Koes Bersaudra, Sukarno dan Spionase

0
197
Harian Rakjat milik PKI menyebut Koes Bersaudara “telah menjadi putera-putera Indonesia yang meninggalkan kepribadiannya.

Kalau ada yang paling bertanggungjawab atas penyebaran musik pop di Indonesia, maka tak salah lagi adalah Koes Plus. Pada 1958, Tonny Koeswoyo mengajak saudara-saudara sekandungnya mendirikan kelompok musik Koes Bros—dari kata Koes Brothers. Sebab terpukau Everly Brothers.

Tonny, meskipun sohor cerdas berbakat, tetapi nampak sekali menjadikan Everly Brothers pelabuhan awal visi musik Koes Bros. “Ia memaksa saben hari saya bersama Yok Koeswoyo menyanyikan lagu grup bersaudara dari Amerika yang sohor pada 1950 dan 1960-an itu,” kata Yon Koeswoyo dalam sebuah wawancara televisi.

Tetapi, setahun kemudian, pada 17 Agustus 1959, Sukarno menyampaikan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Ia menyebut tentang dekadensi yang tengah meluas. Tak terkecuali dalam kebudayaan dengan menunjuk musik sebagai contohnya: “rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansa-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la ngak-ngik-ngok.” Ini semua bagi Sukarno adalah “imperialisme kebudayaan” yang harus ditentang. Sekaligus juga dengan begini ia tengah membuka jalan seni, tak terkecuali musik, mengikuti komando revolusi.

Baca Juga:

  1. Budaya Event Bukan Konser Musik
  2. Ismail Marzuki: Musik, Revolusi dan Karakter Bangsa
  3. Ismail Marzuki dan Intel Cantik Belanda

Yon mengenang masa itu mengungkapkan, “Koes Bros di rumah di Jalan Mendawai III, Kebayoran, latihan lagu-lagu Everly Brothers dan musik barat lainnya, tetapi kala di atas panggung yang banyak dinyanyikan justru lagu berbahasa Minang dari Orkes Gumarang, seperti Laruik Sanjo, Kampuang Nan Jauh di Mato, Ayam dan Lape, dll.” Sampai di sini terasakan bahwa mereka tengah menjalani garis revolusi yang menitahkan “berkepribadian dalam kebudayaan”. Tetapi, mereka tidak membawakan lagu-lagu semacam Gumarang itu ketika pada 1962 masuk dapur rekaman atas jasa Soejoso Karsono pemilik Irama Record dengan Jack Lesmana sebagai supervisor studio rekamannya.

Namanya saja Koes Bros diubah menjadi Koes Bersaudara. Ini lantaran kata “saudara” dirasa lebih pas bunyinya. Sesuai pula dengan pesan “berkepribadian dalam berkebudayaan” Sukarno yang kian berdentam-dentam itu. Koes Bersaudara lekas menaik seiring menaiknya kampanye politik anti Nekolim. Sebagaimana banyak tercatat dalam buku sejarah justru dalam masa inilah Koes Bersaudara dianggap musik Nekolim. Dalam ulasan-ulasan sejarah itu disebutkan Koes Bersaudara—kemudian Koes Plus—sebagai korban pelarangan musik “ngak ngik ngok” yang berujung pemenjaraan mereka pada 1965.

Selain produktivitas dan kualitas musik nampak bahwa menjadi korban politik Sukarno menentukan kelegendarisan Koes Bersaudara. Tetapi, pada 29 November 2008, dalam acara Kick Andy Show “Mereka Bersatu” muncul pengakuan mengejutkan. Sejarah pun harus dikoreksi. Pemenjaraan itu hanya drama politik. Pengakuan serupa juga sudah diungkapkan pada 2004 dalam wawancara Yok bersama sejarawan Steven Farram yang meneliti musik zaman Sukarno.

Tetapi, saat di Kick Andy Show itu menjadi lebih kuat karena pengakuan tidak hanya datang dari Yok sendiri. Meskipun, tetap saja pengakuan itu diminta Yok yang menceritakan saat muncul pertanyaan pembawa acaranya, Andy F. Noya, “Mengapa sampai Koes Bersaudara di penjara?”

Seluruh anggota Koes Bersaudara saling tengok dan berbareng bilang, “dibuka ya, dibuka rahasianya”. Kamera kemudian mengarah kepada Yok yang mulai menjawabnya dengan berbalik bertanya kepada Andy, “seandainya Anda dibutuhkan oleh negara, apakah Anda sanggup?”

