Kisah Setangan Kain Tutup Kepala Khas Betawi

0
796
Setangan masyarakat nativ di Batavia berdasar sketsa pelukis Belanda di abad 19 (Lanschapen en Volkstypen 1883)

Seperti etnis-etnis lain di Nusantara, masyarakat tradisional Betawi juga memiliki kain penutup kepala yang disebut setangan, namun pada masyarakat Betawi yang egaliter keberadaan setangan umumnya tidak memiliki fungsi sebagai status sosial menunjukkan identitas atau jabatan tertentu di masyarakat.

Bagi masyarakat Betawi, setangan atau terkadang juga disebut iket berfungsi semata-mata hanya sebagai pelindung kepala dari kotoran, sengatan terik matahari dan tetesan embun di malam hari. Adapun setangan menjadi penunjuk identitas pernah diterapkan pemerintah kolonial Belanda di Batavia,  menjadi simbol martabat atau jati diri dan pembeda dari pemakainya.

Pada abad ke-17 sampai 18, iket merupakan penanda bagi warga pribumi yang tinggal di dalam tembok kota Batavia, setangan menjadi penanda apakah dia seorang budak atau bukan.

Baca Juga:

  1. Timun Suri
  2. Kyai Mursalin Ulama Jawara Kepulauan Seribu
  3. Puasa Separo Hari

Pribumi merdeka boleh mengenakan setangan, pribumi merdeka yang beragama Nasrani diperkenankan mengenakan topi, sedangkan pribumi yang masih berstatus budak tidak boleh memakai setangan maupun topi. Pada tahun 1641 pemerintah kolonial Belanda memperkenankan para budak memakai topi, asalkan bisa berbahasa Belanda.

Model iket atau setangan pada masyarakat Betawi biasanya diasosiasikan dengan gejala alam. Bahan untuk kedua penutup kepala ini umumnya batik bermotif flora, merupakan unsur budaya serapan dari beberapa etnis yang pernah mendiami Kota Batavia.

Secara umum terdapat beberapa model setangan di Betawi, yaitu Blarak Semplak, Brongkos Keong, Jengger, dan Bungkus Kol. Yang umum dikenakan masyarakat awam, seperti petani, pedagang dan para panjak menggunakan setangan model bungkus kol. Sedangkan centeng, jago dan demang lebih banyak menbggunakan adal setangan model Blarak Semplak. Khusus para demang setangan yang digunakan dikombinasikan dengan topi dinas ambtenaaren.

Model yang sama dengan Blarak Semplak di Jawa Barat dinamakan Barangbang Semplak. Kedua nama itu memiliki arti sama, yaitu dahan kelapa yang patah. Model iket ini memang bagian belakangnya menyerupai dahan kelapa patah.

Di awal abad 20 penggunaan kain penutup kepala setangan pada masyarakat tradisional Betawi mulai berkurang, kedudukannya digantikan oleh peci yang pada waktu itu menjadi trend karena dipopulerkan oleh para pejuang pergerakan nasional seperti Ki Hajar Dewantara, Setia Budi dan terutama Sukarno.


Lebih jauh baca buku:

Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku-Buku terkait dengan artikel.