Kerudung

0
707
Fatmawati, isteri Bung Karno, dengan kerudung yang menjadi mode dipotret Majalah TIME pada 23 Desember 1946

Kalau ada bulan yang paling revolusioner, maka tak salah lagi itulah bulan puasa. Sebab bulan puasa telah menjungkir balikan banyak pola hidup. Mulai dari pola makan, pola tidur, pola belanja, pola kerja, pola musik, sampai pola berpenampilan semua digilas revolusi.

Terutama revolusi sangat kelihatan melanda pola berpenampilan kaum perempuan dari yang demen mengumbar aurat alias ablak-ablakan ujug-ujug menjadi tertutup, wabil khusus bagian kepalanya. Sasaran revolusi penampilan di bulan puasa memang kepala dengan dikenakan jilbab. Soal yang di bawah jilbab sering masih tetap seperti bulan-bulan lainnya, yaitu body selalu dalam balutan yang “dijaga ketat”.

Entahlah apa sebabnya, mungkin karena kepala adalah pusat komando yang memerintahkan supaya aurat tidak dijaga, malahan dipamerkan kian kemari dan dianggap sesuatu yang membuat diri terasa kotor di bulan suci. Bukankah bulan puasa adalah jalan menuju kembali ke fitrah manusia yang suci. Sementara kesucian itu bersemayam di dalam hati kecil yang disebut nurani, artinya bersifat terang karena menerangi jalan hidup manusia menuju yang baik dan benar.

Tidak aneh jika suatu saat pernah sangat populer istilah “jagalah hati” dari ustadz terkemuka A’a Gym. Jauh sebelumnya Kyai Abdulah Syafi’i ulama besar Betawi juga memperkenalkan istilah “atilu burik” untuk menjelaskan hati yang berlumur kotoran. Tidak lagi bersih tetapi belang bonteng oleh karena dosa. Kyai Abdullah Syafei mengambil konsep “atilu burik” ini dari hati yang disebut al-Qur’an sebagai zhulm atau hitam karena dosa. Tidak lagi bersifat terang, melainkan menjadi gelap (zhulmani).

Baca Juga:

  1. Kisah Setangan Kain Tutup Kepala Khas Betawi
  2. Kongko Betawi
  3. Puasa Separo Hari

Benyamin S seniman Betawi yang genial itu kemudian mencomot konsep Kyai Abdullah Syafei itu menjadi bagian dari lagunya “Perkutut”. Meskipun lagu itu sangat asosiatif kepada pornografi, tetapi dalam khasanah kebudayaan Betawi, terutama pantunnya, baik isi maupun sampiran, biasanya mengandung sindiran sekaligus nasihat. Dalam lagu itu Benyamin sangat terasa melalui syairnya yang asosiatif menyindir orang berpikiran kotor karena hatinya dipenuhi prasangka buruk (su’udzon) saat mendengar “Yo, sini yo burung gue mandiin”. Padahal, burung itu mengacu kepada perkutut, namun orang yang “hatinya burik” sudah berpikir yang kotor-kotor.

Hal yang hampir sama juga terdapat dalam lagu rakyat Betawi yang berasal dari kelompok mu’alim atau kaum santri. Lagu itu tempo dulu biasanya saben deket bulan puasa di antero tanah Betawi santerlah di sana-sininya diperdengarkan:

Indung-indung kepala lindung

Ujan di laut di sini mendung

Anak siapa pake kerudung

Mata ngelirik kaki kesandung

 

Ayun-ayun Siti Aise

Mandi di kali rambutnye base

Tidak sembayang tidak puase

Di dalem kubur mendapet sekse

Ada “ngelirik” dan ada juga “mandi di kali rambutnye base” yang untuk ukuran lagu pantun dari kalangan santri Betawi tentu vulgar. Tetapi, sekali lagi hati yang bersih tidak terbetik pikiran kotor. Siti Aise adalah bayangan perempuan sempurna lelaki Betawi. Rhoma Irama termasuk yang menguatkan gambaran Siti Aise itu dengan lagunya “di balik kerudung”.

Tetapi, model nyata Siti Aise itu bagi masyarakat Betawi muncul di zaman Jepang pada Fatmawati istri Bung Karno. Penampilan Fatmawati yang berkerudung dan merupakan anak dari seorang pimpinan organisasi Islam yang besar Muhammadiyah dianggap sangat pas.

Demikianlah kemudian kerudung yang hanya sohor di kalangan perempuan Betawi kemudian naik kelas dan menjadi trend di kalangan atas bahkan yang bukan Islam. Trend kerudung Fatmawati semakin kuat manakala dengan keras Fatmawati menolak Sukarno yang mendua. Kerudung Fatawati menjadi simbol kaum perempuan yang kualitas hatinya bersih, takut “di dalem kubur mendapet sekse”.

Kini kerudung terlupakan, kalau pun ada yang memakainya telah jauh dari gambaran historisnya itu, suatu gambaran dari khasanah Islam yang menjelaskan bahwa kebajikan itu ialah budi pekerti luhur dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hati. Jadi pertimbangan pertama dan utama bertindak ialah nurani.

Murni dan terangnya hati nurani akan membisikkan apa yang baik dan buruk, yang benar atau palsu. Nah, kepalsuan inilah yang kadang sukar ditutupi dengan jilbab sekalipun yang permanen dan menutupi sepenuh badan, apalagi yang hanya sesaat menyambut bulan puasa.


Lebih jauh baca buku:

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku-Buku terkait dengan artikel.