Andy menjawab, “harus sanggup”. Yok kontan membalas begitu juga Koes Bersaudara. Dekat pertengahan 1965, negara meminta Koes Bersaudara menjalankan tugas demi bangsa. Mereka direkrut dalam misi rahasia “mengganyang Malaysia” di negeri jiran itu sendiri. Saat itu, seperti dikatakan Denny Sakrie, mereka memang sedang di puncak popularitas. Tak terkecuali di Malaysia. Tetapi, agar mereka bisa lebih diterima dan dipercaya sebagai kawan senasib di Malaysia serta mudah menjalankan misi agen rahasia, maka dibuat drama yang memperlihatkan sebagai “korban kejahatan Sukarno”. Caranya adalah mereka harus dikutuki di media dan dijebloskan ke dalam bui.

Lantas drama Koes Bersaudara berdosa kepada revolusi pun berjalan. Pada 14 Maret 1965, Harian Rakjat milik PKI menyebut Koes Bersaudara “telah menjadi putera-putera Indonesia yang meninggalkan kepribadiannya, lalu bertelanjang bulat memamerkan kebandelan dan ketidakacuhan terhadap tanah air dengan revolusi dan kepribadiannya yang tinggi”. Sampai di sini, Sukarno nampaknya memanfaatkan kampanye Lekra melalui bagian musiknya yaitu Lembaga Musik Indonesia (LMI) yang semakin gencar menjadikan Koes Bersaudara sebagai simbol “penyebar musik kontra-revolusioner”.

Koes Bersaudara pun tiga bulan mendekam dalam penjara Glodok. Waktu yang cukup untuk media bekerja menciptakan suasana dramatis sehingga setelah dibebaskan mudah mencari jalan pindah ke Malaysia. Untuk menaikkan dramatisasi sandiwara ini pun dimulai oleh Sukarno sendiri. Ia berpidato di depan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) dan mengemukakan lebih tegas tentang musik “ngak ngik ngok” sebagai gejala sosial yang mencolok dari imperialisme barat serta harus diganyang dengan menyebut langsung sebagai contohnya Koes Bersaudara. Bahkan dikeluarkan Panpres No. 11 Tahun 1965 tentang pelarangan musik “ngak ngik ngok”.

Penangkapan Koes Bersaudara diset oleh Kolonel Koesno seorang pejabat militer yang menemukan dan merekrut mereka menjadi agen rahasia. Pada 28 Juni 1965, mereka diminta mengisi acara di rumah kolonel itu. Lagu-lagu “ngak ngik ngok” dari The Beatles yang sedang sohor saat itu agar dimita dibawakan. Belum berjalan lama lagu “I Saw Her Standing There” tetiba terjadi keributan. Di luar sejumlah anggota Pemuda Rakyat menimpuki atap rumah sang kolonel sambil menerikan “ganyang nekolim, ganyang manikebu, ganyang ngak ngik ngok!”

Proyek politik “Ganyang Malaysia” merupakan implikasi dari Perang Dingin yang dijalankan negara-negara Sekutu, terutama Inggris dan Amerika, untuk membendung bahaya komunis di seluruh dunia. Sukarno adalah salah satu yang dicap komunis dan sedemikian rupa ingin dihancurkan sebagai figur politik serta dijatuhkan dari kekuasaan. Sukarno mengendus Federasi Malaysia adalah bagian dari hal itu. Berdirinya Malaysia dianggapnya bukan semata hadiah Inggris, melainkan intrik-intrik dan siasat negara-negara imperialis untuk mengacaukan Asia Tenggara yang dianggap akan menjadi benteng terakhir kekuatan komunis.

Konfrontasi dengan Malaysia menaik sejak 16 September 1963. Saat itu Tunku Abdul Rahman, pemimpin terkemuka di Malaysia dan kemudian menjadi Perdana Menteri pertama, menyatakan: “Federasi Malaysia akan tetap diresmikan pada tanggal tersebut, terlepas hasil jejak-pendapat PBB atas Serawak dan Sabah bergabung atau tidak.” Masih pada tanggal yang sama, Sukarno mengumumkan Indonesia bersama Filipina tidak mengakui Federasi Malaysia secara diplomatik. Ini diikuti dengan saling serang kedutaan. Keadaan panas menuju titik api pun terasa di sekitar perbatasan Malaysia-Indonesia di Kalimantan.

