Puasa Separo Ari

0
762
Ilustrasi Si Doel sedang memimpin doa dengan teman sepermainanya kala bulan puasa dari buku Si Doel Anak Betawi karya Aman Datoek Madjoindo

“Lu kagak puase As?”

“Puase juga tadi! Sekarang udah gue buka. Anak-anak puase dong separo ari. Kalo udah gede baru satu ari.”

Begitulah obrolan di hari ketiga bulan puasa antara si Doel dan si As. Bisa dibaca di dalam buku klasik karya Aman Datuk Madjoindo (1896—1969), Si Doel Anak Betawi  bagian VI “Bang Amat yang Baik Hati”.

Buku yang diterbitkan pertama kali pada 1932 oleh Balai Pustaka itu memang telah menjadi semacam ensiklopedi mini kebudayaan orang Betawi tempo dulu. Apalagi bagi yang ingin merasakan arti Islam bagi orang Betawi. Berani sumpah, itu adalah dokumen sezaman yang penting dibaca. Sebab ditulis berdasar pengalaman Aman ketika tinggal di kampung Mester atau Jatinegara pada 1920-an, saat ia hidup di tengah orang Betawi yang menganggap Islam dengan mereka persis gigi dengan gusi. Dekat sekali.

Baca Juga:

  1. Timun Suri
  2. Kemelekeran
  3. Pondok yang Gede di Kampung yang Kecil

Kisah “puasa separoh ari” adalah salah satu pengungkapan yang menarik ihwal bagaimana Aman ingin menggambarkan bulan puasa sebagai kesempatan istimewa bagi para orang tua Betawi memberikan anak-anaknya pendidikan mengenali rukun Islam ketiga: puasa.

Saking penting dan istimewanya sebab itu di gambarkan oleh Aman bahwa empok Am ibu si Doel tidak marah manakala ia di sumur membersihkan peralatan kue kemudian mendengar ada bunyi orang meneguk air dan ternyata itu anaknya yang sedang minum. “Ai, belon lagi magrib! Kagak tahan lagi,” seloroh empok Am sambil berkata lagi. “Kalo udah lapar, itu nasi dalem gerobok.”

Sikap memaklumi itu berakar pada kepercayaan orang Betawi bahwa “anak-anak belon ade dosenye kayak orang gede”. Orang yang menjelaskan kepercayaan itu di dalam bukunya oleh Aman dipilih bukan seorang ulama, tetapi ibunya si As, yaitu seorang pedagang rujak ulek. Dengan begitu tampak Aman ingin menjelaskan betapa kepercayaan itu sudah diterima sedemikian rupa dalamnya, sehingga menjadi aturan yang lazim di kampung.

Kepercayaan itu jelas ditakik dari dunia Islam yang para ulamanya bersepakat bahwa ibadah dan kewajiban lainnya, tidak wajib hukumnya kecuali jika seseorang sudah baligh. Namun, mayoritas ulama menganjurkan agar anak dilatih berpuasa dan melakukan ibadah supaya mereka mendapatkan keberkahan ibadah. Juga agar mereka terbiasa, serta mudah melakukannya ketika sudah wajib baginya.

Tetapi, selain itu di antara orang Betawi sendiri memiliki kepercayaan bahwa “puasa separo ari” itu bukan sekadar soal urusan membiasakan anak-anak puasa. Jika Nejdet Sakaoglu penulis buku The old summer Ramadans in Tasra menyatakan puasa setengah hari adalah metode klasik puasa untuk membiasakan anak-anak mengenali tradisi dan identitas keislamannya, maka demikian juga halnya bagi orang Betawi.

“Puasa separo ari” adalah metode klasik bagi mereka untuk mengenalkan puasa sebagai ruang tempat hidupnya aneka macam tradisi-budaya Betawi yang penting. Mulai dari makanan, kesenian, kekerabatan, sampai kepercayaan yang berkait dengan kehidupan setelah mati dan roh leluhur.


Lebih jauh baca buku:

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Terang Bulan terang di Kali karya S.M. Ardan yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970-an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee.

Sebelas Colen di Malam Lebaran karya Chairil Gibran Ramadhan yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505.

Buku-Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY