Di Bekasi Pramoedya A. Toer Terpesona Revolusi

0
1382

“Revolusi itu presis orang bakar sampah. Ia bukan sekadar membuang, melemparkan dan menabun semua yang kotor juga tak berguna. Ia melapangkan. Membawa hawa bebas. Bakar sampah mengingatkan saya revolusi”. Itu jawaban Pramudya A. Toer atas pertanyaan iseng saya ketika mendapati dia asyik di velbak kecil dekat rumahnya jongkok bangkar sampah: “Apa bung hobby bakar sampah?”

Dalam memoar pemenjaraannya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pram memang pernah menulis surat berkepala “Nilai Tanpa Sampah” untuk Et, anak keduanya. Ia mengelaborasi sedemikian rupa ihwal revolusi yang dialaminya ketika pecah di Jakarta tak selang lama setelah proklamasi dan terus diikuti apinya yang merembet ke daerah pinggirannya. Pram terpesona revolusi. Bahkan sampai nafas terakhir pun ia terus terbakar oleh apinya yang dikenangkan sebagai “keindahan tiada tara” sebab “yang terpancar dari dalamnya kebijaksanaan, kecerdasan, keberanian”.

Dari letup api revolusi itu pula Pram mengambil inspirasi untuk menulis romannya yang paling dini, Di Tepi Kali Bekasi. Sebuah harta karun unik yang untungnya bisa selamat dari rampasan intel Belanda, dan meski itu cuma seperempatnya saja dari naskah keseluruhan, tetapi bisa menunjukkan kepada kita potret revolusi yang menggugah dengan nilai-nilai moral kemerdekaannya yang sudah tak ada lagi, yang sangat fokus, penuh detil dan ragam kelir. Sohor memang karya-karya revolusi Idrus, seperti Surabaya (1947), Perempuan dan Kebangsaan (1949) atau Jalan Tak Ada Ujung (1952) Mochtar Lubis. Namun cerita Pram itu jauh menonjol di atasnya dan lebih dari naskah manapun yang mampu memaksa kita menimbang kembali berbagai anggapan, pendapat dan klise tentang revolusi dan ide kebangsaan (nation) serta perkaitannya dengan pemuda.

Baca Juga:

  1. Kisah Pangeran Afrika di Bogor
  2. Depok Cagar Alam Pertama Hindia Belanda
  3. Sejarah Listrik dan Cerita Hantu di Depok

Dengan gaya lirik yang mengingatkan pada gaya gambang rancag yang menjadi tradisi penduduk aslinya, Pram membuka Di Tepi Kali Bekasi. Ia muliakan dan agungkan Bekasi dengan sejarah panjangnya sebagai daerah protes sosial dan perlawanan. Sejak jaman particuliere landerijen (tanah-tanah partikelir), jaman Jepang sampai kemerdekaan. Dan dalam sejurus saja Pram sudah mengarahkan kita bahwa revolusi dan perkaitannya dengan ide kebangsaan Indonesia bukan penyimpangan pada suatu masa sesudah perang lantaran pendudukan Jepang. Ia berakar dan tumbuh sejak lama sebagai konsekuensi dari, dan jawaban atas berbagai perubahan yang timbul dalam masyarakat dan kehidupan ekonomi yang bersumber dari kolonialisme dengan beambtenstaat (birokrasi kekuasaan kolonial) yang digelayuti feodalisme di pundaknya.

Demikian, Pram memainkan rancag pembukanya yang memang pada tradisi aslinya diperuntukan salahsatunya sebagai piranti prosesi “membuka palang pintu” alias melapangkan jalan ke tujuan. Ia menjebol dan selanjutnya membawa kita memasuki panggung utama ceritanya: revolusi sebagai momentum pembebasan yang memungkinkan rakyat Indonesia menentukan masa depan sendiri, dan bukan konflik politik dalam pengertian yang normal. Revolusi tidak harfiah anti-asing, melainkan melawan kebejatan dan keberdosaan sistem kolonial itu, tidak hanya bagi orang yang tertindas, melainkan juga bagi penindasnya, sebab yang terakhir ini pun kehilangan kemanusiaannya dengan mengabdi pada sistem itu.

Di sana, tokoh utama yang tampil adalah angkatan muda. Farid, pemuda Jakarta yang hatinya terbakar oleh revolusi. Saking panas oleh api revolusi ia rela melemparkan, membuang segala perkaitan hidupnya dengan semua yang kotor dan ketular kolonial demi kemerdekaan dan pembebasan dari kesewenang-wenangan. Sebab itu roman ini—pinjam istilah Keith Foulcher—adalah perwujudan pemuda ideology, ideologi pemuda revolusi.

Namun yang menarik Pram dalam menggambarkan ideologi pemuda Farid ketika memikirkan perjuangan masih menggunakan kata bakti, suatu kata yang mengingatkan pada pemuda Soetomo, pendiri Budi Utomo. Soetomo dalam otobiografinya Kenang-kenangan (1934) memakai kata itu bersama darma sebagai konsep perjuangannya. Ada kontinuitas sejarah, namun diperlihatkan pula perubahan yang terjadi.

Di zamannya Soetomo, pemuda-pemuda memasuki sekolah untuk kemajuan—istilah khas zaman sebelum perang yang dalam alam penjajahan digunakan intelektual muda bagi tujuan mereka yang sangat mulia. Sebaliknya di zamannya Farid, para pemuda malah “bersatu hati meninggalkan kemajuan”, seraya masuk arus revolusi yang dianggap sebagai “sekolah tinggi” bagi cita-cita memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan nilai-nilai moralnya yang dipertaruhkan. Selain itu, kalau pemuda Soetomo menjadikan pepatah kacang mangsa ninggal lanjaran (jangan lupakan pendahulu) sebagai kiblat gerak perjuangannya, sedang Farid memilih “Orang tua dikesisikan… anak tak membutuhkan orang tuanya”. Kalau perlu ayahnya sendiri serta “seluruh angkatan tua dari zaman penjajahan dengan semangat budak” hancur terbakar.