Negara dalam operasi itu memang tidak menggunakan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sebagai personil yang paling banyak dikirim ke garis depan. Tetapi, pengerahan sukarelawan-sukarelawan di bawah nama Dwikora. Siapa sangka bahwa “sukarelawan Dwikora” itu pada 1965 termasuk di dalamnya adalah Koes Bersaudara. Mereka seperti banyak orang Indonesia saat itu ingin ikut—pinjam istilah Yok—“memenuhi panggilan negara untuk mengabdi”.

Penangkapan Koes Bersaudara kemudian dalam historiografi dirujuk sebagai contoh kediktatoran Sukarno. Bukan hanya para sastrawan yang diserang dan dipenjarakan, tetapi juga para pemusik. Kenangan ini diingat dalam setiap kilas balik sebagai pengekangan dan akhirnya kemunduran seni karena mengakibatkan kemandekan. Tetapi, benarkah demikian? Riset sejarah dan pengakuan beberapa musisi justru menggambarkan sebaliknya. Saat itu justru beberapa musisi menemukan blessing in disguise atau rahmat tersembunyi. Proyek politik “berkepribadian dalam kebudayaan” Sukarno dengan atau pun tanpa “drama” Koes bersaudara sebagai agen politik negara, ternyata membangunkan kreativitas kebudayaan.

Benyamin S saat itu berbalik pulang ke ranah musik tradisi Betawi dan melahirkan paduan gambang kromong Betawi yang nyaris mati dengan aneka jenis musik Barat serta orientasi kerakyatan yang kuat adalah salah satu contohnya. Upaya pulang dan menemukan “kepribadian” itu ternyata cepat atau lambat akhirnya menghinggapi banyak pemusik. Tak terkecuali Koes Bersaudara. Mulai 1967, di dalam musik mereka memasukan unsur keroncong dan dangdut. Termasuk menggali akar kultur Islam mereka dari Tuban melalui irama kasidah. Kemudian membuat seri musik etnis dari Jawa, Batak, dan Melayu.

Tentu saja Rhoma Irama. Ia pada akhir 1960-an membawa musik Melayu yang identik dengan Islam dan menjadi identifikasi kaum miskin kampung-kota dalam genre baru yang diorganisir ulang bersama rock yang glamour di bawah jargon “sound of moslem”. Terlebih lagi Rhoma juga membawa kerja-kerja seniman era Sukarno yang tidak memisahkan kerja kreatif dengan politik.

Perlu juga diingat, Sukarno pun tidak asal membuat larangan musik “ngak ngik ngok”. Ia yang dekat dengan seni menghimpun pemusik—Jack Lesmana, Idris Sardi, Bing Slamet, Titik Puspa, Rita Zaharah, Nien Lesmana, Munif A. Bahasuan, Buby Chen, Lody Item, dll—untuk diajak menggali khazanah musik negeri sendiri. “Pemimpin Besar Revolusi kita selalu menganjurkan agar kita berani berdiri di atas kaki sendiri, tentu anjuran beliau mencakup bidang musik pula…kita telah menemukan dan hasilnya memuaskan,” demikian tulis pemusik Sjaiful Nawas dalam catatan album Mari Bersukaria dengan Irama Lenso yang dirilis pada 14 April 1965.

Pada 29 September 1965, Koes bersaudara dibebaskan. Tetapi, sehari kemudian G30S 1965 terjadi dan bersamaan semua eksperimen politik Sukarno dihentikan. Termasuk mengganyang Malaysia. Tetapi, apakah para anggota Koes Bersaudara menyesal misi mereka berhenti di tengah jalan? Entahlah, tetapi yang jelas mereka adalah pengagum Sukarno. Dalam acara Kick Andy Show itu bahkan mereka mengubah judul lagu yang terkenal “Andai Kau Datang” dengan “Jasmerah”—satu frase yang terkenal dari Sukarno “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”. Lantas saat pertanyaan diajukan lagi oleh Andy: “Anda semua ini sudah dipenjara Sukarno, bagaimana keluarga Koeswoyo memandang presiden pertama kita itu?”

Yok menjawab, “Sukarno pemimpin besar”. Saking besarnya sehingga mampu membawa Koes Bersaudara lebih dari sekadar tidak memisahkan kerja-kerja kreatifnya dengan politik, malahan menjadi agen rahasia demi menjalankan agenda politik negara.


Lebih jauh baca:

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Hari-Hari Terakhir Sukarno karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Jakarta 1950-1970 karya Firman Lubisyang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee

Musim Menjagal karya Geoffrey Robinson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee

LEAVE A REPLY