Sejarah Listrik dan Cerita Hantu di Depok

0
1958
Gardu listrik di stasiun Depok Lama.

Di dalam Stasiun Depok Lama ada situs bersejarah. Sebuah bangunan tua rumah gardu listrik dari awal tahun 1930. Kampung di sekitar gardu listrik itu berada namanya Sentral. Dari nama kampung ini dapatlah ditelusuri bahwa pada masa lalu gardu itu adalah pusat sentral listrik pertama untuk kawasan Depok.

Gardu itu adalah artefak sejarah awal pelistrikan di Depok. Tetapi, bukan berarti gardu itu setua jalan kereta api dan stasiunnya yang tempo doeloe disebut “halte kecil Depok di tepi kali Krokot yang terkenal dengan hutan dan pemerintahan Kristen pribumi”  yang dibangun antara 1869 sampai 1873 sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Bogor).

Lantas, mengapa aliran listrik pertama ada di Stasiun Depok Lama? Ini berkait dengan sejarah perkembangan lembaga yang mengurusi listrik di Hindia Belanda. Sebab pada 1917, Biro Tenaga Air yang di zaman Belanda bernama Waterkraht Bureau dan di bawah Jawatan Perkeretaapian Negara alias Staatspoorwegen diubah kedudukannya menjadi Jawatan Tenaga Air dan Listrik atau Dienst voor Waterkracht en Electriciteit.

Dari penyebutan kata air juga menjadi jelas bahwa pasokan listrik di gardu listrik Stasiun Depok lama dari pembangkit listrik tenaga air yang sudah dijalankan di Hindia Belanda sejak 1916 di Jawa Barat. Pengelolanya adalah BEM (Bandoengsche Electriciteits Maatschappij. Hal lain yang masih berkait dan perlu diungkapkan adalah penempatan gardu listrik di Stasiun Depok Lama itu juga menjadi bagian dari peningkatan teknologi perkeretaapian dengan dioperasikannya kereta api listrik pada 1 Mei 1930 di jalur Jakarta-Bogor.

Baca Juga:

  1. Ragunan dan Perang Perebutan Tahta di Banten
  2. Dari Mana Nama Matraman
  3. Tempat-Tempat yang Diingat di Jakarta Pusat Dulu

Tetapi, cobalah percaya, bahwa tidak serta merta seketika dengan adanya gardu listrik itu maka seluruh warga Depok sejak tahun 1930 sudah dapat menikmati aliran listrik. Depok sampai awal 1980-an tetap desa yang gelap jika malam tiba. Obor masih menjadi perlengkapan yang harus dimiliki rumah-rumah. Bahkan di stasiun Depok anak-anak masih menjajakan obor dari batang daun pepaya berisi minyak bersumbu bagi mereka yang pulang dari Jakarta ketika senja yang remang bures mulai dicaplok malam. Ada pula obor yang menggunakan daun kelapa kering yang biasa disebut blarak.

Listrik dari gardu di Stasiun Depok Lama itu memang diprioritaskan untuk fasilitas-fasilitas tertentu, terutama kereta api dan kantor Gemeente Depok atau Pemerintah depok dengan aparatusnya. Tetapi, terutama di rumah aparatus pemerintah daya yang dialirkan pun kecil sekali. Tak ayal, di rumah banyak pejabat itu masih berlaku “kawin campur” antara listrik dengan obor dan lilin , tetapi terutama lampu sentir.

Entahlah mengapa demikian, apakah ada kaitannya pembagian listrik ke masyarakat Depok yang pelit itu ada kaitannya dengan kekalahan Nederlands-Indische Spoorwegmatschappij (leluhur Staatspoorwegen) di Raad van Justitie pada 22 Desember 1871 melawan orang Depok dalam kasus tanah mereka yang diambil untuk jalur kereta api? Tetapi, kekalahan itu membekas sekali karena bukan saja Nederlands-Indische Spoorwegmatschappij yang harus membayar ganti rugi sebesar 1.663,76 gulden, melainkan juga J.E. de Witte van Scooten yang ditunjuk sebagai kepala instansi yang menyelenggarakan proyek pembanguanan rel kereta itu sebesar 54.102 ellen ukuran tanah Belanda saat itu atau 7 3/5 bau tanah.

Yano Jonathans seorang kronikus Depok mengungkapkan bahwa di Depok hampir setiap rumah punya lampu lampu tempel di ruang tengah dan lampu sentir di kamar tidur. Setiap pagi di setiap rumah selalu ada aktivitas membersihkan semprongnya yang menghitam. Termasuk lubang hidung pemiliknya yang juga ikut hitam karena lelap tidur dan lupa memadamkan lampu sentir, sehingga berakibat lampu memproduksi asap hitam dan kehirup jelaganya masuk lubang hidung. “Mijn neusgat is zwart geworden,” begitu ungkapan warga yang disebut Belanda Depok yang fasih bicara bahasa Belanda. Artinya lubang hidung saya menjadi hitam”.

Tempat paling terang di Depok adalah gereja di Kerk Straat atau sekarang Jalan Pemuda dan namanya GPIB Immanuel. Gereja selain dapat aliran listrik juga sekitar satu dasawarsa lebih sebelumnya telah punya lampu minyak tanah yang dipompakan lewat pipa-pipa tembaga terinstalasi di langit-langit dengan beberapa titik penerangan. Tetapi, hanya pada hari raya Natal dan tahun baru saja penerangan minyak tanah yang canggih ini digunakan.

Masih diingat Yano bahwa semasa ia kanak, sekitar tahun 1958, pun listrik di Depok belum begitu banyak. Listrik hanya terdapat di rumah-rumah di sepanjang jalan utama Depok, seperti di Jalan Pasar Lama (sekarang Jln. Kartini), Middenweg (sekarang Jln. Siliwangi), Kerkstraat (Jln. Pemuda), Gg Saartje (Jln. Melati), Gg Bakker (Jln. Mawar), dan Rawa Kandang (Jln. Bungur). Di rumah-rumah itu, terlihat cahaya lampu pijar 25 watt yang kemerah-merahan, seolah sedang berusaha keras untuk menerangi kegelapan Depok yang begitu pekat.

Dalam gelap pekat itulah Depok beredar cerita-cerita hantu. Seperti dikisahkan oleh Louis Couperus dalam  karyanya De stille kracht dari tahun 1900 mereka merasa di dalam gelap bersembunyi kekuatan jahat yang menakutkan. Bahkan ketika listrik mulai meluas jaringannya di Depok pada 1980-an cerita-cerita hantu itu tidak berkurang sebab sering terjadi pemadaman. Terutama pada musim hujan. Banyaknya pohon pohon yang tumbang mengganggu kawat listik. Tetapi, terutama petir sebab Depok terkenal sebagai “kota petir” yang ketika tiba musim hujan blegar blegur di sana sini dan tak jarang gardu gangguan atau tiang disambar petir. Gelap gulitalah kembali Depok.

Mungkin sebab itulah kemudian orang-orang Jakarta sering menyebut Depok adalah “tempat jin buang anak”. Bukan hanya menunjukkan lokasinya yang jauh terpencil di sudutkota, tetapi suasana alamnya masih diliputi kegelapan meski zaman telah melangkahkan kakinya ke zaman modern.