi menyebutnya bleguran. Ini permainan anak-anak pada sore atau malam bulan puasa dengan bambu besar berkarbit untuk mendapatkan suara dentuman persis meriam, tetapi sonder peluru.

Bagi orang Betawi bleguran seperti lorong waktu. Permainan ini adalah suara dari masa lalu yang mengingatkan bahwa selain orang Ambon, hanya orang Betawi yang mengalami benar-benar 350 tahun dijajah.

Sejak 1596 kapal-kapal Belanda sudah memamerkan meriam-meriam besar di bandar Jayakarta. Meriam-meriam itu mulai disundut ketika mereka mendirikan benteng pertahanan, seraya berkonflik dengan Pangeran Jayawikarta yang dibantu Sir Thomas Dale dari Inggris pada 1618. Dentum meriam menghebat ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang lari ke Ambon kembali dengan 16 kapal bala bantuan dan akhirnya menghancurkan kota Jayakarta pada 30 Mei 1619.

Baca Juga:

  1. Puasa Separo Ari
  2. Kemelekeran
  3. Pondok yang Gede di Kampung yang Kecil

Di Batavia, begitu nama Jayakarta diubah secara resmi mulai 1621, saben 30 Mei yang diputuskan menjadi hari ulang tahun kota pusat kekuasaan Kompeni itu meriam-meriam di benteng pun disundut: blegur blegur! Tradisi sundut meriam ini tidak hilang, malahan bertambah ketika kota benteng Batavia yang tidak sehat ditinggalkan dan daerah sekitar Gambir dijadikan kota baru Batavia bernama Weltevreden pada akhir 1800.

Sejak naik Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830–1834) tradisi sundut meriam tidak hanya dilakukan setahun sekali, tetapi saben hari. Trauma terhadap serangan Inggris pada 1816 yang menjatuhkan Hindia Belanda bikin van den Bosch buat satu garis pertahanan yang sohor disebut “Defensielijn van den Bosch”.

Garis bayangan itu dari kawasan Bungur melalui Sawah Besar, Krekot, lalu ke Petojo sampai di bagian barat lapangan Gambir, yaitu citadel alias Benteng Frederik Hendrik. Benteng yang berada di sebidang tanah dimana Ciliwung bercabang ke Riswijk dan Gunung Sari ini adalah pusat garis pertahanan van den Bosch.

Sebagai tanda pergantian pasukan jaga dari benteng itu saben jam delapan malam dan lima pagi meriam disundut: blegur blegur! Hampir seantero Batavia mendengarnya. Penghuni kota menjadikannya petunjuk waktu. Saat itu orang-orang mencocokan jam. Kalau malam pasti jam delapan dan kalau subuh pasti jam lima. Patokan tepat. Tidak akan meleset.

Saat itu memang tiada satu pun jam dikota Batavia yang dapat dijadikan pegangan. Ada empat tempat jam yang dianggap harusnya dapat diacu yaitu Toko Arloji van Arcken, Kantor Pos Weltevreden, Societet Harmoni, dan Stadhuis.Tetapi semuanya berbeda-beda. Ada yang lebih cepat ada yang lebih lambat.

Sebab itu ketika pada awal 1903 tradisi menembakan meriam dihentikan karena dianggap pemborosan, maka terjadilah protes. Masyarakat kehilangan patokan waktu. Protes tak didengar, tetapi orang Betawi tidak pernah lupa dentum meriam itu. Mereka manifestasikan dalam bentuk permainan bleguran. Muncul pada saat-saat menjelang bulan puasa sampai tiba hari lebaran, dimana soal waktu menjadi begitu istimewa.

Saking istimewa Guru Manshur (1878–1967), mualim Betawi yang banyak menulis buku soal puasa bilang bahwa puasa itu sejatinya adalah konsep waktu agar jangan “kayak celepuk kesiangan”.  Ini ungkapan Betawi untuk menggambarkan bahaya tidak mengelola waktu dengan baik, sehingga orang dicaplok waktu dan hidup tidak selamat. Sahur, imsak, berbuka adalah ajaran betapa seseorang bukan harus berkompetisi dengan waktu tapi berdamai, seraya memasukinya sebagai medium belajar menahan diri, ikhlas, serta tegas akan yang hak dan batil, sehingga seorang pribadi menjadi manusia dengan kemanusiaan “in optima forma”.

Dalam konteks itulah dentum bleguran yang dimainkan anak-anak di bulan puasa adalah peringatan supaya jangan lupa, Tuhan bersumpah, “Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang mengerjakan kebajikan”.


Lebih jauh baca buku:

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku-Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY