Dari Gerobak Kaset Keliling Sampai Gelaran Lapak Underground

0
1379
Gerobak Dangdut Keliling

Penjual dangdut keliling menjual mainan, sikat, dan peralatan rumah tangga lainnya dari gerobaknya. Kehadirannya ditandai dengan musik dangdut yang diputar keras dari pengeras suara gerobaknya saat ia mendorongnya di jalanan.

Ketika saya melihatnya saya kaget tak terkira. Bagaimana tidak inilah jenis terakhir dari penjual musik komersial yang tak pernah dianggap ada dalam wacana music Indonesia. Ia bersama aneka pedagang keliling lain yang berkeliling di lingkungan saya di Jakarta Selatan yang menjual apa saja mulai dari sapu hingga es krim.

Ia menjual kaset dengan gerobak kayu tetapi sambil menjual mainan anak-anak, sikat, dan peralatan rumah tangga lainnya. Kehadirannya ditandai dengan musik dangdut yang diputar keras dari pengeras suara gerobaknya di jalanan yang dorong dan telah dielngkapi sistem stereo mobil.

Kaset yang ia jual— semuanya legal, bukan bajakan—ditujukan untuk asisten rumah tangga dan pemilik warung di lingkungan itu, bukan penghuninya yang lebih sejahtera. Dengan demikian, pilihan rekamannya didominasi oleh musik dangdut dan musik daerah dari Sunda dan Jawa, termasuk kaset genre rakyat pedesaan (seperti kliningan Sunda) yang sulit ditemukan di toko kaset Jakarta.

Baca Juga:

  1. Budaya Event Bukan Konser Musik
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Tempat-Tempat yang Diingat di Jakarta Pusat Dulu

Deck tape yang dipasang di gerobaknya juga digunakan oleh calon konsumen untuk mencoba kaset seperti di warung kaset. Meskipun musik Barat juga tersedia di stok dagangannya, penjual dangdut keliling berhasil untuk mengelak dari hirarki prestise di Jakarta perihal genre dengan cara berkeliling, dan menargetkan pendatang dari pedesaan sebagai konsumen utamanya, ketimbang orang perkotaan.

Lain halnya dengan penjualan musik underground. Di dalam sebuah wawancara dengan fanzine Indonesia, Robin Malau, gitaris Puppen, berkomentar:

Kebanyakan jualan cara indie, sampe-sampe ngga berasa bahwa mereka itu sedang melakukan transaksi dagang … antar teman, promosi mulut ke mulut … seperti untuk kalangan sendiri gitu … bagus lho … positifnya, itu juga salahsatu cara approach yang lebih akrab kepada pasar, lagian mo bagaimana lagi?

Sehubungan dengan pandangan ini, kaset underground, sebagai suatu kebiasaan, tidak ditemukan di toko mal, toko kaset, gerobak penjual, atau toko konvensional lainnya. Bahkan, secara teknis ilegal untuk menjualnya, karena pemerintah Indonesia tidak menarik pajak apa pun dari transaksinya.

Kaset resmi yang dirilis secara komersial (bukan bajakan) di Indonesia biasanya disertai secarik kertas kecil yang menunjukkan bahwa pembuatnya telah membayar terlebih dulu keuntungan dari nilai kaset kepada pemerintah. Jika membeli kaset musik underground tanpa secarik kertas tersebut, maka seseorang harus mengenal orang lain di kalangan underground, menghadiri acara konser, atau mengunjungi sejumlah kecil toko khusus urban yang menjual musik underground dan aksesorisnya.

Artikel dikutip dari buku Jermy Wallach, Musik Indonesia 1997-2001, hlm. 81-83.

Setiap acara konser underground yang saya hadiri selama penelitian lapangan saya terdapat pedagang keliling yang membuka toko di atas kain semacam selimut, baik di dalam maupun di luar tempat konser. Barang yang mereka jual adalah kaus, stiker, kaset, CD, fanzine fotokopi, dan emblem.

Di sini rekaman yang diproduksi secara pribumi dan impor dijual berdampingan; barang-barang penjual biasanya tidak dipisahkan berdasarkan negara asalnya melainkan digabung bersama, diatur berdasarkan abjad, atau tidak diatur sama sekali.

Sehingga hanya orang dalam dari kancah musik itu sendirilah yang dapat membedakan kaset grup asing dengan Indonesia, karena sebagian besar band underground Indonesia memiliki nama dalam bahasa Inggris dan gambar album mereka menggunakan ikonografi yang sama dengan album Barat.

Tentu saja, perbedaan mencoloknya terdapat pada harga kasetnya, meskipun stiker dengan logo band Barat biasanya bajakan dan harganya tidak lebih mahal ketimbang logo band Indonesia yang terkadang merupakan kopian ilegal.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Jermy Wallach, Musik Indonesia 1997-2001, hlm. 81-83. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee atau kontak langsung ke WA 081385430505

 

LEAVE A REPLY