Sejak bagian pertama romannya, Pram sudah memperlihatkan bagaimana perselisihan angkatan itu terjadi. Farid ngotot pergi ke Cikampek. Nasihat dan rengek Bapaknya dianggap angin lalu. Bukan tak ada usaha membangun pengertian, tapi sia-sia. Farid ambil cuti untuk menjenguk, tapi yang ditemui ayahnya telah jadi NICA. Farid pun pergi dan melupakan ayahnya, masa lalunya. Sebuah simbolisasi yang dalam kenyataan zamannya memang terjadi.

Boleh jadi proklamasi bukan kata-kata yang heroik, adem-adem saja dan rada janggal lantaran sarat dibebani sikap kehati-hatian, keraguan dan kebingungan. Sukarno-Hatta dibayangi konsekuensi percaturan politik kekuasaan internasional. Orok Republik mesti diselamatkan. Caranya adalah tidak lagi memperkuat gerakan dan kemurnian ideologinya. Berkompromi. Dari sinilah titik perselisihan pemimpin-pemimpin yang tua dengan para pemuda. Para pemuda justeru menganggap proklamasi—pinjam kata angkatan muda saat itu, Chairil Anwar—telah “menyediakan api” untuk “maju, serbu, serang, terjang”. Bagi mereka revolusi mesti segera dilakukan. Sebab ada banyak ancaman terhadap kemerdekaan dan nilai-nilai moralnya. Proklamasi adalah suatu point of no return, atau lebih tepatnya, setiap langkah mundur berarti kegagalan total yang hina. Berkompromi sama artinya dengan membiarkan orok Republik tercemar kolonialisme dengan kebejatan dan keberdosaan sistemnya.

Perselisihan itu memang akhirnya tak terdamaikan dan keduanya menempuh jalan revolusinya sendiri-sendiri setelah peristiwa Ikada 19 September 1945. Para pemimpin yang tua meninggalkan Jakarta membawa orok Republik ke pedalaman “demi” Sekutu, yang secara implisit berarti menyerahkan Jakarta ke tangan Belanda. Sementara para pemuda dengan lusinan strijdorganisaties alias badan perjuangan yang seketika bermunculan di dalam dan sekitar kota Jakarta mamasuki musim baru, “musim bersiap”. Di mana-mana orang lazim memekik “Bersiap!” artinya melakukan serangan. Saben-saben terdengar pekik “Merdeka atau Mati”; salam “Merdeka” yang mengandung arti jiwa besar tak takut mati. Api revolusi menyala. Morob. Tapi tanpa pemimpin dan mencari bahan-bahan nyala apinya secara mandiri.

Revolusi pun jadi tak berkarakter dan bangkit kecemasan dehumanisasi, kemerosotan moral, korupsi. Dan dalam romannya itu Pram sendiri mengakui dan memberi tempat, namun baginya semua itu tak harus mengaburkan kita dari kenyataan pokok makna revolusi yang ingin ditunjukkannya: “suatu epos tentang revolusi jiwa—dari jiwa jajahan dan hamba menjadi jiwa merdeka”.

Dari seperempat cerita roman yang selamat itu memang tak membawa kita sampai kepada nasib akhir proses revolusi jiwa. Namun kita semua tahu bahwa revolusi itu memang melengkung pada akhirnya, berlangsung hanya beberapa bulan, yang hanya bisa dihitung dengan jari, kemudian yang menyusul adalah perang kemerdekaan dan dikapitulasi oleh lobby dan cocktail Konperensi Meja Bundar (KMB).

Namun dari studi sejarah yang telah dilakukan dapatlah kita ketahui hasilnya. Ben Anderson dalam sebuah eseinya yang menantang “Old State, New Society” mengungkapkan bahwa jalan yang dipilih para pemimpin tua—berbareng semangat revolusi yang memudar tinggal kenangan—membuat orok Republik darahnya dikotori darah negara lama dengan kolonialisme dan kebejatan serta keberdosaan sistem beambtenstaat yang ditumpangi feodalisme. Darah yang seiring perkembangan usia dan membesarnya orok itu semakin menampakkan wajah dan tabiat aslinya yang sangat kita benci.

Dan seperti dikatakan Pram berulang-ulang, hasil dan sumbangan dari bangsa Indonesia yang dikotori darah kebejatan serta keberdosaan kolonial seperti itu kepada rakyatnya juga dunia hanyalah yang buruk-buruk saja, sampah-sampah belaka.

Ayo ikut Pram. Sampah-sampah tak berguna berbau busuk yang lama menumpuk dan sekarang sudah menggunung mengganggu hidup berbangsa bernegara. Bakar!

 

Dikutip dengan seizin penulis dari artikelnya yang dimuat dalam edisi khusus Majalah Tempo Edisi 100 Tahun Kebangkitan Nasional 1908-2008: Indonesia yang Kuimpikan 100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri, 19-25 Mei 2008.


Lebih jauh baca:

Pramoedya A.Toer: Dari Budaya ke Politik 1950-1965 karya Savitri Scherer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Pram dan Cina karya Goenawan Mohamad, Hong Liu, Sumit Kumar Mandal yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970 karya Firman Lubisyang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau ke www.komunitasbambu.id serta telpon ke 081385430505